Memahami Spiritualitas Tanpa Mencederai Nalar

Simple Miracles (doa dan arwah) oleh Ayu Utami. Foto : Dokumentasi pribadi

Apa yang kalian pikirkan ketika berbicara mengenai spiritualitas? hal-hal yang tidak terlihat? metafisis? atau malah cenderung kepada agama? spiritualitas memang subyektif karena berhubungan dengan kepercayaan. Namun saya bukan mau membahas spritualitas secara umum layaknya sedang duduk di ruang kuliah psikologi, tulisan ini bermaksud mengulas buku Ayu Utami, Simple Miracles yang diklaim sebagai buku dengan spiritualisme kritis besutan penulis komunitas salihara tersebut.

Ayu Utami memang menjadi salah satu nama yang muncul karena konsistensinya menulis cerita dengan latar spiritualisme. Karya-karyanya yang pernah saya baca, seperti Saman, Larung, dan Bilangan Fu memang tidak pernah terlepas dari pesan-pesan yang berbau spiritualitas, di mana saya harus membaca dua kali untuk memahami makna dari cerita yang ia imajinasikan.

Buku dengan tebal hanya 177 halaman ini terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu Hantu, Tahun dan Tuhan. Pembagian tema dalam setiap babaknya juga menurut saya sesuai dengan forsi yang ingin dihadirkan si penulis, setiap konteksnya punya tingkatan yang berbeda. Ayu terbilang lihai menarik alur, dia membawa pembaca memahami sesuatu dari hal yang sangat sederhana. Misalnya saat ia memulai cerita dengan pembahasan Hantu dari cerita bibinya dan keponakannya Bonaficus yang indigo, ia mulai mempertanyakan segala yang tidak terlihat dari sana, tidak bisa dipungkiri bahwa hal-hal mistis adalah yang tergolong laku keras di negeri ini, film horror, maupun sinetron horror hampir selalu menjadi konsumsi masyarakat kita. Tapi pernahkah kita menanyakan hal yang paling dasar terhadap kepercayaan kita akan hal-hal yang tidak terlihat seperti hantu tersebut?

Mengapa terkadang kita ragu terhadap hantu yang tidak terlihat tetapi tidak pernah berani meragukan Tuhan yang juga tidak terlihat? Ayu Utami mengajak pembaca mempertanyakan hal yang paling dasar tersebut. Seperti yang Ayu Utami katakan bahwa mempercayai Hantu yang tidak benar-benar kita lihat adalah dengan menilai konsistensi dan reputasi. Apakah si yang empu-nya cerita konsisten dengan apa yang dia lihat, dan apakah dia juga punya reputasi yang baik, dalam artian dia tidak mempunyai sejarah sifat pembohong.

Kita masih bisa bersikap logis dalam mengolah data gaib: data yang tak bisa diverifikasi secara subyektif material. Data itu bentuknya pengakuan atau laporan. kita bisa menerima karena sumbernya dipercaya. Punya reputasi. Isi kesaksiannya konsisten dan koheren. Sekarang, tinggal mengolahnya tanpa mengkhianti nalar kritis” (84)

Mungkin jika semua orang menyadari akan konsistensi dan reputasi tadi, bisa saja mereka para pengais rezeki dari cerita-cerita horor yang tak masuk akal akan langsung bangkrut (baca : film dan sinetron). Kembali lagi ke pertanyaan Tuhan dan Hantu, Ayu Utami menarik garis dari standar ganda tadi antara Tuhan dan Hantu dalam hal kepercayaan, bagaimana kita begitu ragu terhadap yang tidak terlihat tetapi selalu merasa berdosa ketika mempertanyakan Tuhan yang belum pernah kita lihat, tapi tetap kita percayai? mungkin jawabannya Tuhan hadir dengan kepercayaan dan nilai-nilai yang harus manusia anut, serta mempunyai arah dan tujuan yang sudah dijelaskan dari awal, sedangkan hantu tak ada nilai dan arah yang jelas selain hanya kesenangan.

“Jika diumpamakan persamaan kepercayaan tentang hantu-hantuan adalah sama-sama tak bisa dibuktikan secara material dan obyektif. mereka juga membikin takut orang. perbedaannya hantu itu jangka pendek, Tuhan itu jangka panjang. Hantu tidak datang dengan paket nilai-nilai, Tuhan datang dengan etika dan ajaran. kepercayaan pada hantu tidak membuat kita kemana-mana, tetapi kepercayaan pada Tuhan membawa kita pada suatu arah yang ditakdirkan”

Kepercayaan selalu menyangkut dua pendekatan, yaitu cinta dan kekuasaan, ntah itu terhadap manusia maupun yang tidak terlihat sekali pun, tetapi perlu digaris bawahi pula jika pendekatan kekuasaan cenderung menghakimi, sedangkan ungkapan cinta cenderung mendramatisasi. Karena kepercayaan selalu bisa disalah gunakan kekuasaan, maka kepercayaan juga tidak bisa terlepas dari ekses kekuasaan, dalam kepercayaan bergama misalnya, justru yang paling rentan terhadap ekses kekuasaan.

