Musik yang Gelisah

Gilang Kharisma
Jul 27, 2017 · 4 min read

Ada begitu banyak musik yang baik, dengan definisi mereka masing-masing. Beberapa orang berpendapat bahwa musik yang baik adalah ornamen bunyi yang ditata dengan apik dan rapi. Ada juga beberapa lainnya, termasuk saya, yang berpendapat bahwa musik yang baik adalah sebuah pesan yang disuarakan, di mana setiap nada yang dilibatkan mempunyai tujuan untuk memberi nyawa pada kalimat yang ada.

Karya apapun, mulai dari novel, film, hingga lagu, akan mudah menjadi besar ketika berhasil menciptakan efek keterikatan pada penikmatnya. Sense of relatedness tersebut yang memicu ada komentar “ini lagu/film/novel gue banget”.

Dan dengan alasan yang sama, saya menemukan alasan kenapa saya jatuh cinta pada Efek Rumah Kaca.

Pada dasarnya, saya adalah orang yang gelisah.
Kegelisahan itulah yang membuat saya suka membaca.
Kegelisahan itu pulalah yang mendorong saya untuk menulis.

Kegelisahan, yang membuat saya terus ingin mencari tahu dan memberi tahu.
Kegelisahan itu yang membuat saya peduli.

Hingga ketika saya bertemu dengan Efek Rumah Kaca, saya akhirnya merasa ditemani.
Bersama mereka saya merasa tidak sedang gelisah sendirian.

Bagi yang sudah pernah mendengar Efek Rumah Kaca tentu tau apa yang saya maksud. Dan bagi yang belum pernah mendengar lagu mereka, mari ijinkan saya menjelaskan tentang karya mereka, musik yang gelisah.

Setiap musik, entah sekecil apapun skalanya, tentu tetap ingin menyampaikan sesuatu. Namun tidak banyak yang berani menyampaikan itu selugas Efek Rumah Kaca. Mereka dengan luar biasa gamblang menyampaikan apa pesan mereka lewat lirik-lirik mereka. Mereka menyuarakan kegelisahan mereka pada banyak hal, dibalut dengan musik yang memang secara tepat memberi nyawa pada pesan-pesan mereka.

Mari simak lagu “Di Udara”. Sebuah lagu yang diciptakan sebagai pengingat atas kasus pembunuhan Munir, seorang aktivis HAM yang tewas diracun di pesawat dalam penerbangannya ke Belanda. Alih-alih menampilkan suasana sendu dan mengiba, Efek Rumah Kaca memberikan suasana berani dan tanpa kompromi. Karakter yang memang kuat melekat pada sosok almarhum Munir.

Mungkin bagi kita, apa yang terjadi kepada Munir mungkin bagi kita adalah sejarah. Sudah, dan hanya akan terjadi di era Orde Baru. Tapi sadarkah kita bahwa beberapa bulan lalu salah satu petinggi KPK, Novel Baswedan, hampir mendapat perlakuan yang sama? Wajahnya rusak dan pengelihatannya dipaksa hilang akibar siraman air keras. Efek Rumah Kaca menulis lirik lagu ini sekitar 10 tahun lalu, tapi pesannya masih relevan hingga hari ini.

Lagu lain, “Desember”. Salah satu lagu paling populer mereka ini bercerita tentang banjir besar yang melanda Jakarta di akhir tahun, selayak tamu yang rutin datang berkunjung. Sementara “Hujan Jangan Marah” adalah lagu yang membujuk hujan untuk tidak berlama-lama ngambek dan berhenti mengunci diri. Sebuah ode rayuan agar hujan lekas kembali ramah dan segera turun di daerah yang lama kekeringan.

Yang sesuai lagi dengan keadaan negara hari ini ada di lagu “Mosi Tidak Percaya”, yang menceritakan ketidakpercayaan publik pada lembaga pemerintah yang sudah terlalu sering berbohong dan memberi alibi payah. Sebuah lagu yang memberi ultimatum bahwa rakyat tidak bisa terus diperdaya dan rakyat tidak bisa dianggap tak berdaya.

