Festival Berdarah

Image illustrated by Aisah Novita (http://instagram.com/haiaisaa
“Timpuk terus, jangan kasih ampun!”

Suasana di kampung Cikareumbi, Bandung Barat, Jawa Barat akan berbeda di akhir pergantian musim. Semua warganya turun serta dalam festival paling berdarah se-Indonesia.

Laki-laki, perempuan, orang tua hingga anak-anak, semua menjerit terkena hujan timpukan dari sesama warga. Ada yang terkapar, ada juga yang terlihat puas layaknya seorang psikopat.

Pemerintah setempat mengeluarkan status darurat, dan setiap warga yang lewat disana diwajibkan untuk memakai pelindung lengkap. Karena kita tidak bisa membayangkan keutuhan nyawa kita pada momen tersebut.

Festival berdarah ini bukan seperti tawuran antar kampung, antar suku, agama, ataupun konfrontasi militer. Bahkan, sesama sanak saudara sekalipun akan terkena timpuk hingga bercucuran darah. Festival ini diadakan demi menjunjung datangnya musim yang baru. Pure chaos.

Semua yang tewas dalam festival ini, akan dibiarkan membusuk, dan bercampur dengan kotoran-kotoran hina yang tidak bisa kita bayangkan. Tapi, pemerintah Indonesia tidak pernah memberikan respon secara khusus mengenai festival berdarah ini.

Bahkan, orang-orang asing yang ada di daerah ini tidak luput dari sasaran timpukan warga. Warga tidak pernah takut hal tersebut akan merusak hubungan diplomatis antara Indonesia dengan negaranya. Jika kamu ada disana, maka, salahkan keberadaanmu di waktu yang salah.

Pak Maman, beliau adalah sesepuh di sana. Beliau telah berhasil bertahan hidup dari tragedi ini selama puluhan tahun lamanya. Anak beliau dibiarkan merantau ke tempat lainnya sehingga tidak terlibat dalam tragedi tahunan berdarah ini.

Tahun ini, Aceng, anak satu-satunya sekaligus anak kesayangan dari Pak Maman akan pulang ke kampung halamannya karena khawatir pada orang tuanya yang semakin sepuh. Aceng rela bertaruh nyawa untuk pulang disaat yang tidak tepat.

Maklum, Aceng adalah seorang pegawai negeri sipil di kota yang berjarak sekitar 150 km dari kampungnya. Sebagai seorang PNS dengan waktunya yang terbatas, tentu ia jarang bertemu langsung dengan bapaknya.

Tiga setengah jam perjalanan dengan mobil membawa ia sampai di kampungnya pada saat siang hari. Tepat saat festival berdarah sedang berlangsung.

Betapa terkejutnya ia melihat jalanan kampungnya penuh dengan warna merah darah, ada orang-orang bertameng, orang-orang tergelepar, dan orang-orang dengan mata menyala yang siap menimpuk siapapun yang lewat hingga berdarah-darah.

Mobil avanza putih miliknya tak luput dari cipratan merah darah. Mobil yang semula berwarna putih cerah berubah menjadi merah legam dan berbau busuk. Tapi ia tidak peduli. Ia ingin cepat sampai di rumah.

Sesampainya di rumah, belum sempat ia mengganti baju, ia langsung mencari ayahnya. Pak Maman tidak ada di rumah. Ternyata beliau ada di dalam kerumunan festival berdarah.

Aceng lari sekuat tenaga menuju kerumunan, pikirannya sudah tidak berpola lagi. Sesampainya di tengah kerumunan, ia bertemu dengan ayahnya. Namun, ayahnya juga memiliki mata merah menyala seperti warga lainnya. Tatapan penuh nafsu pembunuh.

Pak maman tersenyum setelah bertemu anaknya, seketika beliau langsung melemparkan beberapa kali timpukan ke arah Aceng, hingga bajunya ikut turut berubah warna. Aceng terkejut, ia bahkan terkena serangan dari tragedi ini. Oleh ayahnya sendiri.

Aceng yang masih kaget, sontak melemparkan beberapa timpukan balasan ke kepala ayahnya yang memakai caping pelindung.

Aceng tertawa.

“Pak, ini seru sekali”