Pertagas Siap Jadi Badan Penyangga Gas

PT Pertamina Gas (Pertagas) siap menjadi badan penyangga (agregator) gas untuk mendukung pengembangan industri nasional. bit.ly/1KVwaay

Vice President Bussiness Development PT Pertamina Gas, Indra Setyawati mengatakan masalah terpenting yang harus dituntaskan oleh agregator gas nanti adalah masalah distribusi yang terkait infrastruktur jaringan pipa gas. bit.ly/20YnmrK

“Pembuatan pipa “dedicated” oleh tiap pengguna justru tidak efisien,” katanya dalam keterangan tertulisnya di Jakarta. bit.ly/1SwRju0

Untuk itu, PT Pertagas telah membangun 2.000 kilometer pipa akses terbuka (open access), setara 99% jaringan pipa Pertagas.

“Harus ada semangat gotong royong sehingga fee murah. Dengan begitu, industri pasti tumbuh,,” ujarnya. bit.ly/1VlS0UZ

Indra Setyawati menilai peran badan penyangga memang sangat diperlukan karena di satu sisi kebutuhan gas untuk sektor listrik dan industri selama 2015–2025 akan terus meningkat.

Namun pada sisi berbeda tidak diimbangi kenaikan suplai gas.

Kepala Pusat Studi Energi UGM Deendarlianto menyebutkan konsep badan penyangga gas sebagai konsep baru dalam tata kelola gas bumi di Indonesia untuk melakukan agregasi dan penjaminan pasokan, harga, infrastruktur, dan sistem tatakelola gas. bit.ly/1oImBBT

Dari studi yang dilakukan PSE UGM (2015), terdapat tiga alternatif bentuk badan penyangga yaitu Badan Penyangga Nasional untuk pasokan dan kebutuhan (supply and demand), Badan Penyangga Kewilayahan, Badan Penyangga Suplai Nasional dan Badan Penyangga Kebutuhan Nasional.

“Ketiga bentuk tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing,” kata dia.

Namun dari kajian PSE UGM jika hanya terdapat badan usaha tunggal supply (single aggregator supply) maka akan meningkatkan harga gas hingga di atas tingkat harga kompetitif.

“Oleh karena itu, diperlukan adanya badan penyangga di sisi supply dan demand.”

International experience di Brazil, Thailand, Belanda, menunjukkan peran badan penyangga di sisi supply dan demand,” jelas dia. bit.ly/1mGsWfs

Deendarlianto menegaskan konsep badan penyangga atau agregator harus mendukung program-program pemerintah, misalnya program pembangkit listrik 35.000 MW dan akselerasi industri kawasan timur.

Sektor kelistrikan memiliki porsi dan demand yang besar, maka sektor ini perlu mendapat perhatian khusus dalam pembentukan badan penyangga.

Selain itu, transisi pembentukan badan penyangga perlu diatur dalam ketentuan peralihan sehingga tetap memperhatikan kondisi eksisting.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.