Mempelajari Ekonomi Dengan Utuh Bersama Vincent Ricardo — Kritik Terhadap Kritik Terhadap Kritik Saya

Keterangan: Seekor kodok memprotes intervensi negara di bidang ekonomi

Butuh waktu kurang dari enam jam bagi Vincent Ricardo untuk memberikan sanggahan terhadap kritik saya terhadap tulisannya yang berjudul Mendukung Privatisasi Pendidikan Tinggi dan Sesat Pikir Michael J. Sandel, yang dapat anda baca di sini dan di sini. Izinkan saya mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya terhadap kawan Vincent dan para pembaca budiman yang mengikuti polemik kami ini karena keterlambatan saya menulis tanggapan terhadap kritik kawan Vincent. Walau begitu, dengan jujur saya berkata bahwa tulisan kawan Vincent masih sedikit dibawah ekspektasi saya.

Tulisan kali ini tidak hendak membahas Student Loan secara komprehensif, karena suatu opini 1,500 kata tidaklah cukup untuk mengupas habis efek dan peranan pinjaman mahasiswa dalam tataran ekonomi makro dan mikro. Sejauh ini, argumen saya maupun kawan Vincent seputar pinjaman mahasiswa masih di tahap teori, hipotesa dan pengandaian; dengan memegang teguh nasihat kawan Vincent, saya setuju bahwa kita memerlukan suatu kajian yang lebih mendalam untuk memahami dampak kebijakan Student Loan. Oleh karena itu, tulisan ini tidak akan membahas poin tiga dan empat dalam tulisan kawan Vincent.

Sebaliknya, saya akan mengurai beberapa anggapan keliru yang dipegang kawan Vincent.

Return of Investment, perputaran uang, dan permintaan agregat

Kita telah bersepakat bahwa gratifikasi dari konsumsi produk pendidikan (tentu dengan asumsi dasar bahwa pendidikan dapat diperlakukan sebagai komoditas) memiliki jangka waktu yang lama — dengan kata lain, manfaat dari pendidikan tinggi sendiri hanya dapat dipergunakan dan memiliki nilai dalam pasar kerja setelah masa pendidikan tersebut selesai. Return of Investment dari keputusan seorang calon mahasiswa meneruskan ke pendidikan tinggi sendiri baru dapat diraup setelah melewati jenjang pendidikan yang panjang.

Saya berpendapat bahwa investasi yang demikian akan mengurangi daya beli mahasiswa pada jangka pendek-menengah, dengan asumsi bahwa daya beli mahasiswa pada umumnya, tanpa mengindahkan savings rate (persentase dari pemasukan pribadi yang masuk tabungan), berada pada kisaran yang sama. Dengan habisnya sebagian dari pemasukan pribadi untuk biaya pendidikan tinggi di awal semester, daya beli mahasiswa untuk enam bulan setelahnya berkurang. Atas dasar itu, saya menyatakan bahwa pengeluaran mahasiswa pada pendidikan tinggi tidak “memutar roda ekonomi”.

“Alih-alih melihat adanya perputaran uang dari sejak awal student loan diberikan tiap semesternya, Adrian malah menyatakan perputaran uang baru muncul ketika utang dibayarkan”.

Disini saya harus melakukan klarifikasi:

Harus diakui bahwa saya telah membuat generalisasi ceroboh dengan mencantumkan suatu entitas abstrak bernama “ekonomi”, padahal yang dimaksud di tulisan yang lalu adalah ekonomi konsumen. Apa itu ekonomi konsumen? Ekonomi konsumen adalah agregat permintaan dan persediaan consumer goods (barang konsumsi pribadi) di masyarakat, beserta segala rantai produksi, distribusi dan konsumsi yang menyertainya. Ekonomi konsumen merujuk pada produk-produk yang memberi gratifikasi instan dengan karakteristik perputaran uang yang sangat cepat. Dengan memosisikan mahasiswa sebagai salah satu pangsa utama dari komoditas yang memberi gratifikasi instan (contohnya, kopi, Indomie™, sikat gigi, jasa transportasi daring, gitar, pakaian, dkk.), kita mendapat gambaran sebuah sistem pasar yang didorong oleh permintaan domestik akan barang-barang sehari-hari. Daya beli mahasiswa yang tidak terbebani biaya pendidikan akan menciptakan permintaan untuk barang sehari-hari yang akan “memutar roda ekonomi”.

