Catatan Mahasiswa Desain Interior Usai Sidang Akhir

Terlintas saya teringat celetukan seorang teman saat perjalanan menuju kota Malang di bulan Januari 2018. Dalam bahasa suroboyoan kami berdiskusi tentang proyek Tugas Akhir yang memang pada saat itu kami sedang bersiap-siap untuk melakoninya di semester 8. Pada suatu momen teman saya berpendapat mengenai proses riset data Tugas Akhir, yang pada intinya adalah “Laporan TA itu tujuh puluh persen omong kosong. Bagian dari laporan yang bukan omong kosong itu cuma bab 2, bab kajian pustaka. Kalau kamu ditanya dosen penguji, kamu bisa langsung menyingkat argumenmu dengan pernyatan, “ saya memang ingin objek ini memiliki desain seperti ini, pak / buk.”.”


Tanpa pikir panjang saya langsung membenarkan kemudian termantuk sambil tertawa sedikit terbahak -bahak. Seolah tak langsung membenarkan omong kosong yang saya tuangkan berlembar-lembar di bab latar belakang dan analisis data. Terlebih lagi objek interior yang menjadi kajian Tugas Akhir saya bukanlah objek favorit teman-teman saya seperti hotel, kafe, bandara, rumah sakit, galeri, museum, dll. Saya mencoba out of the box dengan memilih objek desain yang bersifat eksperimental, futuris, dan visioner, singkatnya secara abstrak saya mencoba menciptakan fasilitas baru yang tentunya memiliki legitimasi permasalahan kontemporer, dengan memodifikasi objek desain yang sudah masal terbangun di area outdoor, yang kemudian dieksprerimenkan untuk dipindahkan sebagai objek interior, lalu diasimilasikan dengan konsep teknologi serta penegasan-penegasan semiotika. Ya, singkat cerita, saya membuat fasilitas simulasi total manasik haji indoor yang mendobrak pakem outdoor yang sudah berdiri di asrama-asrama haji maupun lembaga swasta.


Salah seorang teman wanita saya pernah berujar bahwa sudah seharusnya proyek Tugas Akhir yang lebih dari satu semester kami kerjakan dapat bermanfaat bagi masyarakat. Paling tidak cukup memberikan dampak kecil saja terhadap stakeholder yang kami minta datanya sebagai backingan proyek Tugas Akhir. Sedangkan selama ini print-out laporan TA yang kami serahkan ke departemen dan perpustakaan pada akhirnya akan berdebu di rak buku dan tak lama lagi akan menjadi sampah dalam rentang waktu dua tahun.


Cukup lama sebenarnya sebelum pernyataan teman saya tersebut kembali teringat. Berawal dari diskusi tersebut saya berpikir, apakah suatu saat hasil eksperimen Tugas Akhir saya dapat diapprove oleh stakeholder internal ( yayasan / perusahaan )dan eksternal ( pemerintah )? Mengingat keniscayaan batasan biaya yang didiktumkan oleh stakeholder terkait. Belum lagi pengaruh dunia digital yang sedang berkuasa tentu memudahkan pelaku-pelaku usaha dapat memaksimalkan aktivitasnya di dunia maya untuk memangkas biaya operasional, karena jika ditinjau dari urgensi pengadaan proyek yang selain membutuhkan biaya investasi lebih, dunia digital mampu memberikan solusi-solusi pragmatis, sehingga fasilitas bentuk fisik tidak lagi diperlukan.


Pertanyaan di atas sebenarnya sedikit mendegradasi passion saya untuk melanjutkan object development yang sedang dijalani. Sampai saya menemukan legitimasi untuk memelihari ide-ide liar di kepala saya. Di salah satu channel Youtube saya menemukan sebuah wawancara yang dilakukan mahasiswa Teknik Arsitektur UGM dengan narasumber idola saya, yaitu Imelda Akmal, salah satu tokoh yang mendedikasikan dirinya di dunia penulisan, publikasi, dan kritik arsitektur. Beliau memaparkan, yang pada intinya ada sedikit keuntungan menjadi seorang mahasiswa yaitu dapat berpikir bebas, liar, bahkan sebisa mungkin harus menjadi radikal tanpa memikirkan variabel-variabel riil yang memiliki implikasi kuat terhadap pasar dan suistainability produk, jasa, atau firma yang bersangkutan.


