Review Daredevil Season 1

Menegangkan, musim pembuka yang memikat.

He may be known as The Man Without Fear, but Matt Murdock has plenty to be afraid of in the second season of Daredevil. - Total Film.

18 Maret 2016 akan menjadi hari yang ditunggu-tunggu penikmat serial televisi Daredevil. Di musim kedua si tokoh utama akan berhadapan dengan Frank Castle aka Punisher. Di trailer terbaru (nantikan teaser kedua di 25 februari) keseruan musim kedua sudah mulai nampak jelas.

Sebenarnya saya tidak sempat menonton “Daredevil”, serial pertama Marvel yang tayang di Netflix. Saya belum membaca komiknya dan tidak mengikuti film layar lebar di 2013 yang dibintangi oleh Ben Affleck. Hanya sekedar tahu, ada serial superhero. Tahun lalu Daredevil dan Jessica Jones mewarnai pertelevisian yang sudah akrab dengan superhero. Adalah Arrow dan The Flash yang hampir tiap minggu hadir di tv, mengingatkan kita untuk sejenak lepas dari kepenatan kerja. Membayangkan serunya menjadi seorang pahlawan.

Saya mengikuti perjalanan Arrow dan The Flash. Terima kasih untuk Adi yang mengenalkan serial TV “Arrow”. Di kemudian hari “Person of Interest” (POI) juga menjadi favorit saya setelah serial superhero.


Di awal bulan Februari secara tidak sengaja saya menemukan sebuah podcast dari Screensavers. Bincang-bincang soal review mereka tentang serial Daredevil. Seru banget percakapan mereka. Singkat cerita, saya akhirnya menjajal Daredevil. Coba dengarkan disini:

https://soundcloud.com/screensaversid/ssid-audio-3-marvels-daredevil-review

Sekedar informasi, Netflix menyiapkan serial tv untuk dinikmati penonton secara kontinu. Maksudnya kita diajak untuk berpesta (nonton) sepanjang hari. Hingga seakan tenggelam dalam serial tv tersebut.


Tulisan saya tidak akan panjang lebar membahas apiknya akting Charlie Cox memerankan Matt Murdock, si pahlawan Hell’s Kitchen. Ataupun serunya rangkaian pertarungan ala oldboy yang diambil dalam sekali take. Satu hal yang pasti Daredevil season pertama garapan dynamic duo, Doug Petrie & Marco Ramirez benar-benar memikat.

Di sini saya ingin membahas seorang sosok yang berkesan di season satu: Benjamin “Ben” Urich. Sang jurnalis diperankan dengan begitu meyakinkan oleh Vondie Curtis-Hall.

Benjamin “Ben” Urich was an investigative journalist at the New York Bulletin who specialized in writing articles exposing the criminal empires within Hell’s Kitchen, leading to the arrests of many high-ranking gangsters. #1.

Ben seperti halnya tim Murdock begitu mencintai kota mereka. Dirinya menginginkan Hell’s Kitchen berkembang menjadi lebih baik.

Dia ingin ikut melawan Wilson Fisk, si tokoh antagonis dengan jalannya sendiri. Meruntuhkan lawan dengan pena.

Meski keberanian Ben sudah tak seperti saat dirinya masih muda. Dirinya dengan Karen Page yang sedikit memaksa, terus mencari sejengkal demi sejengkal petunjuk. Keinginannya untuk terus menginvestigasi sosok lawan menjadi motivasi tersendiri bagi tim Nelson & Murdock.

Urich bukan sosok wartawan yang memiliki kehidupan sempurna. Si jurnalis juga kerepotan menangani istrinya yang sedang sakit. Di sinilah penonton diajak untuk melihat lika-liku si jurnalis. Sembari menikmati sepak terjang Matt Murdock yang berkeliaran dengan topeng hitam. Tidak berlebihan saya ikut bersimpati dengan Ben Urich.


Setelah menghabiskan season 1 Daredevil, saya mencoba membaca cerita versi komik. Daredevil: The Man Without Fear (1993) judul pertama yang saya coba. Di sini saya menikmati awal mula kehidupan Matt kecil yang emosional-jauh berbeda dengan versi serial-menjadi sosok Daredevil. Selain itu ada manis pahitnya kehidupan Matt dengan Elektra, kala dirinya & Foggy Nelson kuliah hukum di Harvard.

Di season kedua, Elektra juga akan muncul kembali di Hell’s Kitchen. Bagaimana keseruannya? Apakah Matt Murdock mampu menangani Frank Castle?