LI(N)E Square

LINE Square adalah salah satu fitur chat yang ditawarkan oleh media sosial LINE. Di sana, seseorang bisa bergabung dan ngobrol dengan orang lain tanpa menggunakan identitas aslinya dalam sebuah ruang yang berisikan sampai ribuan orang. Mungkin niat awal adanya LINE Square ini adalah untuk berdiskusi mengenai hal-hal yang menjadi minat bersama anggota square tersebut bersama dengan orang-orang asing sehingga tidak menggunakan identitas asli membuat chatting dengan orang asing terasa lebih aman.

Beberapa LINE Square di sekitar kita, mahasiswa ITB, seperti Deru Ganesha,dll juga merupakan media untuk berdiskusi mengenai isu-isu di ITB. Dari square tersebut informasi-informasi mengenai isu-isu kampus sangat cepat menyebar. Di satu sisi, saya rasa sebenarnya itu tidak masalah, karena memang di era sekarang, informasi memang sudah sangat cepat menyebar. Hal ini bisa jadi masalah jika isu-isu yang diedarkan di square tersebut merupakan suatu kebohongan atau hoax. Anggota square tersebut tidak perlu menggunakan identitas aslinya untuk menyebarkan suatu informasi sehingga rasa tanggung jawab atas kebenaran informasi yang disebar pun dapat diabaikan. Orang cendrung tidak takut untuk asal menyebarkan informasi saja walaupun informasi tersebut belum tentu benar. Hoax ini dapat menggiring opini publik ke arah yang salah jika terlalu banyak orang-orang disquare tersebut yang tidak mencerna dan memverifikasi informasi-informasi yang dia terima dari square tersebut dengan baik. Tentu tidak ada yang bisa mengontrol siapa mau ngomong apa di square tersebut sehingga perlu kesadaran masing-masing untuk mencerna dan memverifikasi segala informasi yang dia terima dari square tersebut.

Tentu orang-orang mempunyai kecendrungan untuk ingin mengetahui gosip-gosip yang beredar. Ada rasa senang tersendiri jika suatu orang tahu mengenai gosip-gosip yang ada di sekitar dia. Akan tetapi, jika kita sepenuhnya menyadari bahwa gosip-gosip/informasi-informasi yang disebar di suatu square belum tentu benar, kita dapat memanfaatkannya untuk menjadi suatu square sebagai media untuk kita belajar berpikir kritis. Belajar menelaah argumen dengan baik, belajar melihat falasi-falasi pada suatu argumen, dll. Tentu saja hal tersebut membuat orang dapat berpikir dengan baik sehingga kedepannya dia bisa menghindari falasi-falasi yang mungkin dilakukan, mendeteksi falasi-falasi pada suatu argumen dengan lebih lancar dan juga tidak lupa untuk selalu terbiasa memverifikasi suatu informasi ke orang yang memang punya kemungkinan untuk mengetahuinya (misalkan ke kahim atau senatornya).