Aplikasi dan etika ? Apa salahnya ?

Penggunaan aplikasi sudah menjadi hal yang lumrah pada belakangan ini, baik yang berbentuk web maupun aplikasi yang di install di HP masing-masing. Semakin memudahkan aplikasi tersebut, maka akan semakin banyak pengguna (biaya, pendapatan, dan investor) yang berdatangan. Dampak negatif apa sih yang ada dari adanya aplikasi ? Bukannya aplikasi selalu memudahkan ? Lalu kenapa bawa-bawa etika segala ? Tujuan penulis hanya ingin sedikit memberikan info terkait dampak apa yang mungkin dibuat oleh aplikasi sekaligus apa saja yang menimbulkan hal demikian.
Apa salahnya aplikasi ?
Jawaban pada umumnya adalah tidak ada. Aplikasi ada karena adanya permasalahan suatu user yang ingin dipecahkan dalam pembuatan aplikasi tersebut. Jadi, hadirnya aplikasi jelas
Lalu, masalahnya apa ? Masalahnya ada pada bagaimana cara monetisasi, cara meningkatkan jumlah pengguna, dan stickiness.
Pengembangan dan pemeliharaan aplikasi (biaya server, gaji DT dan kebutuhan lainnya) membutuhkan banyak sumber daya, dan uang tidak terhindarkan dari kebutuhan itu. Karena demikian, maka perusahaan harus berjuang untuk mendapatkan perhatian, traksi dan juga, yang paling penting, profit.
Bagaimana cara membuat profit yang tinggi ? Menaikkan margin atau jumlah transaksi yang dilakukan. Langkah pertama sulit dilakukan kecuali oleh mereka yang berada di lahan monopoli. Dan langkah yang lazim dilakukan adalah langkah kedua, yaitu menaikkan jumlah transaksi.
Bagaimana caranya ? (Asumsi : hanya ada 1 lini produk)
Yang pertama adalah dengan menambah jumlah user aktif (Ex : Diskon pembelian pertama, flash sale, specific time discount, iklan di koran)
Yang kedua adalah meningkatkan jumlah transaksi yang dilakukan per user (Ex : Daily Login, targeted ads, targeted promo)
Apa yang salah ? Tidak ada lagi ! User hanya secara tidak sadar diambil datanya saat berada di suatu halaman website (data yang diambil tidak bersifat sensitif), untuk kemudian diserahkan kepada pihak penyedia ads (ehem Google). Hasil pencarian kita di web mereka pun menjadi hal yang “menghantui” kita. Dengan seluruh iklan menjadi barang tersebut. Hal ini sekaligus membuat kita bertanya kapankah GDPR ada cikal bakalnya di Indonesia.
Ah cuma gitu aja, biasa kali ! Udah wajar, jangan kaku gitu ah!
Oke, gimana kalau mereka berusaha mengubah sesuatu di pikiranmu ? Apakah sudah cukup menyeramkan ? :D
Studi kasus gojek
Cara lain yang sangat bagus adalah dengan menciptakan reward loop untuk penggunaan suatu aplikasi. Reward loop ini apa ? Simpelnya, reward loop ini akan terbagi menjadi tiga tahap : trigger > action > reward. Trigger adalah suatu kondisi yang menyebabkan suatu tindakan terjadi. Misalkan trigger melakukan pemesanan gojek adalah kewajiban untuk masuk kantor. Action adalah aksi yang dilakukan di aplikasi, dalam hal ini pemesanan gojek. Sedangkan reward dapat diartikan sebagai keuntungan dari melakukan aksi tersebut. Contohnya adalah sampai di tempat tujuan atua mendapatkan go poin.
Apa salahnya ? Dengan berulangnya hal itu hingga jumlah tertentu, maka hal ini dapat berubah menjadi habit atau kebiasaan.
Cuma kebiasaan aja sih, gausah lebay.
Habit atau kebiasaan adalah sesuatu yang dilakukan seseorang, bahkan bisa dengan tanpa disadari. Jadi, kita bisa secara ga sadar melakukan stau kebiasaan. Hal ini juga berarti bahwa menjadi lebih nerima perubahan tarif yang tidak signifikan ataupun ketika sedang ada di kondisi tidak normal (co : sedang liburan). Dan ketika hal itu sudah menjadi kebiasaan, good luck rewire your brain :D.
Lalu apa hubungannya sama etika ?
Ketika suatu aplikasi dibuat untuk membuat adiksi user, apakah hal ini etis ? Bila suatu sistem dirancang untuk spesifik mengeksploitasi kemampuan menggunakan analitik user, apakah hal ini etis ? Apabila suatu tombol dirancang khusus agar salah klik agar memberikan kesempatan suatu ecommerce memberikan newsletter, apakah hal ini etis ?
Secara bisnis, hal ini tentu penting dan akan ada beberapa sudut pandang yang memberikan pendapat bahwa user akan menggunakan bila membutuhkan, dan hal ini bukan eksploitasi dalam bentuk apapun. Namun, silahkan berhenti sebentar dan memikirkan ke etisan suatu tindakan dari sistem.
Namun bukan hanya berhenti disitu. Apakah anda mengetahui program go lucky gojek ? Yep, sebuah kesempatan emas untuk meraih uang hanya dengan poin. Namun, bukankah ini lotere digital yang diragukan legailtasnya ?
Lotere darimana ? kan ga beli tiket dan ga punya monetary value diluar platform itu ? Yap benar ! Go points didapatkan setelah ada transaksi dari gojek dan hal ini didapatkan secara cuma cuma. Namun, hanya setelah melakukan transaksi, hal ini membuat go points memiliki keterikatan dengan monetary value suatu barang yang dibeli, implying semakin banyak pakai semakin banyak kesempatan menang.
Sayangnya hal ini juga tidak sepenuhnya benar. Coba kalau misalkan pada saat ini sudah ada 10 orang yang berpartisipasi, masing-masing membeli 1 entry. Lalu anda masuk, peluang menang anda adalah 1/11. Dengan membeli tiket kedua, peluang anda adalah 2/12. Berarti, dengan setiap pembelian tiket, maka tiket anda akan memiliki devaluasi untuk setiap tiket yang dibeli > 1.
Yang mungkin tidak disadari adalah, hal ini, walaupun dalam jumlah kecil, membentuk atau mempromosikan suatu gambling habit. Dalam skenario yang sebaik-baiknya, pengguna akan berusaha menggunakan sebanyak mungkin go-points untuk harapan memenangkan sesuatu, dibanding menggunakan go points untuk ditukar dengan promo yang lain yang ada di gojek (dan memiliki monetary value).
Hal ini bisa saja menguntungkan, karena tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk menutup biaya promosi dan cukup memberikan hadiah kepada sekian pemenang saja.
Jadi, ketika aplikasi-aplikasi yang ada di pasar mengambil data anda tanpa anda tahu apa yang diambil dan untuk apa saja, mengundang adiksi user untuk menggunakan aplikasi, mengubah kebiasaan dan otak user, mempromosikan kebiasaan buruk dan melakukan praktek yang dipertanyakan legalnya, apakah hal ini etis ? Atau praktek ini adalah sesuatu yang harus diterima saja oleh konsumen ?
Choose wisely :)