Menolak Kamuflase Makna

Perkenalkan, aku Matahari. 
Aku memang menjadi pusat orbit banyak planet di galaksi bima sakti, namun hanya satu yang selalu menarik perhatianku. Jika kau penghuni Bumi, kau pasti sering mendengar kalimat perumpamaan oleh seorang pengajar agama disana untuk menjadikan aku teladan, karena aku mencintai bumi tapi mendekat pada sang kekasih justru membinasakan. Memang seperti itulah kami berdua. Kalau menurut manusia jaman kini, aku dan bumi sedang menjalani hubungan jarak jauh, ya sekitar 149,6 juta kilometer. Jauh ya ? Sampai rasanya banyak sekali rindu yang tak sanggup untuk ku tahan lagi. Sejujurnya, aku dan bumi tidak bisa disebut hubungan jarak jauh karena bumi tak pernah tahu bahwa aku mencintainya. Bukan, bukannya tidak tahu, tapi aku tidak ingin bumi sampai tahu.

Hai hai, aku Bumi.
Kamu pasti tau aku karena aku satu-satunya planet di galaksi bima sakti yang menampung banyak kehidupan. Akhir-akhir ini, aku sering mendengar keluhan manusia tentang kenaikan suhu diriku kemudian menyalahkan matahari. Mengorbit pada matahari telah menjadi kebiasaanku sejak ribuan tahun yang lalu. Dia bercahaya dan aku merasa hangat hanya dengan menatapnya. Perasaan macam apa ini ? Entahlah. Namun kemudian, ketika aku sadar aku cinta, aku memilih diam. Tak akan pernah ada sedetikpun kesempatan yang mengijinkan aku mendekat padanya. Karena detik dimana aku mendekat pada matahari, cepat atau lambat akan membuat kita berdua binasa. Dan aku tidak menginginkan itu terjadi.
Di sisi lain, jarakku lebih dekat dengan bulan. Banyak sekali peristiwa-peristiwa yang melibatkan aku dan bulan yang terlihat menakjubkan bagi manusia. Aku yakin manusia pasti menyukai bulan karena terlihat memberikan cahaya ditengah kegelapan. Jika saja manusia tahu bahwa keindahan yang mereka lihat pada bulan merupakan pantulan sinar dari matahari, akankah mereka berubah pikiran ?

Halo, aku Bulan.
Apa yang bumi katakan tentang aku ? Pasti tidak banyak ya. Aku telah menemani bumi cukup lama dan bohong kalau aku tidak mencintainya. Selama ini, aku pikir bumi akan menyukaiku jika aku selalu berada disampingnya. Aku pikir bumi akan mulai memperhatikanku saat manusia seringkali memuji keindahanku. Aku pikir suatu saat nanti waktu dapat memindahkan perasaannya padaku. Ternyata tidak. Ternyata aku salah. Ternyata aku lupa kalau perasaan seringkali berpihak pada hal-hal yang tidak terpikirkan, yang tak sanggup dijelaskan logika. Lalu menurutmu, apa yang sulit dari mencintai ? Bagiku, ketika tidak ada lagi kesempatan untuk mengungkapkan yang belum terucapkan.


Jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul 22.30 ketika sebuah forum di organisasi jurusanku selesai. Tanggung jawab tak tertulis (baca : moral) ternyata mampu menahan diriku untuk tetap berada di sana hingga akhir. Tanpa basi-basi, aku langkahkan kaki sesaat setelah forum resmi ditutup. Semilir angin malam setia mendampingiku sekaligus menjadi pengingat bahwa aku berjalan tanpa teman — hanya sendiri saja.

Suhu Kota Bandung malam itu lebih rendah dari biasanya. Ku pikir sekitar 20 derajat celsius. Selangkah demi selangkah ku susuri trotoar yang baru diresmikan. Nyaman, rapih, dan ada tambahan lampu jalan sejak terjadi pembegalan beberapa waktu silam. Masih Bandung yang sama, bisik ku pada diri sendiri. Masih Bandung yang sama di jam 11 malam, dengan sepi yang mampu mendekapku dengan perasaan cemas , namun sekaligus mampu menenangkan.

