Tukang Cukur Paling Dibenci

Tanam
Tanam
Jul 10, 2017 · 3 min read

Wagiman adalah tukang cukur handal di daerahnya. Sudah puluhan tahun ia memuaskan pelanggan atas hasil cukurannya. Namun, bukan kisah sukses yang akan saya ceritakan. Ini adalah kisah pilu tentang Wagiman dan koleganya yang mulai dibenci oleh masyarakat dunia.

Pada awalnya, Wagiman, dan beberapa koleganya memulai bisnis sebagai tukang cukur di dataran sedang daerah Temanggung. Ia percaya bahwa cukur rambut adalah gaya hidup dan suatu ketika akan menjadi kebutuhan masyarakat banyak. Dan benar saja, usaha Wagiman dan koleganya selama puluhan tahun membuat Temanggung menjadi salah satu kota pencukur rambut terbesar se-Indonesia.

Teknik perawatan dan pencukuran rambut Wagiman memang luar biasa. Dengan sedikit banyak polesan gel dan pomade, ia berhasil membuat banyak pelanggan puas dengan hasil kerjanya. Ia juga rajin memberikan vitamin rambut agar rambut pelanggan cepat tumbuh kembali dan dapat segera dicukur sesuai dengan permintaan.

Kadang-kadang rambut pelanggan yang dicukur pun tidak selalu rambut panjang. Ada yang masih pendek, namun tetap diminta untuk dicukur. Benar kata Wagiman dulu, cukur rambut kini adalah suatu kebutuhan.

Tak tanggung-tanggung, para penikmat hasil cukuran dari Wagiman juga datang dari kalangan besar, pengusaha. Sebut saja beberapa konglomerat yang berpusat di daerah Kudus, Malang, Surabaya, dan kota-kota lainnya. Mereka datang jauh-jauh hanya untuk menikmati cukuran rambut. Demi gaya hidup.

Mereka yang tamak juga sering bertindak nggak adil kepada Wagiman. Mereka suka mencuri teknik Wagiman dan mengakui bahwa itu miliknya. Setiap para pengusaha ini pamer hasil cukurannya kepada masyarakat, mereka langsung merasa tinggi hati dan berkata bahwa cukuran dari teknik mereka merupakan yang terbaik. Dan memang, justru pengusaha-pengusaha tersebut lebih makmur dan dikenal daripada Wagiman.

Wagiman dan koleganya sejatinya memang hanya rakyat kecil yang minim sumber daya. Oleh karenanya, Wagiman dan koleganya sering mengajak anak-anaknya untuk turut serta membantu bapaknya dalam proses pencukuran.

Namun, bekerja bersama anak-anak bukan suatu hal yang baik untuk dibayangkan.

“Pak’e, rambute ambune pol. Aku nganti ra kuat. Mumet pak” Tanya anaknya yang baru berumur 11 tahun.

“Lha wes dinikmati wae, itung-itung latihan gawe” Jawab Wagiman

Hal yang sama juga dikeluhkan oleh anak-anak kolega Wagiman sesama tukang cukur. Anak-anak ini sering mengeluh berkata bahwa tidak kuat dengan bau rambut pelanggan. Kadang mereka sampai pusing hingga muntah-muntah. Mereka tidak kuat dengan bau rambut yang tercampur dengan lapisan pomade atau gel yang digunakan sehingga menghasilkan bau yang sifatnya toksik.

Tetapi anak-anak tersebut tetap berbakti kepada orang tuanya. Buktinya mereka tetap setia membantu pekerjaan bapaknya sebagai tukang cukur rambut senior. Indra penciuman anak-anak memang lebih sensitif dibandingkan orang tua.

Walaupun sudah disarankan memakai masker, tapi tetap saja bau rambut pelanggan tetap tembus. Apalagi kalo rambut tersebut dalam kondisi basah.

Kisah anak-anak ini rupanya sudah menarik perhatian warga nasional maupun internasional. Mereka geram dengan perilaku Wagiman sebagai ayah yang memaksa anaknya untuk bekerja sebagai tukang cukur. Mereka tidak segan-segan membuat ultimatum atau petisi untuk menolak hasil cukuran Wagiman dan koleganya.

Atas laporan tersebut dan beberapa laporan kerugian lainnya tentang cukur rambut, lembaga kesehatan PBB atau WHO akhirnya merilis bahwa setiap tanggal 31 Mei diperingati tentang Hari Tanpa Cukur Rambut Internasional. Sementara pemerintah nasional juga telah menetapkan Kawasan Terbatas Cukur Rambut di berbagai area publik.

Kini, Wagiman dan koleganya merasa tersudut. Pekerjaannya sebagai tukang cukur rambut terancam. Namun nun jauh disana, masih ada orang-orang yang mengidolakan Wagiman dan para koleganya walaupun tidak menerima jasa mereka secara langsung.

Tanam.

Karena semua hal diawali dengan menanam.

Author : Danang Adriansyah

Tanam

Written by

Media Propaganda Pertanian

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade