Mengumpat Puthut EA dalam “Para Bajingan Yang Menyenangkan”

Credits: Google Images

Saya membeli buku ini secara tidak sengaja dan tidak diniati. Ketika mengunjungi salah satu toko buku favorit saya kemarin, saya sama sekali tidak bertujuan untuk membeli buku ini, jangankan membeli, melirik pun tidak. Tetapi sepertinya ada intervensi dari kekuatan keris sakti milik Bagor yang menarik saya kepada rak yang berisi jejeran buku ini sehingga saya memutuskan untuk mengambilnya kemudian saya lunasi di meja kasir.

Butuh waktu 2 jam untuk saya selesai membaca 163 halaman dari buku ini dan beberapa omongkosong yang ingin saya tuliskan lahir setelahnya..

Puthut EA yang cerdas memainkan emosi pembaca. Itu kesan pertama saya ketika selesai membaca bagian satu. Dimulai dengan kalimat pembuka yang memberitahukan pembaca bahwa untuk menulis kisah kecil ini ia mulai dengan doa, sesuatu yang begitu spesial karena jarang ia lakukan. dalam paragraf kedua, ia menyiratkan satu kalimat yang cukup emosional, setidaknya bagi saya. Dia menulis begini:

saya punya seorang sahabat. Bahkan saya tidak sanggup menulis namanya disini. Ia adalah salah satu sahabat terbaik saya. Kini ia sudah almarhum.

Kalimat per kalimat dituntaskannya dengan baik. Saya mulai membayangkan bagaimana perasaanya ketika ia menulis baris-baris tersebut, ada perasaan yang setengah mati ia tahan ketika membayangkan segala hal yang telah sama-sama mereka lalui, antara sedih sekaligus hampir-hampir pecah, tetapi kemudian ia kembali menguatkan dirinya sendiri dengan percaya bahwa sahabatnya saat ini sedang tertawa bersama Tuhan, entah bagaimana caranya. paragraf-paragraf pembuka di awal cerita membuat saya hampir saja meneteskan air mata, tetapi itu berlangsung sebentar saja, bahkan bisa saya katakan berlangsung lebih cepat dari satu tarikan nafas. Bajingan memang!
 pada halaman berikutnya, ia mulai menceritakan awal pertemuan mereka yang sungguh teramat sangat menyentuh: hobi bermain judi. lalu diikuti dengan slogan yang mereka bangga-banggakan: kami tidak ingin dewasa.

betapa malunya saya pada diri sendiri ketika berpikir cerita ini akan berlangsung dengan situasi-situasi yang membuat saya gampang menangis dan bersedih, tetapi saya salah besar. Puthut membawa pembacanya kembali kepada masa-masa melankolis dimana ia dan sahabat-sahabatnya yang menghabiskan masa muda dengan hal-hal tolol tetapi itu semua ia ceritakan dengan cara yang ciamik: pembaca ikut menertawakan ketololan-ketololan mereka. Ketololan yang natural dan tidak dibuat-buat. Ketololan yang membuat pembaca (seperti saya) ingin memiliki sahabat yang sama tololnya dengan mereka, ketololan yang sungguh betul-betul (meminjam istilah almarhum). Tidak berhenti sampai disitu saja, saya dibuat terpana dengan cara Puthut merangkai peristiwa yang dilalui dengan teman-temannya yang sama tololnya dengan dia, dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti tetapi kau bisa merasakan bagaimana Puthut sedang membahasakan rasa sayangnya: ia mengenal satu persatu temannya dengan begitu baik. Hingga sedang asyik-asyiknya kau terpingkal-terpingkal, sedang asyik-asyiknya tertawa ngakak, ia menutup bagian pertama dari kisahnya dengan menarasikan bagaimana hancurnya dia ketika mendapat kabar salah satu sahabatnya –yang susah payah ia sebut namanya– meninggal karena kecelakaan. Sekali lagi, Puthut mengatakan:

“sebagai sahabat, saya sangat kehilangan. Tapi saya mau mengenangnya dengan cara saya. Bukan dengan kesedihan. Bukan pula dengan kegembiraan. Saya ingin mengenangnya dan mengekalkannya dengan cara seperti ini. Di buku ini.”

begitu tenang nada yang ia siratkan dalam kalimat-kalimat tersebut, tetapi ada sesuatu yang seperti menusuk-nusuk hati saya sebagai pembaca dan cukup membuat saya memutuskan untuk berhenti sejenak sebelum masuk lebih jauh ke bagian selanjutnya. Asu!

