Di depan rumahmu

Di depan rumahmu, aku menyapa ibumu dengan memanggil namamu sementara ia membalasku dengan senyuman seindah matahari pagi. Aku tidak tahu harus berkata apa, mendadak seperti calon gubernur yang lupa bagaimana cara berbicara. Tetapi ibumu tahu cara menyapa orang yang sedang kebingungan — dengan senyuman.

Katamu senyuman lebih banyak memiliki arti daripada kata-kata.

Di depan rumahmu, aku menenggelamkan diriku di kolam kesedihan yang dalam di bola matamu. Dan aku seolah-olah ingin menolongmu yang hanyut di dalam kesedihanmu sendiri lalu tiba-tiba aku menyadari bahwa akulah yang sebenarnya tenggelam dan menyelami kesedihanku sendiri sementara kau baik-baik saja.

Tidak baik katamu, jika kita harus menjatuhkan diri sendiri untuk menyenangkan hati orang lain.

Di depan rumahmu, aku melihat bintang yang tidur terlelap dihatimu, juga binatang yang tidur terlelap dipelukanmu. aku ingin membelai binatang itu tetapi ia tampak tidak menyukaiku — Setelah melihatku bersamamu, binatang itu berubah menjadi sesuatu yang terus melolong siang dan malam.

Dan perlahan bintang dihatimu mulai padam seperti matahari terbenam.

Di depan rumahmu, aku datang tanpa diundang dan hanya berdiri diam bersama tangan yang kumasukkan ke dalam saku celana. Aku membayangkan kau keluar menghampiriku atau aku yang masuk kedalam untuk memelukmu hingga dadamu sesak dan sulit bernafas.

Di pikiranku, aku tidak tahu apakah dirimu yang akan datang atau diriku yang akhirnya pulang.