[AN OPEN LETTER TO MY MOTHER(S) IN CHRIST ]

Aku masih ga percaya sampe hari ini, Tuhan bawa aku ke titik ini. Aku bersyukur buat setiap pekerjaan Tuhan dalam hidupku, bahkan hal-hal yang aku udah ga inget lagi (tapi aku tau Bapa selalu inget mendetail).

Terkhusus, aku beryukur buat satu tahun terakhir, dimulai tertanggal 15 Juni 2016, ketika Tuhan bawa aku masuk ke dalam pemuridan.

Waktu itu aku inget betul, abang ke dua ku, Bg Ferdinan, bawa aku ke basecamp anak Misi 5 Kota (yang sekarang jadi kost ku loh! Hihi). Waktu itu H-1 IC, jadi aku-dengan hati yang masih setengah2- dateng, pas nyampe, diajak masuk ke kos sama abang, terus nyamperin sebuah kamar kecil (yang sekarang jadi kamarnya Riny, anak PA dari saudara rohaniku, Kak Merry) . Di kamar itu aku masih inget, ada Kak Vanny, Kak Teta, Kak Nevis, dan Kak Nuri. Terus ada Mas Bona, Ko Harry, Ko Ivan, dan Bang Paul. Mereka menyambut dg hangat. Waktu itu mereka lagi rapat, ya aku denger2 ajalah kan ada ngomongin kue basah lah, nasi bungkus, hmm minyak tanah wkwk, terus minyak urapan (ini aku ga ngerti apaan waktu itu kan), sampe ke sound system dan peserta IC yang sedikit (udah sedikit, belum bayar pula wkwk termasuk aku padahal :") jadi perbincangan.

Terus habis itu, bang Yosia waktu itu (oh iya, naon teh aku ga nulis nama bg Yosia yg tadi hehe) ambil gitar dan mereka tutup mata dan mulai bermazmur gitu. Aku ngerasa asing dg itu semua, yowes aku liatin aja toh. Ditambah lagi, habis itu ada yg berbahasa Roh, sesuatu yang bener2 ganjil buat aku sebelumnya. Jujur, aku ngerasa ga nyaman banget. Kalo boleh jujur lagi, itu kamar kecil banget buat diisi sama org sebanyak itu, bahkan seingetku Mas Bona agak di depan pintu krn ga muat hehe dan kami (lebih tepatnya mereka) doa disana.

Aku inget, waktu itu mereka nyanyi lagu "Visi Sion" yang liriknya aku juga ga ngerti sama sekalii. Aku udah pernah denger sih Bg Martin nyanyiin ini di rumah jadi ga gitu asing buatku, tp tetep aja liriknya aku ga engeh.

(fyi), liriknya itu ada bilang gini :
"Mahkota keagungan serban kerajaan di tangan Allah, yang bersuami, negeri yang tidak disebut sunyi... "

Nah, yang paling bikin aku 'ngelongo', waktu mereka doa! Dalam hatiku, "Bang Martin doa kaya gini ga, ya? " (aku takut gimana2 waktu itu haha, tp yg bikin aku tenang, krn aku tau abangku udah tertanam di Sion dan buahnya aku pun lihat dg nyata di keluarga kami). Aku juga bergumam, inget banget waktu itu aku ngomong kaya gini ke diriku, "Anak Sion doanya gini, ya. Gereget amat. "

Fyi (2), mereka doa sampe nangis2 dan aku ga engeh apa yg didoain. Yg jelas aku inget, ada namaku juga disebut pelan sama seorang pekerja haha (atau aku geer kali ya, mungkin Grace yang lain:p). Dan aku juga inget jelas, seorang pekerja perempuan, Kak Teta namanya, dia doa sampe teriak dan suara tinggi banget euy! Aku bahkan khawatir, di sebelah ada kos2 an gede soalnya, ini ribut banget asli.

Aku rada panik, tapi aku mutusin tutup mata juga dan berdoa sampe akhirnya 'doa gereget' (begitu aku menyebutnya) hari itu ditutup sama seorang pekerja, seinget ku Mas Bona dg kata-kata yang juga asing buatku : bangkitkan anak2 muda di kota ini, biar kami menjadi biji yang mati, karuniakan kami hati seorang hamba, roh-roh jahat kami patahkan, dan sebagainya. Jujur, itu asing buatku.

Fyi (3), dulu aku doa cuma 5 kali sehari, dan isinya sama semua.

Tiga kali waktu mau makan, sekali mau tidur, dan satu lagi pas bangun dari tidur.

"Ya Tuhan aku mau makan, berkati makanan ini. Dalam nama Tuhan YESUS aku bedoa, Amin. "
Soalnya dulu aku bilang ke Mamaku, aku gabisa doa, trs bos bilang, doa apapun yg penting nanti ditutup 'dalan nama Tuhan YESUS, Amin'.

Semuanya selesai. Dan habis itu kami keluar lah, Kan. Aku di ajak ke kamar sebelahnya, agak gede sih, ternyata itu basecamp buat yg cewe (kamarku inilohh). Mereka lakuin kegiatan kaya yg udah diarahin pas rapat tadi. Nah seorang kakak yg rada berisik anaknya nyari temen buat beli apa ya aku lupa. Posisinya, semua motor dipake dan semua org sibuk.

Tiba-tiba seorang lelaki mungil dan tampan bernama Ferdinan Tampubolon angkat bicara, "Yaudah, sama dek Grace aja, Van. " Iya, Kak Vanny namanya. Lebih lengkapnya, Stefanie Vanny Meitasari (Ilmu Ekonomi - 2014).

Dan itu, itu jadi titik awal pemuridan kami dimulai.

Like what you read? Give Grace Martini T a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.