Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.

Saya merasa beruntung bahwa pada satu masa dalam hidup saya, saya pernah satu meja berdiskusi bersama kawan-kawan dengan beragam pemikiran. Dari teman-teman kiri, relijius moderat, relijius liberal hingga agnostik dan ateis. Dengan begitu saya terlatih untuk melihat ide hanya lah ide dan argumen tetaplah hanya argumen.

Meskipun berdebat baku hantam, toh semesta tetap berjalan sebagaimana mestinya dan hidup tetap berlanjut sebagaimana biasanya. Hidup sungguh sangat sederhana, yang hebat-hebat hanya tafsirannya.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Haddad Sammir’s story.