Aktualisasi diri atau Eksistensi Diri?

Seorang pengusaha muda pernah berkata kepada saya
"Kamu tau itu pengusaha muda yang sering nampil di publik yang dateng jadi pembicara di seminar seminar. Saya dulu datengin tempat usahanya buat liat liat. Dan kamu tau? Berantakan! Alat alat bececeran, pegawai ga terurus, kerusakan lama ga diperbaiki.
Ya begitulah, mungkin dia bukan lagi entepreuner. Tapi Starpreneur"

Wah betapa menohok sekali kata kata abang itu tadi di kepala saya. Sebuah fenomena yang sebenarnya sangat jelas di pelupuk mata kita terjadi namun kita mungkin terlalu takut untuk mengakui, karena kita mungkin salah satu pelaku yang mengikuti.

Aktualisasi diri atau eksistensi diri?

Poin kedua sepertinya lebih masif terjadi. 
Saya ingat betapa dulu banyak orang protes ketika aplikasi chat L*ne mengadakan fitur "share".
 " apaan deh jadi ga privat lagi. Kek fesbuk jadinya. Males ih"
 dan kalimat ketidaksukaan lainnya.
Namun sekarang, justru timeline saya ramai dengan orang yang share mengenai apa yang terjadi dengan dirinya. Orang sudah tidak lagi menulis sendiri mengenai apa yang sedang ia rasakan. Ia hanya perlu share akun akun yg menyediakan kata kata melankolis dan cengeng untuk memberitakan seluruh dunia kalau dia juga sedang cengeng.

Saya tidak menyalahkan ketika seseorang menyuarakan tentang dirinya. Hanya, menjadi muda hanya untuk menjadi ikan yang mengapung di permukaan, atau mendapat pengakuan sebagai "seseorang", merayakan hidup secara dangkal, dan hanya berhenti di permukaan, rasanya terlalu sia sia.

Eksistensi diri.
Saya kira kehausan akan hal ini muncul dari ketidakbijakan manusia memanfaatkan teknologi.
" mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat" hanya salah satu gejala, 
Hanya hidup di permukaan, tanpa menyelami kedalaman sungai dalam pemaknaan hidup, gejala apakah ini?
Jikalau iblis adalah instrumen Tuhan untuk menghalau manusia yang tidak layak untuk menyeberang ke ranah yang dekat dengan singgasana Tuhan, saya rasa tugas Iblis sudah kelewat mudah.

Materialisme.
Kata ini benar benar seperti bubuk mesiu yang meledakkan fondasi pikiran manusia. Meratakan tangga yang menuntun manusia menuju keEsa-an Tuhan, dan menghambat manusia untuk paham makna kehidupan.
Bukankah hidup itu lebih dari sekedar "mempunyai"?
Lebih dari sekedar pemenuhan keinginan materialistis.

Ya Tuhan kami, 
Mohon reinkarnasikan sekali lagi hambamu seperti Gandhi, Dalai Lama, Rumi, dan hamba penggiat makna hidup lain untuk sekali lagi muncul di generasi kami.
Dan semoga kau belum menekan tombol pemicu bom waktu selagi kami masih bernafas dan belum mampu untuk mendekatmu.

Aamiin.