Namun nafas radicalism thinking itu tidak bertahan lama. Pada saat saya sedang asyik ber-looping ria dengan analisis data dan konsep desain, saya merasa ada beberapa hal yang dimana seorang mahasiswa desain interior tidak memiliki kapabilitas untuk melakukan hal-hal tertentu diluar kajian desain. Menurut saya, idealnya kami harus bekerja sama dengan seorang ahli di bidang lain yang dibutuhkan. Seperti melakukan riset diluar aspek-aspek desain interior, korelasi atmosfer interior terhadap daya jual sebuah retail maupun eskalasi penggunaan jasa contohnya, mahasiswa manajemen lebih memiliki kemampuan lebih untuk meriset topik tersebut. Atau efektifitas sebuah metode pembelajaran yang dipengaruhi formasi layout furnitur, tentunya mahasiswa pskilogi lebih ahli. Dan yang paling klise adalah stereotip mengenai peningkatan jumlah wisatawan domestik maupun mancanegara yang disebabkan oleh desain interior terminal bandara atau terminal lain, yang mengangkat kearifan lokal daerahnya. Sebuah stereotip yang sampai saat ini saya belum menemukan indeks korelasinya. Bahkan saat sidang akhir saya mendapatkan pertanyaan dari dosen penguji yang mengharuskan untuk menjawab seolah-olah saya pemilik institusi pengelola objek desain interior yang sedang saya teliti. Haruskah kita pasrah mendesain ria hanya dengan legitimasi strereotip-stereotip yang belum tentu kuat implikasinya? Tentunya riset yang abal-abal ini menyebabkan bias dalam menentukan prioritas masalah, batasan masalah, yang pastinya berimplikasi kuat terhadap ketepatan konsep desain. Akibatnya konsep desain yang telah didiktumkan dapat menjadi “topeng” untuk dalih pembenaran-pembenaran atas ego kita sebagai desainer agar mendapatkan ruang gerak untuk bereksplorasi di ranah visual dan estetika. Namun tentu saja eksplorasi yang berlebihan ini belum tentu berbanding lurus dengan visi well properly designed yang menjadi harapan seluruh stakeholder proyek.


Belum lama ini, pada FAA #44, Arsitek prinsipal ARA Studio Surabaya, Hermawan Dasmanto berujar, kurikulum perkuliahan arsitektur di Indonesia tidak mengajarkan kita untuk menjadi arsitek, tetapi hanya mengajarkan design thinking. Beliau menambahkan, variabel-variabel yang ada di Tugas Akhir bukanlah sesuatu yang riil. Oleh karena itu, mahasiswa arsitektur yang baru saja lulus belum pantas dikatakan sebagai arsitek. Hal ini dapat juga berlaku bagi calon desainer interior yang akan terjun di dunia praktik. Bahkan Hermawan Dasmanto sampai mengeluarkan celetukan, “harusnya ketika kalian yang fresh graduate kerja di orang, logikanya kalian yang bayar, bukan perusahaan yang bayar kalian. Bener, kan? Kalian kan belum bisa apa-apa. Kan sama aja kayak kalian itu sekolah lagi. Tapi bedanya ini dibayar.”


Saya sejutu dengan pernyataan beliau. Dalam tahap pra-desain, dari lima kali pengalaman mendesain di studio perancangan, ketika sedang melakukan komparasi terhadap beberapa alternatif desain yang saya buat, saya selalu menggunakan metode baku yang diajarkan oleh dosen di mata kuliah metodologi desain, yaitu weighted method atau metode pembobotan. Singkatnya dalam weighted method, ini saya harus mengambil paling tidak tiga kata kunci ( boleh kurang dan lebih ) dari konsep desain untuk kemudian diberi pembobotan nilai berdasarkan aspek mana yang ingin ditonjolkan dengan pertimbangan urgensinya. Namun metode ini mulai “ditelanjangi” oleh teman saya yang sedang melakukan diskusi pra-sidang Kolokium 1 bersama beberapa teman di kelas, dimana salah satu poin penekanan di sidang K1 adalah pemilihan alternatif desain beserta parameter-parameter yang jelas, yang kemudian akan dikembangkan lebih lanjut pasca sidang.


Hal yang bermasalah dari weighted method ialah atas dasar apa kami harus membuat tiga alternatif desain? Jika kami sudah membuat alternatif desain berdasarkan prioritas tiga kata kunci konsep desain, atas dasar apa kami menekankan kata kunci a di alternatif I, kata kunci b di alternatif II, dan kata kunci c di alternatif III? Ketika itu kami menyimpulkan bahwa pertanyaan-pertanyaan itu muncul karena tidak ada batasan-batasan yang jelas dan riil dalam proyek Tugas Akhir. Seperti limit of budget, termin waktu, tipikal atau watak klien ( bukan studi pengguna ), dan keterbatasan material. Jika batasan-batasan riil tersebut diterapkan dalam proyek Tugas Akhir, maka sesungguhnya proses pra-desain proyek Tugas Akhir beserta pemilihan alternatifnya akan menjadi lebih ilmiah dan obyektif, tidak berdasarkan ego desainer idealis yang bersembunyi di balik topeng metodologi.


Tapi perlu diketahui, saya bukanlah tipikal pendebat ulung jika kebenaran sudah di depan mata, terlebih lagi ketiku kebenaran itu dipampangkan langsung oleh dosen tepat di muka saya.


Pada intinya, dunia praktik dan dunia akademik seperti dimensi yang berbeda. Tidak apa, cobalah untuk menjadi radikal saat duduk di meja studio, namun bersiaplah untuk kecewa dengan stereotip-streotip yang kamu ciptakan sendiri perihal dunia nyata.


Seperti pernyataan seorang teman saya, “Laporan TA iku sakjane yo, tujuh puluh persen iku bullshit, cik!”

Like what you read? Give Hafizh Faishal Wahyu a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.