Menaksir Waktu Terbaik untuk Bunuh Diri

Dunia pernah dibuat heboh ketika seorang pemabuk bandel yang meraih banyak penghargaan, termasuk Nobel Sastra pada tahun 1954 lewat novelnya yang saat itu baru beredar dua tahun di pasaran, menembak kepalanya sendiri dengan senapan.

Bukan perkara sepele: ia depresi lantaran merasa kehilangan keterampilan menulis. Pada tanggal 2 Juli 1961, sembilan belas hari sebelum merayakan ulang tahunnya yang ke-62, ia bunuh diri dengan cara yang tragis.

Penulis flamboyan itu—ada sebuah anekdot mengatakan untuk menulis novel yang hebat ia butuh teman tidur yang berbeda-beda—adalah Ernest Hemingway. Buku pertamanya yang saya baca adalah buku terakhir yang ia tulis, The Old Man and the Sea (1952).

Hemingway tentu bukan satu-satunya penulis yang depresi dan mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Baik sebelum maupun sesudah pemabuk kontroversial ini, ada banyak penulis hebat lainnya yang mengalami hal serupa, meski memilih penyelesaian yang berbeda.

Sylvia Plath, misalnya, pada 1963, dua tahun pascakematian Hemingway, seseorang mendapati Plath sudah tidak bernyawa di dapurnya. Penyair ini, entah apa yang ia pikirkan saat itu, memasukkan kepalanya ke dalam oven. Konon ia sudah berjuang melawan depresi selama nyaris tiga belas tahun.

Dua dekade sebelum Hemingway bunuh diri, pada 1941 ketika Perang Dunia II berkecamuk di Britania Raya, seorang pria menemukan gadis yang sudah tewas di Sungai Ouse. Gadis itu adalah istrinya sendiri, Virginia Woolf, novelis yang menghilang selama tiga minggu sebelum mayatnya ditemukan. Woolf diduga bunuh diri gara-gara putus asa melihat tanah airnya yang diinvasi oleh Jerman.

Sarah Kane, penulis naskah drama yang gemar membawa tema cinta, seks, kekerasan, dan pembunuhan, pada tahun 1999 mati dengan cara yang tak kalah horor. Ia gantung diri di kamar mandi di Rumah Sakit King’s Collage, setelah dua hari sebelumnya menelan obat-obatan dengan dosis berlebihan—sejumlah sumber menyebutkan 200 pil.

Daftar di atas masih bisa dibuat lebih panjang, dengan nama dan tahun dan cara mati yang kian beragam, tetapi saya kurang tertarik menulis obituarium. Intinya, keempat nama besar yang barusan saya sebut, meskipun bunuh diri, mereka telah menciptakan karya-karya hebat yang memengaruhi pikiran banyak orang.

Kita tentu bisa saja mengatakan, “Ah, mereka cuma sekumpulan orang sinting yang mati konyol dan tidak mensyukuri hidup sebagai nikmat Tuhan!” kalau mau. Namun, toh, tindakan itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa mereka telah membuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Sementara itu, kita, para homo sapiens kontemporer yang bukan siapa-siapa, yang barangkali berharap akan mati dengan cara sedikit lebih terhormat dan harum dan suci dan elegan, ironisnya malah belum (atau mungkin tidak akan) membuat apa-apa.

Hal itu memang tidak menjadi sebuah keharusan, tetapi, meminjam dan memodifikasi penggalan puisi Mary Oliver, “Jika berakhir sebagai seorang yang sekadar mampir, untuk apa kita terlahir?”

Kita mungkin malas memikirkan pertanyaan yang tampak yaelah paansih itu dan lebih senang mengutip kata-kata bijak semacam “Let it flow like the water”. Jika benar demikian, berarti persoalan tersebut menjadi semakin penting.

Musibah semacam inilah yang mewabah di kehidupan kita: tidak mau pusing memikirkan tujuan secara matang, sehingga memandang sebuah kegunaan bukanlah sesuatu yang perlu dipertimbangkan. Hasilnya, tentu saja, bisa kita saksikan di mana-mana.

Di Twitter, umpama, kita bisa dengan mudah menyaksikan sejumlah politikus yang gemar beradu sindir dengan followers (saya sengaja memilih followers alih-alih penggemar atau pengikut) hampir setiap hari, seolah-olah mereka menganggap segala kritikan cuma bisa dibalas dengan sindiran. Sungguh teladan.

Ketergantungan berpikir dan mengambil jalan praktis seperti itu tidak hanya berlaku di persoalan remeh dan personal, tetapi sering terjadi juga pada perkara besar di ranah sosial.

Di dunia industri, misalnya, kita bisa menengok catatan sejarah bahwa buku-buku dan film-film yang berisi hal-hal tabu atau inpopuler kerap dilarang untuk beredar. Entah sudah berapa banyak buku yang dianggap sesat habis dibakar. Para pembakar buku ini mungkin lupa, menjauh dari ilmu adalah cara paling mudah untuk menjadi bodoh.

Beberapa bulan lalu ada film bertema LGBT yang ditolak dan dicaci habis-habisan, dengan dalih dapat membawa pengaruh menularkan penyimpangan seksual. Sebuah pandangan yang, selain aneh, mudah diputarbalikkan: dengan logika yang sama, apakah orang-orang LGBT yang menonton film heteroseksualitas akan otomatis “sembuh”?

Dalam skala yang lebih besar, urusan hukum, kita juga bisa dengan gampang melihat orang-orang yang (dianggap) bersalah kerap diperlakukan tidak adil. Ketimpangan kekuasaan semacam ini, kita tahu, tidak perlu terjadi seandainya semua orang mampu bersikap dewasa dan berpirkir kritis.

