Menulis Sajak Untukmu

Jangan banyak bicara. Kata-kata tidak selalu berarti dan mereka yang mendengar belum tentu mengerti. Orang-orang ingin tahu dan selanjutnya tidak peduli. Jangan banyak bicara. Hapuskan semua yang cuma kata.

Sebaliknya air mata adalah kata yang tidak sanggup untuk terucap. Resah, penuh rasa resah, perlahan basah di wajah. Seperti hujan. Tapi hujan masih belum mau pergi pada pangkal April. Barangkali, ia hanya ingin melihatku kembali menulis.

Tidak persis begitu. Sebetulnya.

Sudah dua jam berlalu, aku duduk terpaku, dan puisi baru separuh. Yang jelas, tidak ada kopi untuk malam ini. Dan di luar dari itu, entahlah, aku tidak cukup tahu: Apa saja yang telah kulewati?

Barangkali aku sudah lupa cara menulis, barangkali aku sudah lupa cara mencintaimu.

Yang jelas, kau tidak bisa menjelaskan lupa, bagaimana bisa? Kau saja tidak tahu apa yang ingin kau jelaskan. Yang jelas aku tidak ingin lupa. Aku mau melawan lupa.

Tidak persis begitu. Sebetulnya. Kau lelah dan aku kalah.

Baik, berhentilah disini.

Besok diulang kembali semua itu.

Like what you read? Give Golden Kevin a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.