Bian — Arai

Hampir dua tahun berjalan, setiap hari bergelut dengan nama dan bayang. Satu sosok yang masih saja itu. Di mana saya merasa menjadi sangat tolol.

Dua hari belakangan dia mengamuk dalam pikiran dan mimpi saya. Ia bangkit dari kenangan dan meminta saya merayakan kebangkitannya dengan melihat-lihat dokumentasi.

Sama sekali bukan ingin saya masih memikirkannya. Saya kepikiran. Kalau saya punya daya, ingin enyahkan ia segera. Tapi, mungkin juga meskipun saya punya daya mengenyahkan, saya akan tetap memilih seperti ini. *Ya, betapa tidak konsistennya saya.* Saya rasa melupakan tidak perlu diusahakan. Melupakan ialah proses alami dan saya kira menikmati proses adalah cara baik menghargai kejadian. Guna mendapat pelajaran. Utuh.

Saya baru tahu ternyata cinta bisa semembunuh ini. Menjadikan kita bodoh. Saya baru paham, dan pada kesempatan kali ini saya menarik kata-kata yang sebelumnya sempat saya lontarkan kepada orang-orang yang menjadi tampak bodoh hanya karena putus cinta.

Saya tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa tidak bersama dia ternyata saya sehancur ini. Seberkeping-keping ini. Hilang arah.

Atau, perlu saya tanyakan pada diri sendiri, apakah memang saya yang sedari awal tak tahu arah? Tak punya pijakan yang mantap? Sehingga sebegitu mudah goyah ketika harus berjalan sendiri.

Hari-hari saya berubah drastis. Hal ini disebabkan karena banyaknya terpikirkan dia dan memikirkan kritik darinya sebelum dia pergi. Ternyata, banyak juga benarnya. Banyak sekali benarnya. Mungkin hampir semua benar.

Mulailah saya membenahi diri. Tapi masih tanpa pijakan yang kuat. Gelap, dan saya harus merangkak agar tak tersandung. Beberapa tahun ke belakang, memang saya tahu kehidupan spritual saya kacau balau. Mungkin itu sebab saya segalau ini. Saya merasa berjalan dalam belantara. Terkadang saya menemukan cercah sinar matahari, terkadang saya bergelut dalam semak duri. Saya masih meraba-raba, hingga sekarang.

Ketika dua orang berpisah, resiko perpisahan itu ditanggung oleh masing-masing invidu. Tak lagi keduanya bertanggung jawab satu sama lain. Tak lagi yang seorang bisa menceriterakan kesulitannya. Ketidakberdayaan harus dihadapi sendiri. Oh, tidak. Tidak sendiri, kita punya Satu yang bisa kita andalkan untuk menghadapi segala dalam hidup.

// Cerita di antara Bian — Arai //

Sambungan dari “Hingga Langit Memerah Jingga”