Tentang Kami, Boneka Tali dan Menua

Ketika kami terlahir, kami tidak menggerakkan tubuh kami dengan sadar. Kami bahkan belum sadar akan keberadaan kami. Yang bisa kami lakukan hanyalah menangis, dan sedikit menggerakkan jemari kami. Sesekali kami menguap, dan kami tidak mengerti kami ini apa.

Beranjak belia, kami mulai menggerakan tubuh kami semaunya. Kami memiliki kontrol pada tubuh kami sepenuhnya. Sayangnya orang-orang dewasa membatasi gerak kami, dengan label tak kasat mata yang menjustifikasi siapa kami. Alasannya agak tak masuk akal, ialah demi kebaikan kami, dengan mengarahkan mana yang baik, mana yang buruk bagi kami. Padahal mereka bukan kami. Namun karena mereka lebih dewasa, kami hanya menurut, seperti boneka tali, berperan sebagai anak baik. Kabar baiknya sebagian dari kami menjadi anak nakal. Walaupun sebagian besar dari kami menjadi anak baik, atau sekedar boneka tali, kami melangkah dan bergerak sesuai pengen dali kami.

Beranjak remaja, sebagian dari kami memberontak. Kami menggembor-gemborkan kebebasan, menuntut keinginan kami dipenuhi tanpa turut campur orang dewasa. Kami akan melakukan apa yang akan kami lakukan dan inginkan, dan kami tidak peduli orang lain. Orang-orang menyebutnya pubertas. Namun bagi kami itulah tumpukan amarah kami, ekspresi keinginan kami, dan cara kami mencari jati diri kami, ialah perihal tentang siapa kami. Sebagian dari kami meledak, entah mana yang baik mana yang buruk, kami puas dan bahagia. Walaupun sedikit banyak orang dewasa kecewa, namun hidup tanpa tali di tubuh kami adalah suatu energi, yang menghidupkan kami menjadi hidup. Kami hancur, atau kami melebur. Itu perkara kami.

Beranjak dewasa, kami mulai menilai ulang yang kami lakukan di masa lalu, antara baik ataupun buruk. Kami melabeli anak-anak dengan dengan yang menurut pengalaman sepihak kami tentang batasan baik atau buruk. Kami pun bergerak sesuai justifikasi kami. Kami menentukan standar yang untuk kami sendiri dan orang lain, lalu bergerak sesuai hal itu. Kami kadang menyalahkan orang-orang yang bergerak tidak sesuai standar kami. Namun yang jelas kami bergerak sesuai tali yang kita sepakati, tanpa benar atau salah, hanya itulah yang kita sepakati benar atau salah. Kami ialah boneka sesungguhnya.

Beranjak menua, kami sadar, boneka tali tidak akan bisa bergerak tanpa tali, namun dengan tali kami tidak bisa bergerak bebas. Harus ada keadaan dan ketiadaaan yang beriringan, namun kami tidak lagi boneka sehingga orang-orang dan kami tidak lagi memilih peduli. Menyedikan memang, namun inilah hidup kami, boneka tali, dan menua.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.