Kita sama-sama tahu bagaimana Dark Ages di Eropa membuat agama memenjarakan nalar, mungkin menjadi salah satu contoh bagaimana ekses kuasa bisa begitu berbahaya memainkan kepercayaan manusia. Pada akhirnya, kepercayaan tanpa balutan nalar adalah mencederai nilai dasar manusia sebagai manusia berpikir, hingga akhirnya muncul masa di mana nalar dan spiritualisme tumbuh kembali seperti masa Renaissance. Tetapi tidak akan ada istilah nalar tanpa di baerengi dengan pertanyaan esensial dasar seperti tadi.

Spiritualisme kritis artinya kau menghargai yang tak terlihat tak terukur, yang spiritual, yang rohani, tapi kau tak tak mengkhianati nalar kritismu. Spiritualitas menyerupai yang feminin. ia memerlukan keterbukaan. Puncaknya adalah keterbukaan pada yang tidak bisa diketahui, sedangkan nalar menyerupai yang maskulin. ia membutuhkan kekakuan. Bernalar artinya harus siap dengan sikap menguji tanpa kesediaan menerima ketidaktahuan sama saja dengan penolakan semata-mata. Sikap terbuka tanpa kesediaan menerima ketidaktahuan sama saja dengan menutup diri. Tapi mengagungkan ketidaktahuan adalah kebodohan yang sangat berbahaya.

Kepercayaan terhadap Tuhan juga selalu berdampingan dengan do’a, bisa dikatakan bahwa do’a adalah substansi kerusial inti utama dari buku ini. Berdo’a bukanlah hukum, do’a adalah cinta keindahan, berdo’a adalah bagaimana cara kita berkomunikasi, ntah dalam bentuk apa pun caranya. Setiap mereka yang beragama tentunya berdo’a tetapi dengan ekspresi yang berbeda, yang terpenting dari itu semua adalah esensi, kebaikan apa yang hendak kita ucapkan dan minta. Saya terkadang suka gak ngerti bagaimana orang bisa mempermasalahkan bagaimana orang lain berdo’a, tanpa mau memahami esensi dari do’a itu sendiri, contohnya sebagian orang yang membubarkan tradisi seren taun laut, sebuah kepercayaan yang sudah ada sejak lima agama itu diakui di negeri ini, dan dengan alasan yang lebih lucu lagi bahwa itu adalah musrik.

Sungguh memang memaknai cara orang berkomunikasi dengan yang tidak terlihat sangat butuh keterbukaan pikiran, karena selalu ada tipe manusia yang merasa ia berhak mempermasalahkan orang lain karena merasa dia wakil Tuhan, mungkin juga itu bagaimana ekses kuasa bekerja mempermainkan dan menghakimi orang lain. Coba tanya diri sendiri sudahkah mencoba terbuka memahami esensi berdo’a sebelum menghakimi?

Terkadang saat kita berdo’a itu memiliki persamaan dalam esensi meski perbedaan dalam substansi. Sulit untuk melihat doa sebagai sebuah kemesraan berkomunikasi, jika sudah memandang perbedaan substansi adalah salah. Pendekatan kekuasaan, hanya akan melahirkan ketakutan, dalam zaman apa pun, ada tipe manusia yang dimotivasi rasa takut, mereka melakukan atau tidak melakukan sesuatu karena rasa takut. Orang yang terjebak dalam kotak biasanya hanya bisa melihat kotaknya, bukan nilai yang ada dalam kotak tersebut, konstruksi rasa takut hanya akan menyisihkan rasa keterbukaan dan menimbulkan kebenciaan. Padahal yang paling penting dalam berdo’a adalah sebuah sikap terbuka pada campurtangan ilahi juga dalam bentuk yang tidak diketahui, alias tidak empiris.

Buku ini mungkin tidak membedah spiritualisme kritis dalam konteks yang lebih teoritis atau semacamnya, seperti yang saya sebutkan di awal bahwa Ayu Utami menarasikan segalanya dengan sangat sederhana, dengan segala sesuatu yang sangat erat kaitannya dengan keseharian kita. Perjalanan dari Ayah, Ibu, dan Bibi si penulis yang sakit nyatanya mampu menjadikan cerita dalam buku ini menyentuh dengan pesan yang di sisipkan mampu membuat kita bertanya hal dasar dalam kepercayaan dan keyakinan. Kunci dari spritualisme kritis dalam buku ini adalah keterbukaan. Akhir kata dari ulasan buku ini, saya ingin mengutip apa yang Ayu Utami katakan :

“buah yang baik akan meningkatkan kemampuan akal budi untuk membuat penilaian. Semakin kau makan buah itu, semakin mampu kau menilai dengan jernih, sedangkan buah yang buruk, semakin kau makan semakin kau kehilangan nalarmu”.

Buku ini, mungkin bisa dikatakan sebagai buah yang baik, meski tak sebaik buku lain, tetapi setidaknya mampu men-trigger kita untuk berpikir dalam hal sederhana tentang makna paling dasar terhadap yang tidak terlihat dan kita yakini.