Tribute to Chairlift

Untuk musik dan nyanyian, di dalam diri saya terdapat ruangan maha luas yang bisa berekspansi untuk menampung dan menyerapnya. Ada pula ruang-ruang eksklusif yang dipadati nama-nama musisi, grup band, dan lagu-lagu kesukaan, yang pada umumnya saya tempatkan karena satu alasan; saya menemukan diri saya di dalam mereka.

Saya menemukan diri saya di dalam lagu-lagu yang ketika saya dengarkan membuat saya tercenung dan bergumam sendiri; wait, I was going to say this before... Saya menemukan diri saya pada lagu-lagu yang membuat saya merasa terwakili, yang pada akhirnya merajuk saya untuk membuat sesuatu yang lebih orisinil. Saya menemukan diri saya pada lagu-lagu yang pada akhirnya, membuat saya berkeinginan untuk lebih terampil 'mendengarkan' diri sendiri.

Di antara banyaknya genre musik yang saya nikmati, elektro-pop menjadi salah satunya. Sekitar tahun 2010, nama Owl City sedang amat melejit dan saat itu saya terpincut oleh lirik-liriknya yang manis. Selain itu, saya juga jadi getol mendengarkan Homogenic semenjak menemukan lagu-lagunya dalam sebuah film independen. Sampai akhirnya saya menemukan lagu-lagu milik Chairlift, duo elektro-pop asal Amerika di galeri handphone kakak saya.

Bruises adalah lagu pertama yang saya dengar. Ketukan drum pad membuka lagu dengan segar, disusul suara Caroline Polachek yang mengalir lembut tetapi tangguh, berhiaskan nada tinggi yang atraktif dan layak menjadi candu. Lalu saya menelaah liriknya, dan terkagum-kagum sendiri dengan bagaimana Caroline mengungkapkan rasa frustasinya in a very very cute way.

Sejak saat itu saya mulai menggali lebih banyak, dan lagu-lagu Chairlift pada akhirnya menjadi kawan setia yang menemani saya di bermacam suasana. Hingga di April 2017 lalu, Chairlift menggelar konser terakhir sebelum dua personilnya memutuskan untuk berjalan masing-masing. Saya amat berkabung atas keputusan itu. Terlebih karena menghadiri konser Chairlift merupakan salah satu poin dari wishes-list saya yang belum kesampaian.

Di antara banyaknya lagu Chairlift yang saya dengarkan, saya sudah menyiapkan lima lagu favorit yang ingin saya rekomendasikan untuk siapapun yang membaca, terutama jika kalian juga menggemari musik elektro-pop. Dan siapa tahu, seperti saya, kalian juga dapat menemukan diri kalian di dalam lagu-lagu berikut ini.
So here it is!!

1. BRUISES — Does You Inspire You/2008
Tentang mencintai seseorang terlalu banyak sampai di titik dimana kamu memaksakan diri untuk melampaui dirimu sendiri.
Best time to listen: di perjalanan pulang, sehabis pertengkaran-pertengkaran kecil. After effect: ingin berjingkat-jingkat dan mencoba-coba handstand untuk membuyarkan penat.

2. I BELONG IN YOUR ARMS — Something/2012
Another catchy song to bounce for. Sebuah lagu sederhana tentang mencintai sebanyak-banyaknya tanpa takut menyesal.
Best time to listen: saat siap-siap di kamar sambil menunggu kabar atau jemputan kencan. After effect: ingin bergelayut di lengan seseorang.

3. COOL AS A FIRE — Something/2012
My another favorite break-up song. Mengingatkan kamu tentang fakta bahwa perasaan setiap orang memiliki masa berlaku yang berbeda-beda.
Best time to listen: sebelum tidur, sambil mengompres mata bengkak. After effect: hidung mampet dan kehabisan tissue.

4. GHOST TONIGHT — Something/2012
When you can’t deal with ignorance from people who matters to you and you choose to be invisible instead.
Best time to listen: sehabis mengaktifkan airplane mode dan berhenti menanti balasan pesan. After effect: ingin menggentayangi malam seseorang.

5. CRYING IN PUBLIC — Moth/2016
Sejujurnya saya tidak punya alasan lain selain, it’s actually one of my real break-up songs. 😂😂😂
Best time to listen: setelah menangis di tempat umum. After effect: efektif meredakan rasa malu karena saya tahu, even Caroline Polachek was crying in public too and it’s okay because she looked so cool on ‘Crying in Public’ music video. ((Maksa))

Terlepas dari interpretasi singkat yang saya selipkan, masing-masing dari kita pasti punya cara tersendiri untuk memaknai lagu yang kita dengar. But we tend to attracted by something that related to ourselves, don’t we?

Well, selamat menemukan diri bersama Chairlift!^^

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.