Tentang cita-cita

Bukan manusia
Sep 9, 2018 · 2 min read

Waktu kecil dulu, kalau ditanya cita-cita pasti saya akan jawab “arsitek!” karena sepertinya asik betul merancang dan membangun sesuatu berdasarkan apa yang saya mau. Seiring berjalannya usia dan meningkatnya kesadaran kalau saya bukanlah seseorang yang teliti dan gak suka nggambar, keinginan jadi arsitekpun sirna dan digantikan dengan menjadi wartawan. Pikiran menjadi wartawan muncul karena Bapak adalah mantan wartawan dan sepertinya mengejar-ngejar narasumber untuk menanyakan sesuatu yang dinanti-nantikan masyarakat adalah pekerjaan yang gak kalah kerennya dari arsitek. Tapi semakin tua lagi saya, kok ternyata minat dan ketertarikan saya semakin hilang di bidang itu. Saya memang suka menulis dan membaca, namun rasanya kegiatan itu saya lakukan bukan dalam rangka saya ingin menjadi wartawan. Membaca dan menulis adalah suatu kesenangan lain yang membentuk diri saya.

Sementara saya lupa, ada kegiatan yang terus menerus saya lakukan tanpa saya merasa bosan, bahkan sepertinya amat sangat saya cintai karena setiap kali saya selesai melakukan hal tersebut, ada perasaan meluap-luap yang gak pernah bisa saya tepis. Kegiatan itu adalah mengajar anak-anak. Beberapa bulan belakangan saya sadar kalau saya pingin betul jadi guru tk. Kalau ada yang tanya apa cita-cita saya sekarang, ya jawabannya adalah mengajar, jadi guru tk. Merancang sesuatu untuk kemudian dilakukan dengan manusia-manusia kecil yang bisa jadi bakal mengompol di celana kalau ada kecoak. Meladeni pertanyaan dan keinginan anak-anak sampai saya limbung. Kalau ada yang tanya kenapa, ya karena saya senang. Saya suka. Saya bahagia. Perasaan-perasaan seperti itu yang selama ini luput dari perhatian saya karena terlalu fokus pada ‘menjadi apa’ yang semestinya dipikirkan orang-orang dewasa secara realistis. Sampai saya alpa, bahwa jawaban ingin menjadi apa adalah sesuatu yang berasal dari diri saya sendiri.

Bertahun-tahun saya mengikuti banyak kegiatan dengan anak-anak, bertahun-tahun saya mendapatkan banyak cerita dan uang jajan dari situ, bertahun-tahun pula saya merasakan pengalaman bahagia, tapi bagaimana bisa saya baru sadar bahwa kegiatan itu adalah kegiatan yang ingin sekali saya lakukan untuk menjadi diri saya? Bolehkah saya menjadi sangat nyinyir untuk menyalahkan pemerintah atas brengseknya sistem pendidikan yang selama ini sudah mati-matian saya tempuh? Ataukah saya harus menyalahkan orang tua dan saya sendiri karena terlalu terlambat mewadahi diri untuk menemukan apa yang benar-benar saya senangi?

Apapun itu, kini saya senang saya bisa menjawab pertanyaan yang selama beberapa tahun terus mengendap di kepala. Saya. Ingin. Menjadi. Guru. TK.

Terlepas dari segala macam antitesis yang akan mencuat nantinya, biarkan tulisan ini menjadi bukti utuh idealisme saya. Kalau beberapa tahun nanti saya berakhir di belakang meja korporasi dengan setumpuk kertas yang harus saya selesaikan, setidaknya, tulisan ini adalah pengingat kalau saya pernah berjuang menuju diri saya sendiri.