Tak Selektif Pilih Kontraktor

Pemkot Semarang dinilai kurang selektif memlikih kontraktor. Ambrolnya talut Jalan Tlogosari Raya, Kelurahan Tlogosari, Pedurungan, bisa menjadi pembelajaran. Tak hanya proyek talut, beberapa proyek trotoar di beberapa titik di Kota Semarang, kondisnya juga terkesan dibangun asal-asalan. bit.ly/1VqZAxS

Pembangunan trotoar di sepanjang Jl Mgr Soegijapranata dan Jenderal Sudirman, misalnya, tidak mempedulikan kaum difabel, khususnya penyandang tunanetra. Sebab, jalur khusus tunanetra di beberapa titik ada yang terputus dan berdiri tiang reklame, pot bunga, tiang listrik, papan baca, digunakan untuk berjualan, tambal ban, dan parkir. bit.ly/1SVjQdt

”Kota Semarang harusnya meniru DKI. Setiap proyek, selama pembangunan dan masa perawatan harus ada informasi lengkap termasuk nomor ponsel kontraktornya, pengawasnya.

Kontraktor yang nakal jangan cuma di-blacklist, tetapi diumumkan ke publik,” tandas Koordinator Koalisi Pejalan Kaki Semarang (KPKS), Theresia Tarigan, Kamis (18/2). bit.ly/1Qpf0OO

Ditambahkan, kontraktor yang selama ini tidak kompeten dalam mengerjakan sebuah proyek pengawasannya harus terbuka. Gedung PIP yang selama ini menjadi pusat informasi, juga harus menyediakan informasi proyek-proyek yang akan dikerjakan.

Terkait ambrolnya talut di Jalan Tlogosari Raya, Plt Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral (PSDA-ESDM) Kota Semarang, Ayu Entys menegaskan, air dari pipa yang bocor menjadikan tanah tergerus, sehingga membuat tanah cepat longsor dan akhirnya talut ambrol. Ia membantah kejadian itu karena kualitas pekerjaan asal-asalan. ”Pipa yang bocor itu sudah ditangani PDAM dan talut yang jebol sudah mulai diperbaiki,” tandasnya. bit.ly/1ovLT6q

Jangan Terulang Agar kejadian serupa tidak terulang, DPRD akan terus memantau pekerjaan pembangunan yang dilakukan Pemerintah Kota Semarang. Kontraktor yang hanya mengejar keuntungan, mengabaikan kualitas, harus diberi peringatan. Bila perlu jangan dipercaya mengerjakan pekerjaan lagi. Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang Suharsono mengatakan, ada dua pekerjaan yang dilakukan pemkot pada 2015 di lokasi kejadian. Betonisasi dan trotoar Jalan Tlogosari Raya oleh PT Harmoni International Technology (HIT) senilai Rp 15 miliar dan pembangunan talut senilai Rp 2,4 miliar oleh PT Duta Mas Indah. bit.ly/1mGsWfs

”Ambrolnya talut jalan harus dievaluasi kualitas pengerjaannya. Kejadian ini menunjukkan pemkot kurang selektif memilih kontraktor yang bisa bekerja dengan benar. Sejak awal harusnya dinas selektif dalam memilih rekanan, sehingga kejadian ini tidak akan terjadi. Kami akan memanggil dinas terkait dan kontraktor untuk dimintai keterangan,” kata Suharsono. (H84–74)