Kenangan

Kenangan, satu kata yang sarat akan makna. Mengingatnya saja bisa membuat kita ada pada dimensi yang berbeda. Iya, bahkan itulah yang membuat hidup kita berharga. Namun seberapa bernilai kah sebuah kenangan? Hal itu tergantung dengan siapa kenangan itu kita rasakan, serta percakapan apa yang diobrolkan. Pun tak lupa, kejadian yang berkesan. Ah, tapi kenapa sebuah kenangan baru kita sadari berharga saat hal itu sudah tak ada dalam genggaman kita? Sebuah ironi memang, menyedihkan.

Kenangan setiap orang pasti berbeda-beda dan masing-masing punya ciri khasnya. Kenanganku tak mungkin sama denganmu, namun mungkin ada irisan yang menjadi pemersatu. Entah karena kejadian, masalah, ataupun keterlibatan yang sama, irisan tersebut dapat tercipta sehingga ada istilah kenangan bersama. Bersama siapa? Nah disitulah poin pentingnya. Bagiku, hidup ini tak akan berarti apa-apa tanpa kenangan, dan kenangan yang telah kulewati takkan bermakna tanpa kehadiran kalian, kawan. Betul, hidupku kala itu menjadi berharga karena kulalui bersama kalian. Dan sialnya, baru sekarang aku sadar bahwa betapa mahalnya harga sebuah pertemanan, eh bahkan pertemuan sekalipun.

Dulu, aku menganggap sebuah pertemuan tak lain halnya seperti rutinitas yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang, tak ada yang spesial. Bertemu dengan orang baru aku anggap hal yang wajar, bahkan melupakan orang yang dulu pernah kukenal pun aku anggap demikian. “People come and go”, ungkapan seperti itu mungkin jadi pembenaranku selama ini bahwa normal-normal saja melupakan yang sudah berlalu. Namun ternyata aku lupa satu hal, melupakan tak sesederhana itu. Karena saat melupakan, pasti ada yang dilupakan, dan dilupakan itu menyakitkan.

Tentu semua orang tak ingin dilupakan, buktinya saja manusia menciptakan kuburan. Bahkan setelah mati pun, manusia ingin terus dikenang walaupun hanya lewat batu nisan. Apalagi yang masih hidup di dunia, bukan?

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Hanafi Kusumayudha’s story.