Beberapa Pemikiran terkait Usaha untuk menyatukan berbagai Departemen Arsitektur, kado manis dari Friedrich Gilly (1799)


tulisan ini diterjemahkan dan disadur dari : pustaka Mallgrave, H.F.(2005). Architectural Theory Volume I: An Anthology from Vitruvius to 1870. Oxford: Blackwell Publishing. (pp. 399–401) yang berawal dari tulisan Friedrich Gilly (1772–1800), from ‘‘Einige Gedanken über die Notwendigkeit, die verschiedenen Theile der Baukunst … zu vereinen’’ [Some thoughts on the necessity of endeavoring to unify the various departments of architecture in both theory and practice] (1799), trans. David Britt, in Friedrich Gilly : Essays on Architecture 1796–1799. Santa Monica: Getty Publication Programs, 1994, pp. 169–71. Reprinted with permission of Getty Publications.


(1)

Teori arsitektur di Jerman dimulai di Akademi Arsitektural Berlin atau Bauakademie. Sekolah yang sebagian besarnya diinisiasi oleh David Gilly (1748–1808), seorang arsitek Pomerania, Polandia yang diundang ke Berlin pada akhir 1780-an oleh raja Friedrich II. Sebelumnya David Gilly telah menjalankan sekolah swasta kecil untuk instruksi arsitektur, dan di Berlin pada tahun 1793 ia membuka kembali sekolah dalam bentuk instansi. Pada tahun 1799 diresmikan oleh putra mahkota, dan selanjutnya ditandai dengan kurikulum sekolah yang diatur oleh putra David Gilly, Friedrich. Seorang Gilly muda memulai belajar menggambar pada usia dini, dan dari bakatnya yang luar biasa tersebut ia memenangkan kompetisi sebuah monumen yang dipersembahkan untuk ‘Frederick Agung’ pada tahun 1796 dengan desain klasik. Friedrich juga tertarik pada hal-hal teoritis, dan terdorong dari kunjungannya ke Perancis pada tahun 1797. Ia bergabung dengan temannya Johann Heinrich Gentz pada tahun 1799 yang kemudian membentuk ‘Perkumpulan Terbatas Arsitek-Arsitek Muda’ –sebuah forum diskusi teoritis lewat presentasi dan saling memberi kritik. Pada tahun yang sama ia bergabung bersama sekolah ayahnya sebagai seorang profesor.

Esai ini diambil dari pedagogis dan fokus teoritis seorang Gilly. Beberapa halnya merupakan yang terpenting dari kurikulum sekolah, yang berbasis pada keteknikan. Gilly membantah dengan keras, seperti Kant dan Schlegel, arsitektur yang merupakan sebuah ilmu dan seni, dan dalam hal seni tersebut arsitektur memiliki nilai puitis yang lebih tinggi untuk memuaskan. Filsuf kepada siapa ia mengacu pada bagian ini adalah Karl Heinrich Heydenreich, tetapi penekanannya pada arsitektur sebagai seni rupa, tidak satu terikat sebagai tujuan yang sederhana, mendefinisikan tahap awal dari teori Jerman. Gilly melambangkan ‘artis era romantis’, dan satu tahun setelah penulisan esai ini ia meninggal secara tragis pada usia 28 karena penyakit paru-paru.


(2)

Pada saat ini beberapa komentar nampaknya akan berada dalam urutan mengenai perubahan ‘status arsitektur itu sendiri, terutama akhir-akhir ini’ : cara bagaimana arsitektur dianggap dan diperlakukan tentu mempengaruhi statusnya, yang mengarah kepada perbedaan pada hal-hal substansi dan pendapat, baik secara umum dan khusus yang sering saling merusak. Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa masalah ini dipengaruhi oleh banyak kepentingan umum.

