Gud Peri
Gud Peri
Nov 5 · 2 min read

Surat Cinta untuk Layla

Dear Layla,

Aku akan menceritakan kepadamu sebuah kisah. Kamu akan merasa ini sebagai salah satu kisah bahagia yang pernah kamu dengar. Jadi, aku harap kamu duduk dengan tenang, sambil menyiapkan teh hangat yang bisa kamu nikmati. Karena cerita ini, bisa jadi sedikit panjang. Sejak awal kita harus sepakati bahwa hidup adalah perjuangan panjang mengalahkan nasib dan melawan takdir.

Orang boleh mempunyai mimpi yang besar. Orang boleh sibuk berbicara soal manfaat dan guna. Tapi kita tidak masuk ke dalam semuanya, kita adalah yang duduk bersama pada suatu pagi di sebuah kedai kopi. Kita biarkan bising dunia berlalu di telinga, dan kita fokus dengan cerita yang kita punya.

Ada kehidupan, ada kematian, serta keindahan dan kemurungan yang bergelantungan di antaranya. Kamu mengajarkan bahwa dunia ini konyol dan tidak masuk akal, Aku sepakat. Kita tidak memiliki cukup waktu untuk mencari diri sendiri sepenuhnya, tapi selalu ada ruang untuk menjadi bahagia.Kita akan terus mencari itu sampai hati punya kenangan sendiri dan ia tidak mudah melupakan.

Aku menerima kamu dengan semua resahmu, seperti kamu menerimaku dengan selera musikku yang ketinggalan zaman. Aku mau berada di sisimu walau kamu keras kepala sekalipun, seperti kamu yang bersedia menghabiskan dua jam untuk mendengarkan aku berbicara soal kesedihan. Aku mau memegang tangan dan mencium keningmu agar kamu yakin bahwa kita bisa melawan dunia, seperti kamu yang selalu memeluk tangisku sambil berbisik semua akan baik baik saja.Kita selalu mengingatkan diri, bahwa kita berasal dari dunia yang berbeda. Tapi itu tidak pernah menyurutkan tekad bahwa kita bisa berdiri dan membuat nasib sendiri.

Kita ada di sini, dalam cinta yang bodoh dan kekanak-kanakan. Kita sudah menjadi unta yang melihat kepedihan dalam setiap langkah yang kita lewati. Kita pernah menjadi singa yang menolak untuk menyerah dan tidak peduli seberapa terjal jalan yang ada, kita akan menapakinya tanpa lelah. Hal terakhir yang harus kita lakukan adalah menjadi anak kecil*. Anak kecil yang bisa berbahagia dengan apapun yang ia punya. Kita akan menyanyi dan menari, dan kamu akan bilang bahwa suaraku sumbang, tapi pada saat yang sama kamu mengingatkan aku untuk tidak peduli karena kita hanya hidup untuk sekarang.

Aku tulis surat ini untuk mengingatkan bahwa kematian tidak serta merta menghentikan cinta seseorang. Tapi untung kita berdua masih hidup, butuh lebih banyak nyali untuk hidup daripada harus menghadapi kematian**. Bisa saja kita pergi ke jalan yang gelap tanpa pernah menemui makna. Aku dan kamu tidak mau itu, aku mau tetap hidup, aku mau jadi alasan kamu berterima kasih atas setiap detik kehidupan yang kamu rasakan.

Penulis bisa diajak ngobrol melalui instagram di @gudperi

*Konsep harimau, unta, dan anak kecil diambil dari NietZsche
**Disunting dari Albert Camus “

    Gud Peri

    Written by

    Gud Peri

    Bajingan yang bermain bersama waktu