Yang paling indah, ada di lagu “Putih”, yang menceritakan soal ada dan tiada. Sebuah perjalanan seseorang ketika ia akhirnya bertemu dengan kematian. Lagu ini dengan baik menggambarkan bagaimana kesedihan kita saat dalam perjalanan didalam mobil jenazah ke rumah duka, bagaimana suasana teduhnya ketika kita singgah dirumah untuk terakhir kali, dan bagaimana takutnya kita ketika akhirnya dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengharuskan kita untuk menjaga keterusterangan.

Lagu “Putih” berhasil menghadirkan sebuah pengalaman spiritual yang pekat meskipun tanpa embel-embel ‘lagu religi’. Dibanding Armand Maulana yang bergumam mencari pintu sorga atau Pasha yang mendayu-dayu memohon SurgaMu, bisikan “akhirnya aku usai juga” jauh lebih berhasil mengingatkan kita tentang adanya konsekuensi dari setiap tindakan, soal Tuhan, dan soal segala teka-tekiNya.

Ada banyak lagu lainnya dengan pesan mereka masing-masing. Seperti cerita seorang pekerja yang terus ditekan oleh atasannya hingga ia menjadi seorang robot pekerja di lagu “Kau dan Aku menuju Ruang Hampa”. Keprihatinan atas degradasi moral anak bangsa di lagu “Kenakalan Remaja di Era Informatika”. Kemarahan akan hilangnya beberapa aktivis di masa Orde Baru lewat lagu “Hilang”. Sindiran atas trend musik Indonesia yang selalu didominasi lagu cinta picisan di judul “Cinta Melulu”. Keresahan akan tidak terhentinya laju urbanisasi dan masyarakat yang berbondong-bondong ke kota besar di lagu “Banyak Asap Disana”. Atau nasehat untuk menikmati dinamika kehidupan dan berusaha mencari titik seimbang di lagu “Balerina”.

Setiap lagu Efek Rumah Kaca punya pesan masing-masing.
Setiap lagu Efek Rumah Kaca menyampaikan kegelisahan yang berbeda.

Tentu Efek Rumah Kaca bukanlah satu-satunya. Ada banyak lainnya yang tidak kalah nyaring dalam mensuarakan kegelisahan. Namun tema aktual yang diusung Efek Rumah Kaca dan bunyi-bunyian yang mereka hasilkan adalah kombinasi pas yang sesuai bagi saya.
Saya dengan mudah menemukan kesamaan dengan karya mereka. Menemukan keterikatan. Menemukan kenyamanan.

Dan tentu, saya tidak sendirian.
Tentu ada banyak lainnya yang sama gelisahnya dengan saya, atau bahkan jauh lebih gelisah.
Dan Efek Rumah Kaca adalah titik temu, penanda bahwa kita tidak sendirian.

Mungkin itu sebabnya mereka bisa berkali-kali menggelar konser tunggal dalam beberapa tahun terakhir, yang selalu padat dihadiri pendengarnya. Agak sulit dipercaya bagaimana sebuah band yang jauh dari sorotan radio dan televisi bisa tumbuh sedemikan hebat, menjaring penikmat dari berbagai umur, dan berhasil membuktikan bahwa pasar memang bisa diciptakan.

Rasanya Efek Rumah Kaca akan masih bersuara untuk waktu yang lumayan lama.
Selama masih ada kegelisahan itu, keinginan untuk berkarya secara jujur itu, dan semangat bermusik yang konsisten itu, rasanya Efek Rumah Kaca akan terus ada.

Dan saya, juga banyak lainnya, akan dengan sabar menunggu untuk mendengar kegelisahan-kegelisahan mereka berikutnya.

Gilang Kharisma

Written by

Arkham asylum resident.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade