Tomat

Hari ini saya melihat sebuah berita, mengenai petani yg sengaja membuang tomat-tomatnya ke selokan, sebagai bentuk protes akan rendahnya harga tomat yang mereka jual (hanya 200 rupiah per kilo). Rendahnya harga disebabkan karena hasil panen yang melimpah, sehingga supply jauh melebihi demand dan harga pun menurun drastis.

Logis memang jika ditilik dari ilmu ekonomi makro yang umum dipakai saat ini. Panen melimpah, supply melebihi demand, harga turun, pemasukan tidak sebanding ongkos produksi, petani merugi, petani sengsara. As simple as that.

Saya adalah orang yang awam dan tidak banyak mengerti ilmu ekonomi. Mungkin para pakar ekonomi akan dengan mudah menjelaskan fenomena ini dengan berbagai teorinya, supply demand, barang tak elastis, dan teori-teori lainnya. Namun kalau kita melihat dengan kacamata lain, dengan melupakan segala ilmu ekonomi dan teori-teorinya, dan melihat hal ini secara lebih mendasar, bukankah ini sesuatu yang aneh?

Bukankah panen yang melimpah seharusnya merupakan sesuatu yang patut disyukuri? Bukankah panen yang melimpah berarti produktivitas petani tinggi, dan itu merupakan balasan atas kerja keras mereka? Bukankah panen yang melimpah seharusnya menciptakan kebahagiaan, bukannya kesengsaraan? Bukankah zaman dahulu kala di berbagai kebudayaan banyak dilakukan ritual-ritual tertentu untuk memohon agar hasil panen melimpah?

Namun mengapa sekarang justru terjadi sebaliknya? Panen yang melimpah = kerugian, kemiskinan, kesengsaraan. Something must be wrong.