Perihal Kopi di Malam Hari

Pernahkah untuk sekali saja kau mengamati sesuatu lebih mendalam?

Seperti apa saja isi satu ruangan yang kau masuki, hal-hal yang biasa dilakukan oleh seseorang yang kau kenal, atau senyum yang biasa kau jumpai. Jika kau mengeluarkan sedikit saja waktu untuk lebih ingin mengamati, lebih lama untuk mendalami, lebih detil untuk mengerti, mungkin pada akhirnya jawaban yang kau cari akan kau temui.

Terkadang jawaban itu ada di tempat yang tidak pernah kita pikirkan, seperti halnya barang hilang yang hanya bisa ditemukan oleh ibu, atau alasan seseorang yang tidak pernah jelas ketika dia pergi. Mungkin dalam benakmu, dalam sesuatu kau tidak ketahui ada sesuatu yang bisa membuatmu berdamai dengan dirimu sendiri.

Setiap malam mungkin hanya seperti malam-malam biasa bagimu, hanya saja tanpa dirinya, atau dalam setiap malam yang kau lewati merupakan kesempatan lain untuk mencari tahu hal-hal yang ingin sekali kau tahu atau kau ingin dengar dari orang itu.

Seperti bulan, dia terjaga sampai larut, sampai mata indahnya tidak sanggup lagi menahan angin yang membujuk kelopak manis matanya untuk tertutup.

Mungkin karena dia ingin menjadi seperti bulan di kisah-kisah dongeng.

Sejenak ketika matanya tertutup, kulihat mukanya tersenyum indah. Persis seperti bulan, persis seperti yang kau inginkan, mempunyai sinarnya sendiri atau juga karena mimpinya indah menjaganya dari kenyataan-kenyataan yang pilu. Andaikan dia bisa seperti beruang yang tidur lama dalam periode tertentu, sayangnya dia hanya manusia biasa yang baru saja disakiti.

Seketika matahari terbit, begitu pula dengan matanya yang perlahan menyipit terbuka. Dia benci akan pagi hari yang mengharuskan dia untuk membuka mata, dia benci akan mimpi indahnya yang terhenti dan belum ia selesaikan, dia benci harus merasakan sinar sang surya yang tidak lagi lembut itu.

Orang-orang bilang, dia itu orang pagi hari. Yang tersenyum puas ketika bangun dari mimpi indah, tidak seperti orang lain yang murung di pagi hari, apalagi ketika senin. Aku sempat menyaksikan senyum itu, senyum asing ketika awal ku memulai suatu hal yang baru dalam hidup.

Aku tidak suka memulai semuanya kembali dari awal, tapi hidup terkadang butuh pengulangan seperti kata-kata yang kutulis untuk kembali menekankan apa arti dibaliknya, di balik semua itu.

Kemarin, dia masih merasakan hangatnya matahari pagi. Tetapi dia lupa bahwa tidak selamanya selalu ada matahari, ada hari dimana matahari tidak lagi bersinar, ada hari dimana matahari adalah musuh.

Aku tidak pernah suka dengan matahari. Dia tinggi hati, merasakan dibutuhkan tapi memang benar ia dibutuhkan. Tapi bukannya, seseorang bisa lupa diri jika dia sudah merasa dirinya dibutuhkan? Atau mungkin seseorang itu bisa saja membuka kedok palsu yang sudah lama dia sembunyikan.

Tidak tahu, kita tidak pernah tahu, hidup ini layaknya bola bekel yang bulak-balik memantul lalu seketika berhenti seperti halnya bahagia berubah menjadi sedih.

Aku menyukai hidupku lebih banyak di malam hari, bagai menikmati segelas kopi di malam hari, yang membuat Ayah dan Ibuku agak bingung kenapa aku melakukan hal seperti itu. Atau aku hanya kagum kepada bintang-bintang yang selalu kucintai sebelum mereka mulai tanggal dan mengucapkan selamat tinggal. Dan sekarang hanya ada bulan yang bisa kulihat sinar rembulannya.

Bulan yang sekarang, berubah menjadi sedikit redup bagi yang memperhatikan. Dia mencoba menutupi cahaya yang redupnya tetapi aku penikmat selalu tahu ketika ada seseorang yang mencoba menutupi sesuatu. Terkadang bulan juga menangis seperti halnya dia menutupi cahaya redupnya, menangis tanpa ada yang tahu.

Sekali lagi malam ini aku sendiri, mencoba untuk sendiri walaupun ada orang yang tidak begitu ku kenal ingin menemaniku menembus gelapnya malam. Tapi aku lebih memilih sendiri. Memperhatikan bulan, mungkin dia akan melihatku, mungkin dia akan merasakan hadirku, atau mungkin dia akan mengabaikan walaupun dia tahu ada seseorang disana dalam kejauhan memperhatikannya.

Aku tidak peduli, tidak peduli jika keadaan tidak berpihak kepadaku. Aku hanya peduli kepada apa yang ingin kulakukan, seperti halnya menikmati segelas kopi sembari melihat rembulan malam ini.