Negeri Tanpa Ayah
Waktu tidak pernah berhasil melaju mundur dan mengubah apa yang telah terjadi. Berdetaknya detik tidak menunggu siap atau tidak, jalannya kadang tanpa disadari sudah terlampau jauh sekali.
Kali ini waktu mau membantu pikiran untuk menembus 3 dekade yang lalu. Seorang pria berusia 30 tahun, genap mengubah status lajangannya, untuk mendirikan sebuah bahtera bersama seorang wanita. Hidup bersama membangun Negeri dan tak ada pilihan lain selain dia yang menjadi Kepala Negaranya.
Untuk menjalankan peran yang tidak terputus (hanya ajal yang memberhentikan) di tahun-tahun kedepan, maka diangkatlah wanita pilihannya itu untuk menjadi seorang Perdana Menteri. Posisi itu resmi ketika lahir seorang anak. Anak dari seorang Kepala Negara yang sah bernama Ayah, dan Perdana Menteri bernama Ibu.
Anak menjadi Rakyat mereka, untuk diurusi, diawasi, diberi ilmu, dikasihi, disayangi, dididik, dan segudang fasilitas lahir dan batin sejak dia ada hingga Rakyat itu bisa hidup mandiri.
Fasilitas yang seharusnya tidak bisa dibeli oleh materi. Tidak bisa dialihkan peran kepada para Tenaga Kerja di Negara itu. Kepala Negara dan Perdana Menteri wajib menjadi tangan pertama dalam bertumbuh dan berkembangnya rakyat-rakyat mereka.
Dua rakyat Tuhan berikan kepada mereka pada setengah dekade kebersamaan. Kemudian menjadi 3, ketika jarak waktu dari akad adalah tujuh tahun. Dan prahara paling pelik dari Negara itu dimulai.
Ketika peran Kepala Negara tidak hanya mengurusi Negaranya, melainkan bertambahnya kedudukan di Lembaga tempatnya dia bekerja, mengumpulkan pundi-pundi sebagai sumber daya untuk Negara. Gelar General Manager dinobatkan setelah dia mendedikasikan diri selama 15 tahun, di Lembaga raksasa.
Maka sudah jelas betapa rumitnya pikiran. Tergadainya waktu, tapi materi mudah mengalir tanpa pertimbangan. Tidak. Ini hanya berlaku bagi Kepala Negara yang jiwa dan pikirannya penuh untuk Lembaga bekerja saja.
Banyak Kepala Negara yang berhasil seimbang urusan antara Negara dan Lembaga bekerja.
Barangkali waktu berperan penting. Karena detiknya adalah pengingat. Dalam 24 jam, apakah bisa dibagi untuk 3 bagian, waktu untuk Negara, Lembaga bekerja, dan dirinya sendiri dengan Tuhan.
Meski berhasil dinobatkan menjadi pekerja berprestasi hingga tahta naik terus menerus. Tapi nominasi Kepala Negara yang gagal, justru namanya ada disana juga.
Rakyat yang ketika masa emas bukan tumbuh di tangannya. Dia menyewa Tenaga Kerja untuk diam di rumah dan menyerahkan sebagian urusan termasuk menjaga Rakyat, disamping Perdana Menteri sibuk pada urusan Negara lain dan peran ganda sebagai pekerja di salah satu Lembaga swasta.
Sebagai seorang berpendidikan tahu betul untuk menjadikan Rakyat terdidik adalah hal penting, maka dari itu dia sekolahkan para Rakyat ke sekolah yang menjanjikan dan melahirkan generasi intelek. Berhasil, untuk ketiga Rakyatnya.
Pertanyaan yang seringkali tersirat dalam benak adalah 'mengapa para Rakyat tidak bersedih ketika Kepala Negara meninggalkan Negara untuk urusan Lembaga lain?'. Namun tidak pernah ditanyakan langsung, waktu untuk bertanya pun tidak sempat.
Rakyat yang apa-apa bergantung kepada Pembantu Negara, Pengajar, bahkan kadang tidak memerlukan siapapun dalam urusannya. Terbiasa dalam kemandirian, yang terpaksa sejak masa pertumbuhan.
Kepala Negara tidak pernah menyadari bahwa yang Rakyat butuhkan sebenarnya bukan hanya soal materi, mereka justru tidak terlalu butuh Pembantu Negara yang selalu ada 24 jam. Namun Rakyat tak mampu mengutarakan, karena tak tau bagaimana caranya. Sebab seakan semua kebutuhan terpenuhi, padahal tidak. Ada kebutuhan utama yang jauh tak terlihat, tapi dia terasa. Dan begitu sadar saat mereka sudah besar.
Ada kekosongan yang tak pernah terisi, oleh Kepala Negara, pun oleh Perdana Menteri. Ya, sebagaimana Kepala adalah otak, maka Perdana Menteri hanya ikut arahan dari rencana sang Kepala.
Ruang kosong itu terlampau jauh terlewati, harusnya terisi sejak dini. Karena jika terlambat, ruang itu akan diisi oleh hal-hal yang tidak tepat. Jikapun Rakyat menemukannya kelak, tidak mudah untuknya mengubah karena barangkali dalam isinya sudah berkerak. Oleh dunia sekitar yang tidak pernah bertanggung jawab pada siapa saja yang mau menjadi bagian dalam kendalinya.
Perahu itu berlayar tanpa arah. Rakyat mengantongi beberapa gelar, perhiasan, tahta, namun baginya itu tidak berarti apa-apa. Ada yang hilang, tapi dia tak tau apa, apalagi Kepala Negaranya.
Hingga jawaban itu lahir dari lisan Kepala Negara lain, yang membuat Rakyat banyak belajar, sebagai Kepala Negara pengganti dan tentu lebih nyaman berada di dekatnya.
"Iman adalah tonggak sebuah pusaka. Kemanapun perahu akan berlayar, tanpa iman lama-lama akan tenggelam, itu kalau tidak terselamatkan. Jika masih selamat, akan terus berlayar, tapi tak tahu muaranya".
Waktu tidak lagi mengantarnya pada partikel-partikel masa lalu yang ingin ia benahi. Karena kini tanggannya sedang menggenggam erat tangan laki-laki yang akan menjadi Kepala Negara baru bagi Rakyat bungsunya, untuk bertukar kalimat sakral pembuka gerbang kehidupan baru yang dinamakan akad pernikahan.
Kepala Negara bak ada sembilu dalam hatinya, betapa ia merasa tak berperan dalam menumbuhkan iman kepada para Rakyat. Sehingga mereka harus mencari tahu sendiri, terseok, terbentur, bangun kembali sendiri hingga kembali tegak.
Harga iman tidak bisa terbeli oleh materi. Tidak mungkin tumbuh apabila tidak saling menyentuh. Sadar di usia senja, tak bisa mengembalikan angan untuk memupuk bibit keimanan pada batin Rakyat, agar namanya kelak tersebut dalam barisan doa manusia paling berperan.
Yang ada saat itu adalah harapan. Agar para Rakyat yang sudah bertransformasi menjadi Kepala Negara dan Perdana Menteri menjalankan peran sebaik-baiknya. Tidak membiarkan sebuah Negeri tak tahu muaranya.
Semoga harapan itu tidak lebih pecah daripada hiasan kaca yang jatuh dari ketinggian tatanan barang mewah.