Bagor yang tolol dan dicintai. Saya cukup sesalkan mengapa perjalanan hidup bajingan satu ini bisa terbilang mulus dan juga cukup beruntung. ndak pinter-pinter amat tetapi suka membodoh-bodohi orang, bagaimana ceritanya mbak Irma bisa jatuh cinta dan nekat menghabiskan sisa hidup dengan dia, saya penasaran. Gor.. Gor… betul-betul.

tetapi, terlepas dari hal-hal yang saya sesalkan, Bagor adalah sebenar-benarnya definisi dari bajingan yang menyenangkan. Saya tidak bisa bayangkan bagaimana masa muda seorang Puthut tanpa sebiji Bagor. maksud saya, seorang Bagor. pasti ra bakal saru-saru amat, ah maksud saya, seru-seru amat. Bagor itu manusia dengan segudang kejutan. Temannya pun banyak. Menurut apa yang dituliskan Puthut, Bagor adalah manusia yang diberkahi dengan kejeniusannya dalam bergaul dan membangun komunikasi dengan lingkungan sosialnya, (walau kemudian saya sedikit tidak percaya setelah tahu dia pernah dihajar habis-habisan karena berani menggertak aparat terlebih dahulu saat ia terlibat demonstrasi) sampai disini, saya sebagai pembaca bingung dimana letak kejeniusan Bagor dalam hal ini.

Berteman dengan Bagor adalah kesiapan mental menghadapi semua kelakuan dan manuvernya. Tapi disitulah saya belajar menyiasati situasi.

Begitu kata Puthut.

(Itu baru salah satu contoh pemakluman yang Puthut lakukan, masih begitu banyak pemakluman-pemakluman yang lain dan tidak mungkin saya tuliskan disini. Kau harus membaca buku ini sendiri.) kau tahu apa artinya ini? Bajingan ini dicintai. Puthut menghabiskan banyak halaman untuk menceritakan Bagor, cukup banyak jika dibandingkan dengan perkiraan awal saya. Namun, tidak saja dicintai, Bagor pun mencintai teman-temannya dengan caranya sendiri, cara-cara yang terkadang susah dinalar dengan akal dan lebih susah diterima dengan adab. Tetapi itulah yang membuat Bagor menjadi Bagor, he’s the one.

After all this time? Always. Sebagai pembaca, saya jarang dibuat menangis karena sebuah buku. Apalagi yang isinya sebagian besar tentang kehidupan sekumpulan anak muda tolol yang cenderung tak bermoral, seperti mereka, bajingan-bajingan ini, yang menamai kelompok mereka dengan sebutan Jackpot Society, tetapi Puthut berhasil. Padahal, kalau kau membaca buku ini, takkan kau temukan baris-baris romantis berisi penggalan-penggalan perasaan yang dibahasakan secara tersurat. Tidak ada. (walau memang Puthut menyebut dirinya sebagai aktor romantis di salah satu halaman dalam buku ini), tetapi sekali lagi ia berhasil. Tidak dengan bahasa yang muluk-muluk. Hanya dengan menceritakan kembali ketololan mereka semasa muda dan ternyata ketololan itu sepertinya masih terbawa sampai sekarang dan saya baru menyadari, cita-cita mereka untuk tidak ingin menjadi dewasa benar-benar mereka dapatkan dan mereka hidupi. Puthut mengakhiri cerita dalam buku ini sama seperti ketika ia mengawalinya. Cintanya terhadap teman-temannya dan kilas balik kenangan tentang almarhum.
 Puthut menulis:

Usai saya ingatkan kisah itu, kami tertawa terpingkal-pingkal. Obrolan telepon kami akhiri, mendadak saya jadi galau ketika sadar sebuah mobil-mobilan dilintaskan ke muka saya. Oleh Kali. Anak laki-laki saya.

Jleb!

Setelah bertahun-tahun kemudian, bajingan-bajingan ini menua tetapi tanpa mendewasa. Bukan hanya Puthut, Almarhum dan Bagor yang tergabung dalam Jackpot Society ini, ada lagi Kunthet, Proton, Babe serta teman-teman mereka lainnya yang tidak bisa saya bahas semuanya disini. Kepanjangan dan saya tidak tahan berlama-lama di depan monitor hanya untuk menyelesaikan omongkosong ini. kau beli saja bukunya. saya jamin uangmu tidak terbuang sia-sia, kalaupun toh terbuang sia-sia, setidaknya kau tidak sesial mereka yang sering sekali berjudi dan jarang sekali menang.

Seusai membaca buku ini, tidak ada yang ingin saya sampaikan pada mas Puthut selain:

Kanca-kancamu ki cen kaya asu! Goblok! Kelakuannya nggilani. Tetapi saya tidak bisa pungkiri kalau saya dengan bangga menyebut diri saya sebagai pengagum Jackpot Society berserta jajarannya. Judul bukumu ndak nipu, mereka benar-benar para bajingan yang menyenangkan. Dan akan terus menjadi para bajingan yang menyenangkan.

Salatiga, 2017