Filosofi datang telat manusia zaman now

Baru2 ini saya mencoba untuk hijrah, dari sering telatan padahal cuma Karena mager agar menjadi orang yang ON TIME. beberapa waktu berlalu, akhirnya saya sadar bahwa ya buat apa sih on time? Toh gaada untungnya, malah lebih banyak ruginya. Loh setiap yang kita lakukan kan harus profit oriented alias berorientasi pada untung rugi. Mahasiswa jaman sekarang kan harus memilih yang menguntungkan, lebih2 bonafide dan menghasilkan uang.

Masih bingung kenapa telat itu perlu? Atau masih bingung kenapa telat itu menguntungkan pelakunya? Hmm.. Kalian mesti pernah denger kan pepatah, “waktu lebih tajam dari pedang,” kalau pernah, kalian mesti harus buka2 buku bahasa Indonesia SD lagi. Tapi gapapa, wong pepatah yang keliru redaksinya itu sebetulnya bermakna benar kok. Benar begimana toh? Pepatah yang tadi kan tetap bermakna kita harus memanfaatkan waktu dengan baik. Pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya memanfaatkan waktu dengan baik. Caranya gampang yaitu…

Kalau Datang forum-forum kajian, diskusi, kumpul unit, himpunan, kepanitiaan, masuk kelas segala macem bae lah pokoknya, dengan telat alias terlambat. Gampang toh?

Apasi untungnya jadi orang telatan? Gini, dengan jadi orang telatan ketika datang ke lokasi, anda akan mendapati bahwa forum atau kumpul apapun itu yang harus anda hadiri akan sudah dimulai. Enak toh? Anda gaperlu jadi orang yang dateng awal2 dan mesti menunggu kawan2 anda yang lain yang telat datang. Misalnya ada kumpul jam 7, ya kira2 jam 7.15 lah anda berangkat dari in the kos ke titik kumpul. Kira jam 7.30 anda sampai lokasi, forum harusnya udah mulai. Rata2 kumpul ditunda setengah jamlah paling lama. Waktu lebih itu tentu bisa anda gunakan dengan lebih bijak, misalnya belajar di indekos, baca buku2 kanan kiri tengah di indekos, ngerjain tugas, tidur2an di kamar, mager2an dulu, atau malah bisa maen game dulu kan. Enak toh?! Paling cuma kelewatan bagian pembukaan dan pembacaan doa kan? Ya kalau menurut kamu doa ga penting kan lewat pun gamasalah.

Bukan cuma itu keuntungan menjadi orang yang telatan (telatan yo bukan telaten apalagi teladan), ada efek domino lain. Kalau kamu datang on time kemungkinan kamu akan cuma berdua sama ketua yang ngumpulinnya nungguin amggota yang lain, paling banter baru bertiga atau berempatlah. Kurang dari setengah full team. Terus? Ya kalau misalnya kamu dateng on time terus cuma berduanya sama perempuan sih mungkin masih enak ya bisa pendekatan2 gitu lah. Lah kalau berduanya sama laki2, jangan sampai kamu dianggap homo sapiens aja karena berduaan sama laki2. Masih mau on time?

Takut dicap tidak berintegritas karena sering telat? Gausah khawatir. Kamu kan bebas menjadi diri kamu yang kaya gimana. Gausah dengerin kata orang lain. Albert Einstein aja pernah bilang gini,
“ikutilah kata hati walau negara memerintahkan sebaliknya,” nah kamu udah dapet legitimasi untuk ikutin kata hati kamu untuk telat, untuk santai2 dulu. Kan beres tuh, ya tulis aja izin telat di daftar hadir konfirmasi. Kalau yang ngajak kumpul itu protes sama kamu karena kamu telat, itu urusan gampang lagi. Setelah kamu kasih quote Albert Einstein, kamu kasih pepatah lama juga “better late than never,” lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Kamu kasih unjuk aja sama dia “masih mending gua telat, daripada si A kaga dateng! Blee (sambil melet),” beres dah, argumenmu muantep pisan lek!

Dari saya terakhir. Gamasalah juga harusnya kamu telat masuk kelas. Emang kamu masih berpikir kamu perlu dosen? Kan dosen yang perlu kamu buat gajian kan? Lagian kamu juga kan gamasalah ketinggalan pelajaran setengah sampai dua jam doangan mah. Otak secerdas yang kamu miliki pasti bisa ngejar pelajaran. Masalah absen? Ya itu sih gampang kalo kamu telat dan masih bisa masuk kelas tetep bisa absen, kalo sampe gamasuk kelas tinggal tipsen ke temen. Ah indahnya jadi manusia telatan, tidak bergantung dan tidak digantungkan orang lain. Mulai sekarang siap kan untuk menjadi telatan di setiap kondisi? Karena alam butuh keseimbangan, ada yang on time ya mesti ada yang telat. Kalau ga gitu berarti yin dan yang tidak bekerja dengan baik. Siap kan jadi agen perubahan?!

Like what you read? Give Muhammad Hafidz Fauzan a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.