Memaknai pendidikan tuhan dari sebuah keinginan

Alun-alun ponorogo jawwa timur

Malam ini terlalu sunyi untuk menuangkan makna pada rentetan kata. ketenangan jiwa ingin menulis kembali segala apa yang tak pasti.

Ibarat pemahaman yang kurang, sebuah tiang tak akan pernah mampu untuk dijadikan penopang kehidupan. inilah fitrah yang selalu di rundung keinginan tiada tara, tak pernah berhenti untuk mendapatkan segala yang di inginkan, menginginkan lebih dari apa yang telah mereka dapatkan, serta mendapatkan apa-apa yang belum pernah ia temukan. sampai akhirnya letih menghampiri, sampai akhirnya tubuh bermandikan peluh, mereka tak akan pernah berhenti walau sebenarnya nanti juga akan segera pergi.

Selang detik tak pernah berhenti berdenting, mengantar manusia pada masa yang tak pernah mereka duga. hingga akhirnya segala kenyataan ada pada persimpangan jalan, berbeda dengan apa yang telah di impikan. keinginan hanyalah pemicu diri untuk bergerak dan melangkah. sedangkan perbuatan adalah suatu simbol penghambaan. memaksakan kehendak diri hanya akan membuahkan emosi.

begitu banyak hikmah dari setiap realita yang bisa dijadikan guru untuk selalu bijaksana. bagaimana ikan-ikan kecil mampu bertahan hidup ditengah ganasnya badai. namun inilah cara tuhan untuk mengajari bahwa sesungguhnya tak sebutir debupun yang lepas dari janjinya.

begitu banyak fakta dalam realita. tak cukup hanya dengan menggukana dua bola mata ataupun logika, hati juga harus ikut terlibat didalamnya agar yang tak tampak dapat terlihat.

Terkadang pendidikan seperti jarum yang menusuk pada kulit luka untuk menghentikan aliran darah. menyakiti untuk memperbaiki.

maka jadikanlah angan-angan dan keinginan sebagai senjata motifasi kehidupan karena setiap nikmat adalah untuk disyukuri bukan dikufuri.

pahamilah dengan hati agar nikmatnya mudah disyukuri.

-hamim sta-

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.