UGM, Patriarki dan Pesta Kemarahan di Media Sosial

Fenomena perkosaan di UGM yang sedang hangat baru-baru ini menimbulkan permasalahan baru di ranah media sosial: penghakiman massal terhadap pelaku dalam sebuah pesta kemarahan. Objektif awal yang semula ingin membawa keadilan kepada penyintas seakan berubah haluan menjadi niatan untuk membunuh pelaku -baik harfiah maupun istilah-. Gerakan yang semula dimotori rasa keadilan kini mempunyai bahan bakar lain, kemarahan.

Kemarahan, merupakan hal yang valid dalam upayanya menggerakan massa untuk mencapai keadilan yang dijanjikan oleh institusi, dalam kasus ini adalah UGM. Korban dalam hal ini menjadikan media menjadi jalan akhir hal ini terlihat dari munculnya berita di tahun 2018 (atau setahun setelah tindakan tersebut berlalu). Segala upaya telah dilakukan namun tidak digubris oleh pemangku kekuasaan. Hal ini pula yang menjadi pemicu kemarahan publik civitas akademika UGM.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keadilan yang tidak diberikan oleh lingkungan kampus kepada mahasiswi-nya dapat diambil alih oleh massa dengan cara yang lebih kejam, pembunuhan karakter dan masa depan si pelaku. UGM yang enggan untuk menghukum pelaku dengan serius menjadi titik awal permasalahan ini. Peran UGM untuk menghukum pelaku pun kini diambil alih oleh massa yang marah.

Komentar dan perlakuan warganet kepada pelaku pun tidak kalah kejam, menyebarkan nama, foto hingga kos pelaku ke dalam ruang publik. Dengan harapan bahwa pelaku akan tertunduk malu akan apa yang telah ia perbuat. Tapi ingat, tujuan utamanya adalah membawa keadilan kepada si korban bukan membunuh si pelaku. dua hal yang berbeda.

Lambannya respon yang diberikan memberitahu bahwa di UGM masih terjadi seksisme sistemik yang memandang wanita sebagai second-class citizen. Jika di univ yang digadang-gadang terbaik saja masalah ini masih sering terjadi bagaimana dengan daerah lain di Indonesia? Hal ini perlu mendapat penanganan yang berkelanjutan dan komprehensif dari setiap kalangan.

Pembunuhan si pelaku dimotori oleh rasa marah dan pencarian keadilan didasari oleh keinginan untuk keadilan dan moral yang baik.

Keinginan untuk melakukan sesuatu tentang perilaku seperti HS benar-benar dapat dimengerti, dan bahkan dianjurkan, karena perlakuannya yang merendahkan dan menjadikan wanita sebagai objek pemenuh nafsu binatangnya tidak pernah dapat ditoleransi.

Permasalahan ini juga membawa topik baru yang harus segera ditangani, patriarki. Melihat banyak komen di media sosial yang seakan mencoba menggeser kesalahan si pelaku yang tidak dapat mengendalikan kelaminnya kepada sang korban sungguh menyedihkan. Argumen seperti “kesalahan kedua belah pihak” dan “layaknya kucing yang diberi ikan” mempunyai cacat logika yang sangat fatal dalam beberapa tatanan. 1. Ia menempatkan pria sebagai pria yang tidak dapat mengontrol kelamin dan maka dari itu harus selalu diwaspadai 2. Wanita dicitrakan harus selalu menjadi pihak yang “kalah”. Bahwa patriarki yang tidak menjunjung kesetaraan tidak boleh dan tidak mendapat tempat di sini.

HS sepenuhnya bersalah dan tidak ada ruang untuk menyalahkan korban.

Semoga setelah kejadian ini UGM kembali berbenah dan menunjukkan sekali lagi apa makna dari keadilan itu.