Curhatan Sang Master Passing.

“Seru dan menyenangkan”

Kedua kata itulah yang pas untuk menggambarkan pengalaman membaca “I Think Therefore I Play”. Kesan pertama yang aku dapat saat tidak dapat berhenti membaca memoar Andrea Pirlo, “Wow seorang pesepak bola sekelas Pirlo tetaplah seorang manusia biasa”. Dia seorang manusia yang mengalami getir manis kehidupan. Namun dirinya menghidupi apa yang dikatakan orang bijak, “pemenang tidak pernah menyerah”. Sejak berusia belasan tahun, dibekali talenta luar biasa. Pirlo kecil ternyata dianggap sebagai penghalang oleh rekan setimnya. Tentu saja bukan hanya kesal, geram, dan teramat menyebalkan ketika bermain bola dan hanya dianggap angin lalu. Bolanya tidak dioper, kawan!.


Memoar yang cukup ringkas ini tidak membuat aku merasa puas. Kuharap suatu saat ada buku lainnya yang dibuat Andrea. Cerita-cerita lainnya yang lahir dari seorang deep-lying playmaker kelas wahid ini. Oh iya, satu lagi. Di buku ini Andrea benar-benar berbagi satu hal yang paling menyeramkan baginya. Membuat malam terasa sulit dilewati karena saat mimpi buruklah yang menjadi teman penghabis waktu. Momen keajaiban Istanbul 2005 adalah sebabnya. Saat itu, adu penalti yang mengantarkan The Reds menjuarai Liga Champions membuat diriku secara otomatis menjadi seorang penggemar Liverpool. Ajaib pikirku. Mereka mampu membalikkan keadaan dan memenangi sebuah penghargaan paling prestisius di dunia. Tidak kusangka momen kekalahan itu begitu berbekas di benak Andrea Pirlo.

Satu hal yang membuatku (sedikit) bersimpati akan dirinya adalah momen kekalahan Milan melawan Deportivo di Liga Champions. Super Depor kala itu berhasil mengungguli tim merah hitam di kandang sendiri. Hal apa yang disinggung Pirlo soal kekalahannya? Bacalah sendiri teman memoarnya. Selain momen-momen yang membekas dalam karir sepakbolanya, Andrea juga berbagi kisah-kisah menarik dari para rekan setimnya. Soal Liga Seri A Italia. Juga hubungannya dengan petinggi Milan. Jelas ini salah satu highlight dari memoar Pirlo.

Buku ini diterjemahkan dengan cukup baik. Hanya ada satu typo yang merusak kesempurnaan (selihat saya). Memoar ini direkomendasikan untuk Anda penggila bola dan tentunya fans tim Italia dan Andrea Pirlo.