Status arsitektur pada zaman kuno –terlepas dari berbagai kesulitan beserta setiap upayanya untuk menggambarkan itu– terlalu jauh bila dibandingkan dengan kondisi sekarang. Status atau hubungan arsitektur mungkin diawali dekat dengan ilmu, yang kemudian arsitektur berkembang secara alami beraliansi dengan ‘seni’. Namun kombinasi yang tak tertandingi antara pengetahuan dan bakat sajalah yang bisa menghasilkan kesempurnaan karya pada zaman tersebut.

Arsitektur menurun, tenggelam pada tingkatan ketukangan belaka, kondisi yang kemudian perlu diselamatkan. Akhirnya, negara yang merupakan tempat lahir dari semua seni secara beruntung menghasilkan arsitek yang kuat dan bersemangat, kepada siapa kita berhutang akan kelahiran kembali arsitektur dalam kapasitasnya sebagai seni. Sehubungan itu, bagaimanapun, pengajaran dan penyebaran arsitektur sejak itu menembuh jalur yang penting. Dengan penyebaran pembelajaran, arsitektur hadir untuk diperlakukan sebagai proses pencarian hal-hal ilmiah besar. Zaman manual (hand-operated) akhirnya dimulai. Matematika, khususnya, mengambil arsitektur sebagai sumber dan bahkan dianggap –bila hanya sebagai pelengkap– untuk memecahkan masalah selera. Ini tentu saja tidak mengakhiri keberadaan posisi ketukangan; dan untuk pertama kalinya arsitek muncul sebagai ’master builders’ dalam arti sebenarnya dan mampu menggabungkan keduanya (seni dan ilmu).


(3)

Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagai akibat dari perkembangan ini, salah satu aspek pokoknya yang akhirnya menderita dan tertekan; sebuah ’keberpihakan tunggal’ yang merusak, bukan dalam artian ’pemisahan’, mendominasi dalam gabungan seni dan ilmu yang selalu berfungsi ’serentak’ dan sebagai suatu ’entitas’. Akibatnya, praktek arsitektur datang untuk diatur oleh karakter dan metode masing-masing negara, atau dengan kekuatan keyakinan belaka, atau bahkan oleh mode; dan akhirnya hingga hari ini, dibagi menjadi varian nasional yang jarang bekerja untuk mencari manfaat.

Keingingan akan keseimbangan yang bernilai memberikan arah perkembangan yang lebih jauh lagi karena disebabkan oleh, pertama dan terutama, keberpihakan-tunggal; perubahan perilaku individu secara tiba-tiba ini; dan, yang paling buruk, proses perpecahan ini. Kejadian ini telah berlangsung di beberapa sekolah arsitektur yang berpredikat sangat baik; dan ingatkah pembaca sekalian dengan apa yang terjadi dalam hubungan ini, pertikaian sia-sia dan kontroversi antara arsitek akademik dan berbagai lawan-lawan mereka di Perancis dan Inggris, dengan segala konsekuensi mengerikan yang terjadi?

Bersamaan dengan sekolah seni memunculkan kritik seni dan formula teoritis; dan ini, apa pun nilai intrinsik mereka, disajikan untuk memperburuk permusuhan yang sedang terjadi. Dalam perjalanan memberlakukan klasifikasi umum, kritik dipaksa untuk memasukkan arsitektur; tetapi sistem yang ada secara alami secara kontroversial menganggap mereka berbeda. Arsitektur sudah sejak lama diakui sebagai pendamping sejati dari seni rupa; namun saat ini justru hadir untuk membela hak ini atau bahkan hak untuk menyandang sebutan seni. Setengah suara mengakuinya saat kongres seni, tetapi yang lain menolak secara penuh dari daftar, menyebut arsitektur hanya sebagai budak yang dipermalukan oleh kebutuhan dan kegunaan. Dan arsitektur datang hanya dianggap untuk mengejar hal-hal mekanis, dan hal tersebut merupakan subordinasi pertama yang satu kepada otoritas superior dan kemudian kepada yang lain : tugasnya adalah untuk melayani dan berguna.

