Laki-Laki Tua Tanpa Nama di Bloomington

Catatan baca cerita pendek ‘Laki-Laki Tua Tanpa Nama’ dari Kumpulan Cerita Orang-Orang Bloomington — Budi Darma


Foto: Koleksi Pribadi

Hari Minggu, 21 Februari 2016 lalu, saya meminjam buku Orang-orang Bloomington karya Budi Darma di Perpustakaan I-Boekoe. Buku yang saya pinjam merupakan cetakan Metafor Publishing Jakarta (2004).

Saya tertarik membaca Orang-orang Bloomington karena sebelumnya santer terdengar kabar kalau buku ini akan diterbitkan kembali oleh Noura Books (Mizan Group). Sambil menunggu terbit, saya iseng mencari di Perpustakaan I-Boekoe, dan ketemu.

Ada 7 cerita pendek dalam Orang-Orang Bloomington. Saya baru menyelesaikan ‘Laki-Laki Tua Tanpa Nama’ kemarin sore.

Oh iya, sebelumnya saya menikmati karya-karya Budi Darma di Kompas Minggu saja. Saya belum pernah membaca karya beliau yang dibukukan.

Kembali ke cerita pendek ‘Laki-Laki Tua Tanpa Nama’, saya menyukai gaya bercerita Budi Darma. Sangat berbeda dari cerita-cerita pendek beliau yang saya baca di Kompas Minggu. Budi Darma sepertinya mengemas cerita pendek ini dengan gaya penulis-penulis luar. Dari setting, karakter, dan tentu saja alur, Budi Darma saya pikir telah berhasil membawa saya dalam suasana kota kecil Bloomington dan segala permasalahannya khas penulis-penulis luar. Saya suka!


Tokoh Saya adalah mahasiswa Universitas Indiana yang memilih daerah Fess sebagai tempat tinggalnya selama menempuh pendidikan. Dengan menyewa loteng rumah milik Ny. MacMillan, cerita hidup Saya di Bloomington pun dimulai.

Di Fess, hanya ada tiga rumah. Rumah milik Ny. MacMillan diapit oleh masing-masing rumah milik Ny. Nolan dan Ny. Casper. Ketiga nyonya tersebut sama-sama sudah lama menjanda. Selain sama-sama menjanda, ketiga nyonya tersebut sama-sama dingin. Tokoh Saya tidak banyak berinteraksi dengan ketiganya, bahkan dengan Ny. MacMillan, nyonya yang menyewakan loteng rumahnya.

Janganlah mengurusi kepentingan orang lain dan janganlah mempunyai keinginan tahu tentang orang lain. Hanya dengan jalan demikian, kita dapat tenang. [4]

Awalnya, tokoh Saya memang bisa menjaga diri untuk tidak berusaha masuk ke dalam kehidupan ketiga nyonya tersebut. Sampai ketika makin lama hari makin pendek, matahari makin terlambat terbit dan makin cepat terbenam, dan kemudian daun-daun menguning, lalu berdikit-dikit rontok. Hujan juga sering datang, kadang-kadang diantar oleh kilat dan halilintar. kesempatan tokoh Saya keluar rumah pun makin tipis. Dalam keadaan seperti itulah tokoh Aku mulai memperhatikan Fess terutama ketiga nyonya yang tinggal di sana.

Tokoh Saya memperhatikan kebiasaan-kebiasaan ketiga nyonya tersebut. Ny. Nolan yang sering menganiaya bahkan tak segan-segan menghabisi binatang-binatang yang berani masuk ke pekarangan rumahnya dan Ny. Casper yang memiliki penyakit yang setiap saat bisa tiba-tiba menyerang dan mengharuskannya cepat-cepat ke Rumah Sakit.

Hingga suatu hari, ada seorang laki-laki tua yang menyewa loteng rumah Ny. Casper. Laki-laki tua tersebut tidak bernama. Ny. Casper tidak mempedulikan tentang nama selama laki-laki tua tersebut membayar tunai uang sewanya. Maka, tokoh Saya seperti menaruh harapan bahwa akan ada yang menjadi temannya selama ia tinggal di Fess.

Sayangnya, laki-laki tua yang tak bernama itu — yang katanya adalah seorang veteran Perang Dunia Kedua — rupanya juga tidak tertarik untuk menjadi teman tokoh Saya. Maka, lagi-lagi yang bisa dilakukan tokoh Saya adalah memperhatikan laki-laki tua itu dari jendela kamarnya, seperti ia memperhatikan nyonya-nyonya itu.

Dari memperhatikan tersebut, tokoh Saya menangkap hal-hal yang menurutnya berbahaya. Laki-laki tua tak bernama itu rupanya menyimpan pistol yang kerap dimain-mainkan ke suatu arah. hal tersebut pernah disampaikan baik ke Ny. MacMillan, Ny. Nolan, bahkan Ny. Casper. Tak lain, karena tokoh Saya begitu khawatir akan hal-hal berbahaya yang mungkin akan terjadi.

Sampai menjelang malam, tokoh aku melihat Ny. Casper terburu-buru pergi dengan mobilnya. Ia tampak tidak sehat. Dan, beberapa saat kemudian terdengar suara tembakan.


Saya benar-benar larut dalam cerita pendek ini. Alur dan karakternya dengan sangat detail diceritakan Budi Darma selayaknya novel-novel terjemahan yang sering saya baca. Selain itu, endingnya benar-benar manis sesuai yang saya prediksikan. Menurut saya, ini adalah cerita pembuka yang bagus untuk buku Orang-Orang Bloomington. [ ]