Kejatuhan Hati : Cinta, Keluarga, dan Idealisme

Pasca terjadinya peristiwa 1965, yang menjadi sejarah kelam negeri ini, perempuan menjadi yang paling tenggelam karyanya, utamanya mereka para perempuan-perempuan progresif yang dianggap komunis, dan melenceng dari kodrat. Kekerasan budaya terhadap perempuan yang terus menerus dilekatkan oleh pemerintah Orde Baru memang telah merenggut banyak karya, termasuk karya Rukiah di dalamnya. Novel sekelas Rukiah harusnya bisa sejajar dengan novel-novel Pramoedya Ananta Toer, tapi apa boleh dikata Rukiah, karyanya masih tenggelam juga, bahkan mungkin hingga saat ini.

Foto : dokumen probadi

Dalam Kajatuhan dan Hati, Rukiah mampu menghadirkan sebuah kisah romansa yang di mulai dari permasalahan di lingkungan keluarga, alur cerita yang dibuatnya pun cukup sederhana, tetapi ketajamannya dalam mengungkapkan apa yang ada di pikirannya ketika di hadapkan dengan lingkungan keluarga dengan watak-watak yang berbeda yang menjadikan cerita ini sangat apik dan menarik untuk dibaca.
Seperti apa yang dikatakan Eka Kurniawan dalam pengantarnya, Rukiah menghadirkan sejenis arsitektur kekuasaan dalam bentuk keluarga kecil, di puncak kekuasaan adalah sang ibu, dan ini jelas keluar dari stereotip ‘ayah yang berkuasa’. Cerita ini kemudian menjadi lebih menarik lagi dengan penggambaran tiga watak yang dipilih Rukiah, Kakaknya bernama Dini dengan watak seorang perempuan pemberontak, ia memilih terasingkan ketimbang harus manut pada aturan Ibu-nya. Kemudian kakaknya yang kedua bernama Lina, yang justru di gambarkan memiliki karakter yang berbeda jauh dengan Dini, selain fisiknya yang cantik, Lina juga penurut, sehingga jadi kesayangan ibunya. Dan watak terakhir dan pemeran utamanya adalah Susi, seorang anak perempuan yang mempunyai watak yang bisa dikatakan “setengah-setengah” karena dalam penggambarannya ia tidak membenrontak sampai di asingkan seperti Dini, tetapi ia juga tidak terlalu penurut seperti Lina, penggambaran adanya sebuah pergolakan batin di diri Susi menjadi bagaimana cerita itu dimulai.

Ibu Susi yang memiliki sifat arogan, rakus, dan memandang segala sesuatunya lewat harta benda, mengharuskan anak-anaknya untuk tahu diri, sang Ibu meminta anak-anaknya untuk kawin dengan laki-laki kaya, Dini yang sudah tertekan dengan sikap ibunya, memilih untuk pergi selepas lulus sekolah, baginya lebih baik ia mengawini cita-cita ketimbang harus kawin dengan lelaki pilihan ibunya. Dini memang selalu berani mengambil keputusan meski keputusan itu membuat ia kehilangan keluarganya. Sedangkan Lina yang penurut tentunya selalu manut apapun pilihan ibunya, meski tak ada rasa kasih, tetapi akhirnya Lina dikawinkan dengan seorang pria bekecukapan bernama Jono.
Saat Usia Susi menginjak 20 tahun, tibalah gilirannya dipaksa kawin dengan pria pilihan ibunya bernama Par, Susi yang saat itu sudah mulai berpikir, dan berkaca pada kedua kakaknya tadi mulai bergejolak batinnya. Sejak saat itu Susi sering bepergian, sampai akhirnya bertemu dengan Giatri, ketua pergerakan Putri, kemudian Susi menjadi penulis gerakan Buruh Wanita, dan juga ia mulai dekat dengan Ana, pengurus Palang Merah. Tekanan dari ibunya untuk kawin, akhirnya yang mendorong Susi untuk daftar sebagi relawan Palang Merah, sialnya saat jadi relawan ternyata dokter baru yang bertugas adalah Rustam, mantan Susi yang harus ia tinggalkan karena takut di tolak ibunya. Hadirnya Rustam menjadikan Susi gelisah, sampai akhirnya ia memutuskan kembali untuk ikut menjadi relawan bersama Dr. Mansur yang ditempatkan di pinggir kota, tentunya dengan resiko yang lebih besar karena di pinggir kota gerlyawan lebih banyak, dan penyerangan lebih sering pula.