Begitu kasar keputusan tersebut telah memaksa para kritikus yang lebih baru untuk meninjau ulang kejadian ini dan menyampaikan pendapatnya dengan kepala dingin; dan satu filsuf, dengan memberikan sebuah konsepsi yang sama sekali baru, telah menunjukkan bahwa –pada kondisi tertentu– arsitektur masih bisa ditarik kembali dari pengasingan dan dikembalikan ke hak lamanya. Di sekolah-sekolah dan diantara para arsitek sendiri, yang lama, ’kategorisasi-satu-sisi’ arsitektur tersebut bukan tanpa efek praktis. Keberpihakan-tunggal sering membawa perpecahan dan petaka pada proses pelatihannya; dari sebagian besar itu merupakan hasutan untuk melakukan perpecahan –dan bahkan, dapat dikatakan, untuk saling menghina.


(4)

Pada saat seni dan ilmu pengetahuan di mana-mana begitu erat bersekutu, ketertarikan masyarakat umum harus mendominasi, lebih-lebih saling-ketergantungan mereka meningkat; dan semua yang sadar dan berkeinginan bersama dengan niat baik harus pasti berusaha menuju tujuan ini. Dan, pertama-tama, harus secara yakin tidak ada lagi pembicaraan terkait perpecahan, benar-benar menentang hal tersebut untuk semua hasil yang berimbang, dengan jujur dan memberikan timbal balik pada dunia pendidikan, serta untuk kemajuan.

Manfaatnya dapat diperoleh bagi arsitektur hanya dan bila ketika setiap individu –sembari meningkatkan kemampuan dan bakatnya sendiri, dimanapun ini mungkin ada– secara bersamaan berusaha untuk memperbaiki dirinya pada arah yang lainnya : semakin sering, semakin dekat mereka dengan letak ketertarikannya sendiri. Ia akan menambah simpanan-pengetahuannya yang bermanfaat tersebut dengan mengikuti orang lain dalam pembelajaran yang kurang lebih terkait dengan kemampuannya sendiri. Paling tidak, kita mungkin yakin bahwa ia tidak akan menjadi orang asing untuk semua yang ada diluar bidangnya sendiri, dan ia akan menerima ketertarikan lain pada bidang tersebut; serta tidak seorangpun, saya percaya, akan berusaha untuk menyatakan bahwa menambah luasnya ketertarikan akan mengancam bakat atau kepentingan siapa pun.

Dengan cara ini saja memunculkan keterampilan yang unggul dan studi khusus dari salah satu yang membawa hasil bagi sekitar, memberikan pengaruh kepada mereka, serta memperoleh dari mereka hal-hal yang bermanfaat. Dimana-mana arsitek perlu belajar untuk menghargai ilmuwan, dan ilmuwan juga menghargai arsitek; arsitek, masing-masing dengan bakat-bakat tertentunya dan bakat bawaan, harus bekerja sama dengan saling menghormati; dan seharusnya tidak ada kebanggaan sia-sia dalam penandaan ’artis’ [Baukünstler : arsitek dalam bahasa jerman — star-architect] diantara mereka. Masing-masing harus mengulurkan tangan untuk keperluan gotong royong –lebih-lebih sebagai tujuan sebagai cita-cita bersama yang tumbuh semakin jauh dan lebih beragam.

Hanya dari sebuah persatuan tersebut dan dari pengaruh timbal balik seperti itulah kita dapat mengharapkan masyarakat umum menuju kesempurnaan, terutama karena hal-hal yang pada saat ini; dan untuk alasan ini tidak dapat diberikan terlalu cepat. Di atas itu semua, bila setiap sekolah menggabungkan seluruh bagian penting dan berelasi dengan disiplin ilmu yang luas, akan dapat memiliki dampak yang sangat berfaedah dan menyebarkan kebermanfaatan sebenarnya dari sebuah pembelajaran.