Terbatasi Perbedaan.

Aktivitas lalu lalang kendaraan hari itu bisa dibilang jarang. Lima langkah, satu kendaraan. Lima langkah, sepi. Lima langkah berikutnya berpapasan dengan sepasang muda-mudi yang tengah berbicara melalui tatap.

Sudah jam berapa ini ? Jam 11 malam dan masih enggan untuk melangkahkan kaki lebih cepat. Seharusnya excited untuk menjemput 2/3 S.T. yang kurang dari dua-belas-jam lagi, tapi kenyataan tidak berkata demikian.

Perhatian malam itu tertuju pada separator jalan yang diberi default warna hitam-putih. Mungkin agar terlihat perbedaan kontras saja atau ada maksud lain yang tersembunyi dibalik dua warna yang sama-sama berada di ujung-ujung barisan yang berbeda pada ukuran pixel 8 bit, entahlah. Separator jalan selalu dibuat konsisten memisahkan dua lajur yang berlawanan arah tanpa ada jeda, kecuali jika memang ada persimpangan yang terpaksa memutuskan konsistensinya.

Kenapa dua lajur yang berlawanan arah diberi separator ?

Untuk memberikan batas pada hal-hal yang berbeda.

Sebenernya batas itu apa sih ?

batas/ba·tas/ n
1 garis (sisi) yang menjadi perhinggaan suatu bidang (ruang, daerah, dan sebagainya); pemisah antara dua bidang (ruang, daerah, dan sebagainya)

Batas yang seringkali ditemui memang berbentuk rigid, nyata, dan ada. Wujudnya terdefinisikan agar tidak menimbulkan persepsi yang berbeda serta memiliki standar — biasanya digunakan untuk menyeragamkan. Batas seperti ini tentu saja sering digunakan untuk membatasi secara fisik, seperti batas antar kavling A dan B, batas antar lajur pergi dan pulang, batas antar provinsi, batas antar negara, dll.

Lalu adakah batas yang rigid, nyata, ada, namun wujudnya tak terdefiniskan? Maksudnya batas yang diakui keberadaannya namun tetap menimbulkan persepsi yang berbeda?

Ada.

Ada batas yang entah dimulai sejak kapan memiliki definisinya sendiri-sendiri, lekat dalam paradigma masing-masing individu, membatasi hal-hal yang (terpaksa) selalu diterima tanpa bantah — walaupun beberapa pernah mempertanyakan.

batas antara hari ini dan esok, yaitu 24 jam.

batas antara pagi dan malam, yaitu ada dan tiadanya cahaya.

batas antara kemungkinan dan kemustahilan, yang bertemu dalam sepengal harapan yang diakhiri kata ‘amin’

dan batas antara aku dan kamu, yang dapatkah menjadi kita ?

Beberapa hal terjadi di luar kuasa kita, sebab beberapa hal tersebut sepenuhnya adalah ketetapan Tuhan.

Jadi, tolong tanyakan Tuhanmu, apakah aku yang bukan umat-Nya boleh mencintai hamba-Nya?

.

.

.

PS : pembaca bebas berasumsi, namun penulis menyarankan jangan.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.