Tentunya, semua ini dibuat dengan asumsi bahwa sistem ekonomi ini tertutup — bahwa uang tetap berputar dalam lingkup “ekonomi” yang kita maksud.

Dalam tulisan terbarunya, kawan Vincent mengklaim bahwa tidak ada perbedaan yang berarti antara pengeluaran pendidikan dan pengeluaran untuk barang-barang konsumen. Baginya, “ roda ekonomi sudah berputar dikarenakan perputaran uang dari mahasiswa untuk membiayai tenaga kerja, karyawan dan meningkatkan atau merawat fasilitas”. Toh, bukankah universitas juga memiliki pengeluaran tersendiri? Bukannya UKT dan subsidi pemerintah langsung diinvestasikan kembali dalam pembangunan fasilitas baru, gaji dosen dan pegawai, serta berbagai pengeluaran sekunder?

Kata kunci disini adalah perputaran uang

Kawan Vincent berasumsi bahwa sebuah entitas sebesar perguruan tinggi, dengan jajaran luas birokrasi, dengan berbagai representasi kepentingan, memiliki perilaku pasar yang sama dengan individu yang dinamis, yang mencari gratifikasi instan, yang menerjang resiko dan ketidakpastian. Rupanya, kawan Vincent menganggap bahwa kecepatan perputaran uang (disini diartikan dengan bebas sebagai rerata pengeluaran) oleh institusi dan individu adalah satu dan sama, bahwa pengeluaran uang universitas, yang dimulai dari proyek besar seperti pembangunan dan perawatan fakultas, dapat bertransformasi menjadi pengeluaran pribadi untuk barang-barang konsumsi oleh buruh dan staf dengan kecepatan yang sama dengan pengeluaran pribadi mahasiswa dengan daya beli yang kurang lebih sama.

Klaim kawan Vincent pun dibuat dengan anggapan bahwa pengeluaran universitas sepenuhnya berada dalam sistem ekonomi yang tertutup — bahwa uang yang dikeluarkan universitas sepenuhnya habis untuk pembangunan fasilitas, perawatan gedung, dan gaji yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Anggapan ini menafikan bentuk pengeluaran lain yang tak kalah besar seperti hibah riset dan proyek antar-universitas, yang lebih bersifat investasi jangka panjang daripada konsumsi yang menimbulkan “perputaran roda ekonomi”. Luputnya waktu sebagai variabel penting dalam menghitung agregat permintaan yang diciptakan pengeluaran mahasiswa maupun universitas dalam “memutar roda ekonomi” menunjukkan kelemahan dari bantahan kawan Vincent terhadap poin awal saya.

Oleh karena itu, poin tersebut untuk saat ini masih valid, dengan sedikit catatan: Pengeluaran pribadi pada pendidikan tinggi tidak memutar roda ekonomi oleh akibat RoI yang lama tadi.

Memahami Monopoli dan Persaingan Pasar

Amat disayangkan bahwa kawan Vincent gagal memahami pemaparan saya mengenai monopoli intrisik yang dimiliki universitas atas informasi. Soal ini, yang hendak saya sorot adalah banyaknya tindakan yang dapat diambil universitas oleh akibat dari liberalisasi pendidikan tinggi. Kawan Vincent berasumsi (sekali lagi) bahwa kompetisi akan memaksa universitas untuk meningkatkan kualitas fasilitas fisik dan tenaga pengajar. Menurutnya, tiap-tiap universitas yang memiliki mutu baik pasti akan mempromosikan seluruh pelayanan yang dia berikan, sehingga tidak perlu ada kekhawatiran soal terbentuknya monopoli selama masih ada regulasi persaingan. Sifat persaingan usaha secara pasti memaksa universitas untuk berlomba memperbaiki mutu dan mempromosikan diri.

Kata kunci disini adalah mempromosikan diri

Sekolah bisnis mengenal istilah product differentiation (diferensiasi produk), yang merujuk pada teknik marketing untuk memasarkan produk-produk yang secara kualitas sebenarnya sama pada pangsa-pangsa yang berbeda. Seperti kata kawan Vincent dalam tulisannya, calon pembeli pendidikan mengenakan subjective value, atau memiliki persepsi yang berbeda, mengenai kualitas dan Return of Investment dari jalur pendidikan yang hendak mereka tempuh. Hasil dari promosi diri universitas ini berarti bahwa jauh lebih mudah bagi universitas untuk memasarkan dirinya pada satu pangsa yang tetap, berdasarkan berbagai atribut dan ciri-ciri yang tidak melulu sejalan dengan kualitas pendidikan itu sendiri, daripada bersaing dengan universitas lain pada saentero pasar mahasiswa yang luas berdasarkan jiwa kompetifif semata.