Kehidupan di pinggir kota jelas lebih merubah hidup Susi, selain sudah terbiasa dengan darah dan orang-orang yang teluka sampai terpotong-potong, dalam bagian ini juga digambarkan berbagai macam karakter dengan ideologi yang menggebu-gebu. Ada Haris yang pendiam, Lukman, dan Harun. Harun yang digambarkan penggila sastra Amerika dan Rusia sekelas Tolstoy, Ilya, Destoyewsky, dan lain-lain, mungkin bisa dikatakan Harun menjadi sosok yang sangat humanis yang terisnpirasi dari bagaimana orang-orang Rusia membangun negara dan mencintai tanahnya sendiri. Celotehan harun tentang novel-novel sastranya, nyatanya juga membuat Susi penasaran, sehingga satu persatu buku-buku harun ia baca, maka Susi pun menjadi lebih tahu tentang sastra.
Namun Harun bukan sebagai pemeran utama yang bersanding dengan Susi, Lukman sang komandan yang nantinya berhasil menarik hati Susi. Lukman merupakan pemimpin laskar yang juga teman Mansur sering bolak-balik markas, dia paling kuat dalam menghadapi segala-gala, paling kosekuen dalam memagang prinsip atau keyakinan pandangan politiknya. Lukman adalah seorang komunis, ia selalu berbicara tentang cita-citanya melawan ketertindasan antar manusia dengan menggulingkan kapitalisme. Keyakinannya pada perjuangan radikal untuk pembebasan perbudakan tidak bisa diganggu gugat. Seiring berjalannya waktu Susi dan Lukman akhirnya menjalin hubungan atas dasar saling mengasihi.

Dalam perjalanan hubungan tersebut, Rukiah mampu membangun cerita dengan konflik batin antara Lukman yang sangat idealis yang rela mengorbankan segalanya untuk komunismenya, sedangkan Susi hanya seorang perempuan yang menolak semua narasi perjuangan tersebut, dan ingin mempertahankan perasaannya dengan Lukman. Pergolakan batin yang dihadirkan juga mengenai restu ibunya, yang sudah jelas akan menolak Lukman, karena lukman yang hanya bermodal keyakinan komunismenya, ia tidak kaya seperti yang ibunya harapkan. Perdebatan panjang keduanya, akhirnya berujuang pada keputusan penyerahan cinta, mereka melupakan sejenak menjadi manusia umum, dengan tuntutan adat, upacara dan moral yang manusia sendiri ciptakan, mereka akhirnya bercinta, sebagai bentuk penyatuan.

Klimaks dari cerita ini, adalah ketika pemerintah akhirnya menetapkan bahwa pergerakan yang dilakukan Lukman, Mansur dan kawan-kawan dianggap pemberontakan, markas akhirnya di bubarkan. Dalam bagian ini pembaca dibuat nanar dengan sebuah perpisahan dan perdebatan, mana yang harus dipilih tetap mempertahakan komunisme dengan terus berjuang untuk pembebasan, atau memilih cinta, sebagai tanggung jawab dari apa yang telah mereka lakukan. Tetapi pada akhirnya perpisahan itu terjadi juga, Lukman memilih mempertahankan ideologi dengan janji kembali kepada Susi dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Sedangkan Susi memilih pulang kepada keluarganya, kembali mendengarkan celotehan ibunya yang menyuruhnya untuk tetap kawin dengan Par.

Setelah dua tahun akhirnya Susi pulang dengan kondisi keluarganya yang semakin berantakan, ibunya yang sakit, ayahnya yang semakin kurus karena tersiksa batinnya, dan Lina yang sekarang sudah menjadi ibu rumah tangga beranak satu. Rasa berdosa Susi kepada ibunya akhrinya kembali berkecambuk, setelah melihat kondisi keluarganya, pada kenyataannya sejauh apapun ia pergi menghindar, tetap kalah juga, janji-janji dalam dirinya untuk membahagiakan ibu itu akhirnya mengalahkan Susi, beberapa bulan setelah pulang ia akhirnya setuju menikah dengan Par, tetapi dengan peliknya kenyataan bahwa ia telah mengandung anaknya Lukman.
Kejatuhan dan Hati, berhasil membangun sebuah cerita yang berhasil menguras sisi emosional pembaca terhadap pergolakan batin dan keterkekangan dalam ranah keluarga, dengan pergolakan batin ketika berhubungan dengan seorang yang mempunyai idealisme yang tinggi. Selain mampu menghadirkan alur cerita dengan kompleksitas yang mudah dipahami, namun tragis, novel ini amat sangat mencerminkan realitas sosial di masyarakat kita, dengan narasi yang satir tapi tetap menohok, seperti saat Susi mengatakan “Kawin itu suruhan masyarakat, satu kehormatan bikinan orang-orang yang mengakku dirnya paling beradab dan paling bersusila..... dalam waktu upacara perkawinan inilah, mereka yang merasa dirinya bersusila itu menampakkan kelebihan harga manusianya dari harga binatangangnya”, menurut saya sebuah pesan yang masih relevan untuk disampaikan saat ini. Rukiah mampu merepresentasikan peliknya hubungan cinta jika disandingkan dengan standar keluarga, perbedaan pemikiran, dan juga tanggungan sosial yang harus dijalani oleh Susi.

Like what you read? Give Siti Parhani a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.