Ketuhanan dan Problem Kemandirian dalam Berpikir
Mungkin saja, ada tekanan sosial yang terjadi di lingkungan kita ketika sedang membicarakan Tuhan. Yang kita anggap beda dalam lingkup mayoritas akan menjadi hal yang tak disenangi oleh kubu mayoritas itu sendiri. Entah dicap ateis, tidak mendapatkan hidayah hingga disuruh tobat karena mendekati akhir jaman. Bagi saya, Tuhan bukanlah alasan untuk kita malas berpikir dan malas berusaha. Anehnya, mayoritas masyarakat kita ketika mengutarakan pendapat yang berbeda langsung mencomooh, mencaci maki dengan ujaran kebencian bahwa kita ini kafir dan lain sebagainya. Bukan berarti yang terlihat beragama benar dalam segalanya. Bukankah dalam setiap agama mengajarkan hal yang mutlak mengenai perbedaan? Lalu, mengapa kita merayakan seolah-olah benar hanya untuk berlindung dalam konsep ketakutan kita tentang surga dan neraka?
Pengertian secara tradisional kemandirian dunia dalam berpikir dan adanya Tuhan tidak pernah terlepas satu sama lain. Mereka saling berhubungan. Tetapi dengan modernitas yang semakin maju beserta perkembangan dunia yang semakin mantap, beranggapan bahwa dunia bisa berdiri sendiri tanpa campur tangan Tuhan. Hal tersebut merupakan pertanyaan yang akan terus ada bagi para masyarakat yang senang akan mempelajari filsafat. Pertanyaan-pertanyaan fundamental seperti ini akan terus membayangi bagi kehidupan insan di dunia ini. Terlebih bahwa kita dibebaskan oleh Tuhan sendiri untuk berpikir. Lalu, bisakah dunia ini berdiri di atas kaki sendiri tanpa ada campur tangan Tuhan?
Ada istilah yang menarik yang ditulis oleh Romo Magnis Suseno dalam materi kuliah filsafat di UGM waktu lalu. Istilah Enchanted World (dunia penuh dengan mahkluk halus) yang di ambil dalam buku A Secular Age karya Charles Taylor. Dalam buku tersebut membahas mengenai keheranan bagaimana dari suatu dunia, atau budaya masyarakat di mana adanya Tuhan tidak dapat diragukan menjadi, di dunia Barat, suatu pengertian diri manusia di mana kepercayaan kepada Tuhan menjadi suatu opsi yang bisa dipilih, bisa juga tidak. Dan bisa dikatakan juga bahwa modernitas sekarang ini banyak yang beranggapan bahwa kita tidak membutuhkan Tuhan lagi, terutama di dunia Barat.
Hal tersebut berbeda sekali dengan keadaan yang ada di dunia Timur. Katakanalah di benua Asia. Khususnya Indonesia. Persoalan tersebut menjadi hal yang mustahil. Seperti yang telah dijelaskan diawal stigma atau pemberian makna negatif akan terus terjadi jika kita sedang membicarakan hal-hal seperti ini. Untuk memahami cara Tuhan bekerja dalam ciptaannya Thomas Aquinas (1225–74) 800 tahun yang lalu sudah memberikan suatu penjelasan yang jernih. Thomas membedakan antara dua macam sebab, “sebab-sebab kedua”, causae secundae, dan causa prima, “sebab pertama” atau “sebab dasar”. Sebagai pencipta dan dasar segala-galanya Tuhan adalah causa prima segala proses di dunia dan sebagai itu mendasari seluruh realtias di dunia. Apa pun yang ada dan terus terjadi di alam raya hanya dapat demikian karena terus dudukung oleh Sang Pencipta. Tetapi dengan menciptakan alam raya Tuhan sekaligus memberikan kemampuan kepadanya untuk bertindak sesuai dengan kekhasan masing-masing. Dan itu berarti bahwa setiap kejadian di alam raya mempunyai sebab atau dasarnya yang alami juga.
