1 2 3

satu dua tiga,

kuhitung percakapan yang disengaja maupun tidak disengaja.

tidak, lebih sebenarnya.

satu dua tiga,

kuhitung rencana yang terealisasikan maupun tidak.

tidak, tidak, tidak. ayo, kurangi yang tidak.

satu dua tiga,

kuhitung jumlah kaum kalian.

tidak, tidak semuanya melampaui tiga.

satu dua tiga,

kuhitung pujian yang sampai ke telinga di tiap harinya.

tidak, ternyata aku hanya menghitung waktu seberapa lama rasa senang bertahan. kau tahu, dunia ini terlalu sirik melihatku (atau target pujianmu itu) bersuka.

satu dua tiga,

kau hitung jumlah angka yang dilewati si jarum pendek sebelum waktu tempat itu tutup.

tidak, tenang saja. masih banyak waktu untuk berdiam dan bertutur.

satu dua tiga,

kuhitung berapa kali pipimu, atau matamu, memerah.

tidak, lebih sebenarnya. maaf, tak tahu untuk apa maaf ini. terima kasih? entahlah. aku merasa butuh mengucapkannya.

satu dua tiga,

kuhitung ketukan jarimu di meja.

tidak, aku tidak bosan kok. kadang sambil mendengar kisahmu, tiba-tiba ada saja lagu yang terlintas karena ketukan itu, atau aku yang mencari lagu sesuai kisah dan ketukan itu, aneh memang.

satu dua tiga,

tentu saja tak kuhitung jumlah bulu mata pelindung matamu yang terus kutatap saat kamu berbicara.

kuhitung jumlah kepala di belakangmu yang masih bertahan di posisi mereka sebelum akhirnya tinggal satu kepala yang kutatap ini.

tidak, dia sudah datang.

satu dua tiga,

kuhitung waktu yang terbuang untuk memikirkan banyak hal yang (bisa jadi) tidak berhubungan denganku.

satu dua tiga,

(bisa) kuhitung orang-orang yang memanusiakan aku.

satu dua tiga,

kuhitung salahku pada kalian.

siaaaaal, banyak. maaf. sungguh.

empat lima enam,

berhenti, perasa. jangan terus merasa.


satu dua tiga,

tidak, aku tidak menghitung sungguhan kok.

atau sedikit bagian dari diriku?

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.