Late Epiphany

Pertemuan pertama tidak selalu istimewa. Hanya saja, namanya sudah cukup sering menghias udara yang ku hirup sambil bertanya-tanya – kenapa juga mereka begitu sering membicarakannya di hadapanku? Tentang nuansa kami yang dinilai serupa, yang kemudian menggiring asumsi perihal betapa baiknya jika kami bersua. Sampai akhirnya terlaksana dengan mudahnya; perbincangan bergulir, gelak tawa mengalir. Sewajarnya. Sebagaimana mestinya. Tidak ada yang istimewa, kecuali parasnya yang sedikit mengingatkanku pada seorang kawan lama. Selebihnya, tidak banyak yang sempat ku perhatikan, kecuali diksinya yang sulit dicerna, teduh dan kelam sekaligus pada lagu-lagunya. Serta caranya menaruh puntung rokok di lengan kursi hingga perciknya meringkih, atau betapa ia menyukai banyak hal yang membuatnya tidak nampak belia jika dibanding kawan-kawan sebayanya.

Jika ada yang kebetulan memergoki letupan di kedua mataku selagi menyimaknya bicara, mereka tidak salah lihat. Namun yang saat itu (ingin) aku percaya ialah, bahwa getaran yang muncul dengan mudahnya ialah getaran yang paling rentan menghilang. Tidak akan menjadi kesungguhan. Karena tidak ada yang istimewa dari caraku menyukai seseorang. Barangkali, naif dan kekanak-kanakkan? Mungkin lebih mudah menyebutnya demikian, sehingga aku tidak perlu repot-repot menjelaskan, bahwa tidak setiap orang dapat dengan mudahnya meyakini hal-hal yang mereka rasakan. Dan tidak setiap orang memiliki kepercayaan diri untuk menggerakkan hati seseorang.

Tidak ada yang istimewa selagi ia ribuan mil jauhnya. Hanya saja saat itu aku sedang gemar-gemarnya mengemudi seorang diri tanpa tujuan pasti. Dan tiada teman terbaik selain lagu-lagu yang meneduhkan, meringankan, dan belum terbumbui ingatan macam-macam. Aku terus mencari dan mencari, melewati sekian banyak lagu yang sudah terlalu menjenuhkan untuk diresapi. Sampai tiba giliran suaranya. Menggema dan menyeruak ke tiap lekuk ruang yang ku singgahi di balik kemudi. Sejak saat itu, entah berapa banyak ruas jalan yang telah kulewati bersama nada-nadanya yang sesekali ku bagikan pada langit, dengan membiarkan syairnya beterbangan lewat jendela yang ku biarkan terbuka menemui matahari senja. Ganjil teramat ganjil. Saat berbagai macam intimasi membuatku merasa pening dan terasing, justru lelaguannya berhasil menyelamatkanku berulang kali. Yang membuat hal-hal sederhana menjadi istimewa ialah soal ketepatan waktu, barangkali? Aku selalu ingin berterimakasih, namun entah bagaimana.

Mempelajari dan menyimpulkannya melalui kisahan bukanlah pilihan bijaksana. Sekembalinya ia, aku tidak dapat berbuat banyak selain memilah-milah ketidakmungkinan. Aku melarang diri untuk tersenyum atas kebaikan-kebaikan kecil yang dilakukannya. Aku melarang perasaanku bertumbuh, tapi juga enggan membiarkannya gugur. Kemudian entah bagaimana, perasaanku kian merimbun meski tidak pernah dialiri apapun. Letupan-letupan, degup jantung tak beraturan, dan telapak tangan yang dibasahi keringat dingin, kian menjelma menjadi sebuah keinginan sederhana; untuk merawat dan melindungi. Namun seperti udara yang tak ternaungi, keinginan-keinginan itu tidak pernah cukup gigih untuk menjejakkan kaki dan menyuarakan diri. Sebab biar ku ulangi, tidak ada yang terlalu istimewa dari caraku menyukai.

Bermalam-malam setelahnya, saat kebetulan dengkuran kecilnya begitu dekat di telinga, aku mengusapi punggungnya sambil mengira-ngira berapa banyak lampu jalan yang terlewatkan selagi aku mengedipkan mata. Juga tentang seberapa banyak kemungkinan-kemungkinan yang termentahkan, pertanda-pertanda yang terabaikan, kesempatan-kesempatan yang terlewatkan, juga barikade-barikade yang telah ku bangun dengan keras kepala. Lama, aku mengusapi punggungnya seolah dengan begitu pikiranku mampu terhantar meski tanpa sepatah kata.

Dan pada akhirnya, persis seperti katanya; tidak ada lampu jalan, tidak ada selai roti, tidak ada tinta merah. Semua hanya sebatas angan-angan yang hanya layak mencukupi fiksi. Semua sudah terlanjur. Tapi tidak ada yang salah. Tidak ada yang dapat dipaksakan. Dan setidaknya aku telah meluap. Meski hanya sekali saja. Selebihnya, tidak perlu lagi berpura-pura. Tidak ada lagi yang mesti disembunyikan. Tidak ada pula yang harus buru-buru dihilangkan.

Sebut saja semesta tidak memberi jalan, begitu kan?