Hal ini membawa kita ke poin kedua, yaitu ranah atau landskap dimana pasar tersebut beroperasi. Karl Polanyi secara bijaksana menempatkan pasar sebagai institusi yang terkandung dalam masyarakat, bukan bertolak daripadanya. Corak budaya, tradisi dan geografi masyarakat memengaruhi struktur dan bentuk pasar pendidikan tinggi, sekaligus menelurkan pelaku-pelaku pasar utama. Keberadaan PTS berbasis agama, misalnya, adalah bentuk adaptasi terhadap kebutuhan mengamankan pangsa masyarakat. Pasar bukanlah cawan petri dimana bakteri secara bebas berkompetisi dalam kondisi yang terkendali. Sejak awal, pasar tidak berdiri di suatu lapangan yang hampa lagi datar, melainkan bumi dengan topografi budaya dan adat tersendiri.

Semua hal ini menafikan klaim bahwa pasar secara pasti mendorong universitas untuk berlomba menuju singularitas kualitas dan mutu.

Menyoal Social Overhead Capital

Sebelum meneruskan penjelasan ini, izinkan saya mengungkapkan rasa terimakasih sebesar-besarnya terhadap kawan Vincent karena telah mencantumkan tautan video ke permasalahan dan kontradiksi mazhab ekonomi Keynesian. Berikut saya sertakan bukti bahwa saya telah menghayati dan mempelajari video tersebut secara kaffah:

Keterangan: Komputer jinjing pinjaman dengan tangan penulis mengacungkan jempol di sisi kiri

Sayangnya, video tersebut tidak berhasil mengusir kepercayaan saya bahwa negara wajib menyediakan fasilitas fisik dan sosial agar pasar bebas bisa beroperasi. Setelah membandingkan kritik dalam video tersebut terhadap Mazhab Keynes dengan beberapa literatur mengenai pembentukan institusi pasar dan mode produksi kapitalisme sepanjang sejarah, saya masih jauh dari yakin bahwa pandangan liberalisme klasik tidak ahistoris.

Mungkin kawan Vincent bisa mencoba lagi.

Lalu, apa?

“Dalam membuat sebuah kebijakan publik, alangkah baiknya untuk memerhatikan output dari sebuah kebijakan tersebut, bukan dari itikad baik semata” — Vincent Ricardo

Kita patut mengapresiasi kawan Vincent karena berhasil menghadirkan diskusi mengenai alternatif pengadaan pendidikan tinggi di Indonesia dengan dewasa dan sistematik. Walau begitu, saya rasa sudah waktunya bagi kami untuk membawa diskusi ini ke ranah praktek dengan pembuktian empiris. Pun daripada itu, saya berharap bahwa dialog-dialog ke depan dapat menyembuhkan kaum Libertarian dan Liberal Klasik dari alergi akut terhadap Keynes dan Marx. Kita harus selalu mengingat bahwa sebuah kebijakan yang memiliki itikad baik tetapi memiliki output yang buruk tidak perlu lagi untuk dipertahankan.

Ditulis oleh Muhammad Adrian Gifariadi, Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada

Referensi

Hayek, Friedrich August, and Bruce Caldwell. The Road to Serfdom: Text and Documents: The Definitive Edition. Routledge, 2014.

Polanyi, Karl. The Great Transformation: The Political and Economic Origins of Our Time. Beacon Press, 2001.

Ricardo, Vincent. “Numbers ID | Mendukung Privatisasi Pendidikan Tinggi dan Sesat Pikir Michael J. Sandel”. Numbers.id. Numbers.id, 04 May 2017. Web. 05 May 2017.

Ricardo, Vincent. “Numbers ID | Mempelajari Ekonomi Dengan Utuh — Kritik Terhadap Tulisan “Melawan Privatisasi Pendidikan dan Sesat Pikir Vincent Ricardo”. Numbers.id. Numbers.id, 06 May 2017. Web. 07 May 2017.

Maulida, Putri. “Numbers ID | Ekonomi Klasik dan Ekonomi Neo-Klasik”. Numbers.id. Numbers.id, 06 May 2017. Web. 07 May 2017.