Pelajaran Yang Kamu Dapat Dari Kemenangan Portugal dan Leicester City

Tahun 2016 ini dunia seperti dikejutkan dari banyak sejarah baru dari dunia sepakbola. Portugal yang secara dramatis menang dari Prancis dan Leicester City yang tanpa disangka-sangka bisa merusak dominasi the big four. Nah, karena kemenangan dramatis ini, kayaknya kita perlu mengambil pelajaran dari dua tim ini.

Consistency Does Matter

grafik perjalanan Leicester City

Leicester City membuktikan hal ini. Setelah nyaris turun kasta musim lalu, Leicester bersama Ranieri secara perlahan dan konsisten meraih kemenangan demi kemenangan. Bahkan Manchester City aja sempet dikalahin 3–1 sama tim ini.

pertahanan yang digawangi dnegan konsisten

Dibandingkan Leicester City, Portugal memang kelihatan ga konsisten-konsisten amat. Mereka cuma menang sekali di waktu normal di sepanjang Euro 2016. Tapi mereka konsisten tampil solid di pertahanan. Rui Patricio, Pepe dan bek-bek lain tampil konsisten mengawal gawang Portugal tetap bersih dari banyak gol yang nantinya bakal berujung kekalahan.

Know Your Self Well

tim ini emang kenceng-kenceng pemainnya

Leicester tau kalau mereka adalah tim tanpa bintang. Untuk itu satu-satunya cara supaya menang adalah dengan mengetahui kelebihan diri (dalam kasus ini adalah kecepatan dan serangan balik) dan memanfaatkannya semaksimal mungkin. Liat aja Vardy ama Mahrez, mereka itu pemain yang larinya kenceng makanya counter attacknya mulus.

semua pemainnya bermental baja

Portugal lain lagi. Tim ini memang cenderung mengandalkan Cristiano Ronaldo dalam setiap kesempatan. Tapi ingat, mental mereka oke punya dan itu juga kelebihan mereka. Sebelum final, mereka dikecam sana-sini karena penampilan yang buruk. Dihajar dengan berita negatif terus-terusan, mental mereka malah makin kuat dan sukses bikin Prancis sakit hati.

Take A Risk!!

budget kecil juga bisa juara

Leicester tampil di panggung Premier League dengan penuh resiko. Sebagai tim yang hampir terdegradasi, tim ini tentu susah dapat fresh money makanya nilai belanjanya cuma £54,4 juta (hampir setara harga transfer Kevin De Bruyne). Dengan modal segitu, tim ini nekat tampil ngotot di setiap pertandingan. Mereka ga main lemes-lemesan dan malah cenderung tampil berani.

Mirip sama Portugal. Di partai final, Portugal terlihat merana karena harus merelakan Cristiano Ronaldo ditarik keluar. Di menit 79, Fernando Santos juga berjudi dengan mengganti Renato Sanchez dengan Eder. Pelatih Portugal ini dengan berani mengambil resiko untuk memasukkan pemain yang ga terkenal sama sekali. Awalnya, semua orang tertawa tapi di ending, Eder membalik semuanya dengan indah.

Keberhasilan Portugal dan Leicester membuktikan kalau tidak ada yang mustahil dalam olahraga. Ilmu statistik ga kepake di sepakbola. Yang berperan penting itu justru faktor Luck. Sayangnya, Luck itu masih misteri. Ga ada yang tau gimana cara mendapatkannya. Tapi kita bisa meningkatka kemungkinannya dengan mencoba lebih banyak. Sedap.