Delusi Kekompakan

Sebagai seseorang yang baru saja menikmati status sebagai mahasiswa, ada suatu tren budaya kampus yang menggelitik bagi saya, yaitu mengenai kekompakan. Mengadaptasi KBBI, definisi dari kompak adalah bersatu padu (dalam menanggapi dan menghadapi suatu perkara). Baru saja 3 minggu menjalani kuliah, telinga saya mulai familiar dengan istilah kompak. Bagi kebanyakan mahasiswa TPB, kekompakan seolah-olah mutlak diperlukan dan menjadi sebuah keharusan. Mungkin kalian sering dengar propaganda (re:bualan) yang intinya menyerukan bahwa “Fakultas A harus kompak karena kita itu keluarga”. Hal ini menjadi menarik ketika semua fakultas berbondong-bondong mengejar suatu titik, yaitu kompak. Seolah-olah kompak dijadikan indikator keberhasilan kelompok, standar kerennya suatu kelompok, dan parameter eksistensi kelompok . Lucunya lagi, kekompakan dijadikan pembanding antara kelompok satu dengan yang lainnya. Pertarungan adu gengsi terjadi, klaim sana-sini mengenai kelompok terkompak pun tak dapat dihindari. Akhirnya muncul suatu kebanggaan bagi kelompok yang mengklaim dirinya terkompak, dan kadang bisa bereskalasi menjadi arogansi tanpa esensi.

Hal itu diperparah ketika kompak dijadikan sebuah kewajiban yang dibalut dengan embel-embel tradisi. Tanpa mau berpikir panjang, banyak orang yang hanyut dalam arus delusi. Merekalah orang-orang yang tak pernah mau mengklarifikasi. Sebagai contoh, dalam suatu kelompok baru seringkali diberikan tugas untuk berkenalan. Setiap orang diwajibkan mengenal seluruh anggota kelompok tanpa terkecuali dengan batasan waktu tertentu. Ujung-ujungnya, agar kelompok itu makin kompak. Sungguh jenaka…. Bagi mahasiswa baru seperti saya, memang sih mengenal orang lain itu perlu, akan tetapi bila hal itu dijadikan sebuah keharusan dari orang lain dengan dibumbui batasan waktu apalagi dalam kelompok yang besar, rasanya hambar dan janggal. Bisa dianalogikan seperti saat kita dipaksa untuk buang air ketika sedang tidak kebelet. Sakit bukan?

Hal yang saya khawatirkan dari kekompakan adalah apabila kekompakan dimaknai secara buta dengan semboyan “solidaritas tanpa batas”. Sering mendengarnya bukan? Pemaknaan mentah tersebut dapat berujung pada matinya kebebasan berpendapat setiap individu, khususnya bagi kalangan minoritas. Anggota kelompok cenderung ikut-ikutan, tanpa tau alasan dan tujuan. Efek lain yang dapat ditimbulkan yatu munculnya mentalitas bergerombol (mob mentality). Efek derivatifnya pun bisa beraneka ragam. Contoh sederhananya adalah aksi-aksi yang dilakukan supporter sepak bola di Indonesia, yang acap kali berakibat negatif. Loyalitas berlebihan tanpa kesadaran pun akhirnya menimbulkan kericuhan. Senggolan sedikit dari kelompok lain dapat menimbulkan keributan. Inikah negara yang katanya berkebhinekaan?

Beberapa gambaran tersebut menimbulkan tanda tanya besar dalam benak saya. Rasa-rasanya hati kecil saya ingin berontak. Kompak seperti itukah yang diidam-idamkan? Bukankah paksaan menjadi kompak menimbulkan kekompakan yang fana? Memangnya apa sih manfaat kompak dengan merendahkan kelompok lain? Alih-alih menjadi kompak, justru diri kita termakan oleh delusi kekompakan itu sendiri. Menurut hemat saya, kekompakan yang seperti itu sudah melenceng dari esensi awalnya. Saya tidak mengatakan bahwa kompak itu suatu hal yang buruk, yang saya kritisi adalah proses dan metodenya. Seolah-olah kekompakan dijadikan dogma bagi kalangan tertentu yang harus ditelan mentah-mentah tanpa menelaah kembali esensi utamanya. Dibandingkan menggunakan istilah kekompakan, saya lebih suka menganalogikan esensi utama dari kekompakan menjadi persahabatan/kesetiakawanan. Alasannya simpel, istilah persahabatan lebih manusiawi. Sahabat tidak membutuhkan intervensi dari orang lain. Sahabat bisa lebih mengerti perasaan kita. Apakah orang yang dipaksakan kompak dengan kita bisa melakukan hal itu? Saya meragukannya. Itu sekadar pendapat saya sih. Kalaupun akhirnya menggunakan kata kompak, toh juga tidak apa-apa. Tetapi yang saya harapkan, kekompakan dimaknai sebagai suatu proses natural tanpa ada paksaan apapun dari pihak manapun. Jadi ya, keinginan untuk bersatu itu harus datang dari lubuk hati terdalam masing-masing individu. Saat setiap individu terpanggil hatinya untuk bersatu, disitulah kebersamaan akan terwujud. Seiring berjalannya waktu, feel kekompakan akan tumbuh dengan sendirinya. Bukan karena orang lain, tapi karena kita yang ingin.

Kekompakan ada bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk dirasakan. Tak perlulah memaksakan, karena dengan sendirinya hal itu akan datang. Selamat bersenang-malang!
Hanafi Kusumayudha/FTI 2016
Calon MG-KSSEP ITB