Bencana kita yang lain: lantaran tidak terbiasa mengurus diri sendiri, kita menjadi gagap berkooperasi. Jangankan bekerja sama, berdiskusi saja sering kali kita tidak bisa. Anehnya, kita tampak gemar memaksakan diri untuk membuat sebuah gerakan besar yang seolah-olah sudah mampu kita lakukan. Pertanyaannya, kenapa kita seangkuh itu?

Materi lawak tunggal dari George Carlin mungkin bisa menjadi salah satu jawabannya. Pak tua mahalucu yang menyenangkan (semoga di alam kubur ia tetap menghibur) asal Amerika Serikat ini, pernah membuat materi ihwal egosentris manusia.

Menurut Carlin, kita adalah makhluk yang terobsesi menjadi pahlawan. Kita semacam punya panggilan dari dalam diri untuk bergerak menyelamatkan apa pun, termasuk hal-hal yang kita pikir akan tercancam punah.

“Kita egois dan suka merasa sok penting,” kata Carlin dengan dingin. Lalu ia bilang, mulai sekarang semua orang akan menyelamatkan sesuatu. Menyelamatkan pohon, menyelamatkan lebah, paus, hingga seekor siput.

Ia memasang ekspresi seperti hendak menyampaikan kabar buruk, sebelum lanjut mengatakan, “Dan, puncak dari kesombongan kita adalah ingin menyelamatkan bumi.”

“Apakah orang-orang ini bercanda?” Kali ini ia memasang wajah menyindir. “Mengurus diri sendiri saja kita tidak tahu caranya. Kita tidak pernah belajar untuk peduli satu sama lain, dan sekarang kita ingin menyelamatkan sebuah planet? Astaga!”

Carlin, secara sarkasme, mengatakan bahwa sebelum membenahi yang di luar, bercerminlah dahulu pada apa yang di dalam. Namun, untuk mau dan mampu introspeksi, malangnya, tidak segampang mencari-cari kesalahan orang lain.

Arthur Schopenhauer, seorang filsuf termasyhur abad ke-19, mengatakan bahwa saat menyadari pendapat kita berbeda dengan orang lain, reaksi pertama yang kita lakukan ialah menganggap orang lain keliru, bukan mencari kesalahan dalam proses berpikir kita sendiri. Dan sebaliknya, ketika menemukan pendapat yang sejalan, meski melenceng, kita akan dengan senang hati mengamininya.

Kelalaian yang lain: terlalu sering buru-buru mencari dan berhenti di “siapa yang salah?” saat menghadapi sebuah masalah (dan malas menelaah berbagai “kenapa?”). Kebiasaan ini, selain tidak betul-betul menyelesaikan persoalan dan cenderung menumpulkan penalaran, juga tidak bagus untuk kesehatan.

Kebiasaan-kebiasaan buruk seperti itulah yang menyebabkan kenapa ada banyak pertikaian tidak penting menjadi tampak penting di internet, atau kenapa ada banyak orang yang sukar mendengarkan pemikiran dan pandangan orang lain di mana-mana.

Dan, itu pula yang menimbulkan kenapa ada banyak hal aneh di sekitar kita. Hukum yang acap kali tajam ke bawah dan tumpul ke atas; berbagai lembaga yang kurang mumpuni; orang-orang dewasa yang tidak becus berpikir dan bekerja; sejumlah media yang senang mengutuk generasi anak muda.

Hal-hal di atas terdengar klise? Ya, sebab saya memang hanya mengulang apa-apa yang telah sering kita bicarakan, tetapi tidak pernah betul-betul kita selesaikan.

Pada akhirnya, begitulah. Setiap hari kita merasa sudah mempelajari dan menguasai dan menyelamatkan hal-hal baru, tetapi luput menyadari bahwa sebetulnya kita tidak pernah benar-benar menuntaskan satu pun persoalan. Mengharukan.

Akan tetapi, jangan berkecil hati, apalagi sampai berniat bunuh diri. Seorang pak tua lain yang menulis Congratulations, by the way: Some Thoughts on Kindness (2014), pernah membagikan pemikiran inpopuler yang barangkali cukup untuk meredakan separuh rasa bersalah dan bersedih diri kita.

Dialah sang mahabijak George Saunders, juru selamat kita semua. Dalam pidatonya yang kelak dicetak menjadi buku itu, Saunders mengatakan ada tiga manfaat orang tua bagi anak muda, yakni (1) meminjamkan uang, (2) menjadi bahan tertawaan, dan (3) menceritakan hal-hal yang mereka sesali dalam hidupnya meski tidak diminta.

Pertanyaannya kemudian: kapan seseorang mulai bisa dikatakan tua? Menurut klasifikasi kelompok manusia yang dibuat oleh WHO, kita bisa menyandang label tersebut setelah menginjak dan melewati usia 46 tahun.

Berarti, apabila masa muda kita sudah habis sebelum sempat membuat sesuatu yang berguna tetapi sanggup hidup sampai usia 46, setidaknya masih ada peluang bagi kita untuk mengamalkan “tiga pilar cara menjadi orang tua yang bermanfaat” versi Saunders.

Namun, jika setelah melewati usia itu kita malah tambah parah karena menjadi kikir, menolak ditertawakan, sekaligus ogah berbagi kisah penyesalan yang pernah kita lakukan, nah, barangkali itulah waktu yang tepat bagi kita untuk segera menyiapkan tanah makam.

--

--

--

Blog: gipsterya.com

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Gigip Andreas

Gigip Andreas

Blog: gipsterya.com

More from Medium

Illest Villain: The Brilliance of MF DOOM

2022–05–25 Asia morning update ($SPX breakout to the upside?)

Introducing the Bored Breakfast Club Newsletter

DONT BE A PUPPET

DONT BE A PUPPET