Maka kita dapat mengatakan bahwa: Tuhan di dunia di mana pun tidak akan ditemukan di antara benda-benda dunia. Tetapi di lain pihak, Tuhan dapat ditemukan di mana pun di dalam dunia. Mengapa? Karena Tuhan sebagai “sebab pertama,” atau “sebab dasar,” mendasari dan menunjang segenap proses dan kejadian apa pun di dunia ini. Andaikata Tuhan sejenak menarik diri, seluruh dunia dan alam raya (termasuk kita sendiri) akan jatuh keluar dari eksistensi, akan tidak ada, tanpa jejak sama sekali. Jadi, Tuhan dengan menciptakan sekaligus memberi daya kepada mahkluk untuk melakukan kegiatan yang hakiki baginya. Penciptaan pada hakekatnya harus dimengerti sebagai pemberdayaan.
Dari paham pencipataan sebagai pemberdayaan itulah juga membantu kita untuk memcahkan suata masalah yang berabad-abad lamanya untuk menyibukkan pada teolog Muslim dan Kristiani, yaitu masalah kehendak bebas. Yang menjadi masalah adalah: Kalau diakui bahwa manusia berkehendak bebas, jadi diri sendiri menentukan sikap dan perbuatannya, apakah itu tidak menyingkirkan kemahakuasaan Allah yang menentukan segala-galanya? Tetapi apabila sebaliknya, apa yang kita kehendaki dan kita putuskan sebenarnya sudah ditentukan oleh Allah, kita manusia tidak bertanggung jawab dan karena itu juga tidak dapat dituduh berdosa dan tidak adil kalau dihukum oleh Allah.
Perdebatan juga terjadi hingga hari ini mengenai Dunia Sekuler (Dunia tanpa Agama). Dilihat sepintas kita dapat memperoleh kesan bahwa dengan sekularisasi masyarakat agama akan hilang dengan sendirinya. Agama memang masih akan bertahan, tetapi hanya sebagai sisa bentuk kehidupan tempo dulu, atau sebagai fundamentalisme yang menolak modernitas. Charles Taylor juga berbicara tenang exclusive humanism. Yang dimaksudnya adalah “humanisme eksklusif” bahwa manusia mencoba menghayati kemanusiannya secara utuh dan memuaskan dengan menyingkirkan segala acuan pada sesuatu yang “ di seberang”, di seberang alam inderawi yang merupakan objek-objek ilmu alam.
Tetapi Talyor justru menegaskan bahwa humanisme eksklusif itu justru tidak utuh. Agama tidak hanya akan bertahan. Melainkan agama akan memainkan peran yang kunci dalam menjamin harkat kemanusiaan manusia di dunia sekularistik itu. Hanya agama memang harus berubah. Yang harus berubah bukan isinya, misalnya bahwa orang Kristiani memusatkan hidup mereka pada Yesus Kristus atau orang Muslim pada Al-Quran, melainkan agama harus berhenti mencampuri wilayah-wilayah yang memang perlu ditata oleh nalar manusia, sesuai dengan tolak ukur rasional, dengan ilmu pengetahuan, baik ilmu-ilmu alam, maupun ilmu-ilmu kemanusiaan seperti psikolog dan sosiologi.
Akhir kata dengan sedikit penjelasan dari materi yang diberikan oleh Romo Magnis Suseno pada kuliah filsafat mengenai diskurus ketuhanan dan juga penulis ingin meringkas sedikit dari materi tersebut, bukan bermaksud menunjukkan bahwa pengakuan terhadap ketuhanan dan kemandirian dunia tidak sama sekali terpisah atau memilih untuk beridiri sendiri. Tuhan akan selalu ada dalam perjalanan dunia ini. Sebagai mana manusia memiliki kehendak bebas, untuk saat ini mari kita pikir dan renungkan sejenak jangan sampai perbedaan-perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan manusia dan agama-agama di Indonesia menjadi pertengkaran yang tidak ada manfaatnya. Perbedaan adalah hal yang mutlak yang telah diciptakan oleh Tuhan sendiri.
Tulisan ini menjadi tanggung jawab penulis.
Sumber: Materi Kuliah kelas filsafat “Problem Kemandirian Dunia dan Diskurus Ketuhanan” Franz Magnis Suseno, 27 Agustus 2017, Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada.