Alirkan Air Secara Ilegal, ATB Lakukan Pemutusan Sambungan di Batuaji bit.ly/211WzuJ

PT Adhya Tirta Batam (ATB) kembali melakukan pemutusan sambungan ilegal di rumah liar (ruli) Rawa Indah, Kibing, Batu Aji, awal pekan lalu.

Itu merupakan pemutusan kedua yang dilakukan ATB.

Awal Februari 2016 lalu, perusahaan air minum terbaik di Indonesia ini juga melakukan penertiban sambungan ilegal di ruli Kampung Air. bit.ly/24dsvLH

“Ada oknum yang mengalirkan air secara ilegal ke ruli Rawa Indah melalui pipa 2 inci yang disambungkan ke pipa distribusi ATB. bit.ly/1KtvLfm

Penyambungan ilegal itu dilakukan secara rapi dan ditanam di dalam chamber,” ungkap Corporate Communication Manager ATB, Enriqo Moreno, sesaat usai penertiban.

Ia melanjutkan, perusahaan yang sudah beroperasi sejak 1995 tersebut, secara bertahap mulai menertibkan pencurian air.

Apalagi pencurian air tidak hanya merugikan ATB secara materi, namun juga merugikan pelanggan. bit.ly/1QnSqMs

Pencurian air dapat menyebabkan tekanan air kepada pelanggan menurun sehingga dapat berpotensi gangguan suplai.

“Sambungan ilegal di Kampung Air sudah kami laporkan ke kepolisian. Meski demikian, ATB tetap memenuhi kebutuhan air bersih warga Batam yang tinggal di ruli melalui kios air.

Hanya saja sistem pendistribusiannya berbeda dengan sistem pendistribusian untuk pelanggan ATB,” kata Enriqo.

Ia melanjutkan, bila pelanggan dapat langsung menikmati air bersih dari pipa distribusi ATB, warga yang bertempat tinggal di ruli hanya bisa menikmati air ATB yang didistribusikan melalui kios air.

Kios air tersebut umumnya dikelola oleh pengelola yang ditunjuk oleh warga sekitar. bit.ly/1mGsWfs

“Air merupakan kebutuhan dasar setiap mahluk hidup. Tidak ada satupun manusia yang dapat bertahan tanpa mengkonsumsi air.

Oleh karena itu, selaku pengelola air bersih satu-satunya di Pulau Batam, ATB membantu warga yang tidak memungkinkan menjadi pelanggan karena terganjal legalitas lahan tetap mendapatkan akses air bersih melalui kios air,” ujarnya.

Agar tidak memberatkan warga, ia menegaskan, ATB menetapkan tarif air bersih kepada pengelola kios air dengan tarif dibawah harga produksi dan distribusi, yakni Rp3.500/m3.

Harga tersebut ditetapkan secara seragam, namun pengelola menjual air bersih kepada warga ruli dengan harga yang bervariasi sesuai dengan kesepakatan antara pengelola dan warga.

“Namun karena ATB hanya berperan sebagai operator air bersih, ada beberapa aturan yang harus dipenuhi oleh pengelola kios air agar tidak menyalahi perjanjian konsesi antara ATB dengan pemerintah,” katanya.(*)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.