Aceh

Sebuah sejarah dari ujung pulau Sumatera


Bercerita tentang Aceh memang tidak cukup lewat kata-kata, terkadang ada sejuta fakta yang terkubur dalam-dalam yang tak pernah ditemukan hingga sekarang ini.

Namun, dilain sisi ada juga mereka yang jumawa dengan kejayaan masa silam. Yang tak pernah terpikirkan, Aceh sudah begitu seksi di mata dunia luar, mengenalkan Aceh sekarang tidak rumit lagi jika menelisik sejarah berabad-abad lalu.

Konon, masjid Raya Baiturrahman pada masa Kerajaan Aceh Darussalam

Orang sering menganggap Aceh kumpulan dari negeri-negeri, seperti Arab, China, Eropa, dan juga Hindia. Padahal Aceh bukan lahir dari kumpulan huruf-huruf awal itu, tapi Aceh begitu yakin, rakyatnya dulu begitu majemuk, sehingga muka-muka penduduknya pun mirip dengan negeri-negeri yang disebutkan tadi.

Krueng Aceh

Kini, Aceh ada ditangan mereka-mereka. Mereka itu bisa orang tua, pemuda, dan juga anak-anak yang belum tahu apa-apa.

Semua punya peran sama, walaupun kedudukan mereka bisa berbeda-beda. Aceh yang berada di ujung pulau Sumatera telah terjamah oleh orang-orang sejak Aceh sendiri belum punya nama.

Atsjien (Aceh) pada masa silam dalam sebuah lukisan

Arti sebuah perjuangan bisa berarti pemberontakan, setelah kemenangan barulah dianggap kemerdekaan. Begitu pula Aceh, lika-liku kehidupan terus bergulir dari masa sebelum Islam berjaya hingga pasang surut syariah yang kini masih begitu pelik dalam penerapan.

Aceh memang tidak lekang oleh zaman, sejak Nabi terakhir diutuskan oleh Tuhan, benih-benih negeri di ‘atas awan’ telah pernah ditasbihkan. Serambi dari negeri Mekkah bukan sembarang, layaknya sebuah rumah pasti ada tiang sebagai penguat, ada tempat bertandang sebelum ruang tamu seperti filosofi dari rumoh Aceh, begitu pula kondisi Aceh yang ada sekarang.

Sebuah lukisan perjuangan pejuang Aceh

Sejarah pasti akan berlanjut, Aceh bukan lagi milik sebuah bangsa, tapi sudah pasti milik Yang Maha Kuasa. Selamat datang di Aceh.[]


Daruddonya, Aceh Kingdom Darussalam