Jadi, beda atau sama?

Ada yang hilang di negeri ini, toleransi. Kasihan burung garuda kalo kayak gini terus, pegang pita bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika tapi rakyat Indonesia malah ngalor ngidul entah kemana pegangannya. Katanya semboyan bangsa? Bangsa yang mana ya? Haha

Ah, rasanya terlalu muluk-muluk kalo ngomong soal bangsa dan negara. Beberapa orang bahkan mungkin sudah lupa juga. Yaudah deh ganti konteks ke individu. Sekarang coba aku tanya, sebel nggak sih kalo kalian dibanding-bandingin sama orang lain? Contoh simpel biasanya seorang adik bakalan dibandingin sama kakaknya oleh orang tua. Memang sih, tujuannya mulia buat motivasi dan semangat, tapi pasti kita nggak suka kan digituin? Nah, terus pernah kepikiran nggak sih kenapa kita gasuka dibandingin? Bahkan seorang anak kecil tahu jawabnya. “Kan itu kakak mah bukan adek.” Terus artinya apa dong?

Karena setiap manusia itu berbeda

Coba bayangin kalo semua manusia di dunia ini seragam, nggak asik banget kan? Cuma masalahnya, kadang manusia itu lucu juga. Udah tau konsep kalo setiap manusia itu berbeda tapi tetep aja maksain kehendaknya. Kita tau hal itu tapi gamau nerima kenyataan dan konsekuensinya, dasar. Kita gamau dibandingin, terus ngeles dengan embel-embel berbeda, tapi sehari-hari membully teman atas nama perbedaan. Sungguh jenaka. Terus dari perbedan itu, emang harusnya gimana?

Nah, disinilah poin pentingnya, gimana kita menyikapi perbedaan tersebut. Kalo kita tengok dari sejarah, banyak banget kejadian menyedihkan yang terjadi atas nama perbedaan, perang. Entah perang antar negara, suku, agama, apapun itu namanya salah satu sebabnya yaitu karena perbedaan.

Kalo kita beda emang berarti kita musuh gitu? Ya kalo gitu semua orang musuh lah, lucu kamu. Perbedaan seharusnya mengajari kita untuk berpikiran terbuka dan menghargai orang lain, bukan malah jadi dinding pemisah untuk saling menghujat dan menebar kebencian. Itulah pentingnya toleransi, yang seharusnya dipahami oleh bangsa ini. Tapi belakangan ini kenapa ya kok negara ini gini amat? Eh jadi ke negara lagi, jangan deh.

Walaupun beda, pasti ada samanya

Sekarang aku coba ngelempar statement ngaco deh. “Walaupun berbeda-beda, setiap hal pasti punya kesamaan minimal satu.” Nggak percaya? Apa yang menyamakan kita dengan Habib Rizieq? Sama-sama manusia. Apa yang sama antara kita dengan pohon yang bergoyang? Sama-sama makhluk hidup. Hal sama apa yang ada antara aku dan kamu? Sama-sama saling suka, eh. Yang terakhir agak ngaco ya.

Kalo kita paham bahwa setiap hal punya kesamaan minimal satu, seharusnya itu cukup banget lah untuk jadi alasan bagi kita untuk saling membantu. Seminimal-minimalnya nggak mengganggu, merusak, atau membunuhlah. Kan kacau kalo gitu.

Jadi disini gaada kesimpulannya, kalo coba ngarang dikit mungkin gini

“Semua hal itu beda tapi pasti ada samanya. Makanya jangan saling mencerca, biar dunia ini tetap ada”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.