Tak terbayangkan beberapa bulan kedepan, setelah wisuda sarjana aku tuntaskan, maka kata-kata perpisahan harus ku ucapkan pada kota ini. Sulit bagiku meninggalkan Bandung, kota yang menyimpan banyak cerita. Bukan hanya cerita, namun mereka, tokoh-tokoh dalam cerita. Sudahlah, jangan terpaku pada perpisahan yang belum terjadi agar tak menjadi sebuah lahan baru untuk tumbuhnya kecemasan.

Aku kembali pada pergelutan pikiranku. Melihat sekeliling, lampu kuning yang menghiasi jalan, dan orang-orang yang masih berlalu lalang dengan kendaraannya. Hampir tengah malam. Ku langkahkan kaki sedikit cepat, ditemani beberapa pikiran yang masih meminta untuk dicari titik ujungnya. Hingga akhirnya ada satu pemikiran yang membuatku tersenyum kecil, simpulan subjektif yang tak perlu kamu tanya apa dasarnya.

Analogi Matahari, Bumi, dan Bulan merupakan sedikit contoh bahasan ringan dikala logika ingin sejenak beristirahat dan perasaan mengambil bagian. Bukan mencoba untuk mem-personifikasi matahari, bumi, dan bulan tapi hanya untuk memberikan identitas bagi tokoh-tokoh utama. Matahari diceritakan sebagai tokoh yang tidak ingin memberitahu perasaannya pada tokoh yang dituju karena berpikir lebih baik demikan. Bumi diceritakan sebagai tokoh yang menyimpan perasaannya dalam diam karena menganggap bahwa tak akan pernah ada jalan untuk bersama dengan tokoh yang diinginkan. Bulan memilih untuk tenggelam dalam penyesalan karena tak ada lagi kesempatan untuk mengungkapkan yang belum terucapkan. Bukankah kita juga pernah mengalami hal serupa ? Aku pernah, menjadi bumi atau sesekali menjadi matahari.

Walaupun cerita tokoh-tokoh tersebut terfokuskan pada hal beraroma romansa, bukankah sesungguhnya perasaan lebih luas dari itu ? — dari sekedar romansa. Sayang, kesal, cinta, benci, kecewa, bahagia, khawatir, gembira, bahkan ada beberapa perasaan yang tidak memiliki sebutan resmi alias tidak (mampu) dideskripsikan secara sempurna. Dan ketidakmampuan untuk mendeskripsikan itu pula yang membuat kita seringkali terjebak dalam hal-hal yang membuat kita berakhir seperti matahari, bumi, ataupun bulan, dikalahkan oleh sebuah dugaan.

Sesungguhnya, hal yang ingin aku sampaikan kali ini adalah perihal mengungkapkan. Oke, ku buat lebih jelas menjadi lakukan apa yang ingin kamu lakukan, katakan apa yang ingin kamu katakan, sebelum terjadi perubahan makna dan yang tersisa hanya ke-sia-sia-an. Aku pun masih mencoba, walaupun sulit. Setidaknya, dari mencoba aku tahu, sudah melakukan walaupun tak dihiraukan dan sudah mengatakan walaupun tak didengarkan, lebih baik daripada tidak melakukan dan tidak mengatakan apapun. Karena aku tak ingin lagi berkawan dengan sepi, terlebih hanyut dalam penyesalan tak bertepi.

Dan semoga kalimat lama ini dapat menjadi penutup sekaligus pengingat untuk tidak hanya sekedar mendengarkan. Karena terkadang, makna memilih bersembunyi dibalik kalimat biasa dan sederhana,

there are million ways to say ‘i love you’
“put your seat belt on”
“watch your step”
“get some rest”
you just have to
LISTEN.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Hani’s story.