Image for post
Image for post

Mulai setahun yang lalu, kami berikhtiar untuk memberantas rentenir di Yogyakarta sedikit demi sedikit semampu kami melalui sebuah program pemberdayaan berbasis pengajian bernama Kajianmu (Kajian Memberdayakan Umat). Singkatnya Kajianmu memberikan pinjaman kepada para jamaah tanpa bunga, tanpa jaminan, yang penting datang pengajian. Lebih dari 200 ribu orang di Yogyakarta menjadi korban rentenir setiap tahunnya, sebuah masalah yang pelik. Kajianmu ingin memberdayakan korban-korban tersebut melalui pengajian kami sehingga tidak ada lagi yang meminjam ke rentenir. Pada akhirnya rentenir akan musnah dengan sendirinya. Value offering dari rentenir tidak lagi relevan sehingga demand akan hilang.

Banyak yang menanyakan, mengapa formatnya pengajian?

Jawabannya sederhana yakni kami ingin semaksimal mungkin merujuk kepada Al-Qur’an atau Sunnah Rasulullah SAW. Kami ingin menjalankan sebuah inovasi yang dituntun oleh wahyu. Insya Allah karena tidak sekedar mengandalkan pengetahuan atau ego manusia tetapi mengandalkan petunjuk Allah, solusi yang dihadirkan bisa efektif. Ayat yang kami rujuk sebagai landasan teologis dari pendekatan Kajianmu adalah Surat At-Talaq 2–3. …


Image for post
Image for post

Sejak awal tahun 2016, tren kecenderungan rasio gini di Yogyakarta semakin memburuk. Menurut data BPS tahun 2017, rasio gini di DIY adalah yang paling parah di Indonesia. Pada semester II 2017 rasio gini mencapai angka yang mengkhawatirkan di angka 0,44. …


Image for post
Image for post

Bung Hatta dan sebagian generasi awal pemikir Indonesia menggagas sebuah konsep ekonomi yang menjadi jalan tengah dari dua arus utama sistem ekonomi liberalisme dan komunisme, yaitu ekonomi kerakyatan. Konsep ini meletakkan rakyat sebagai pusat dari pembangunan. Prof. Mubyarto mendefinisikan ekonomi kerakyatan sebagai ekonomi berasas kekeluargaan, berkedaulatan rakyat, dan memiliki keberpihakan yang jelas pada ekonomi rakyat. Dalam level operasional, ekonomi kerakyatan menekankan pentingnya gotong royong antara anggota masyarakat untuk membangun jejaring yang saling menguntungkan dalam keseluruhan rantai nilai (value chain) dari pra produksi, produksi, hingga pemasaran.

Sistem tersebut ingin menghindarkan terkonsentrasinya proses penciptaan nilai pada konglomerasi-konglomerasi besar yang hanya dimiliki oleh sekelompok pemodal pada sistem kapitalisme sehingga melahirkan kesenjangan dan problem endemik lain yang inheren dalam kapitalisme. Sistem ini juga disodorkan agar negara tidak memonopoli kegiatan ekonomi sehingga membunuh inovasi dan partisipasi proaktif masyarakat dalam kegiatan perekonomian yang terjadi dalam sistem komunisme. …

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store