NAMUN MASIH TPB

Sistem di ITB memang lucu, kuakui hal itu. Mengapa? Statusku sekarang kan mahasiswa S1 nih, namun masih TPB. Aku juga anggota KM ITB, namun masih TPB. Bagiku, kata “masih TPB” sangat aneh dan mengganjal, hal ini seperti pernyataan “Aku adalah seorang manusia, namun tak dianggap sebagai manusia”. Status secara legal formal diakui, namun pada realita di lapangan tidak. Sehina itukah posisi TPB di mata sistem ini? Dari perasaan itulah aku berangkat untuk mulai mempertanyakan dimana posisiku sebenarnya, sambil berharap diakuinya kesetaraan hak TPB dengan yang lainnya. Yaps, aku merasa ada perbedaan hak dan kewajiban disini, karena realitanya memang berkata demikian. Anggapan-anggapan bahwa TPB masih bocah, TPB tidak tahu apa-apa, TPB mah belajar aja sangat sering kutemukan. Awalnya kukira mereka hanya bercanda mengatakan hal itu, tapi kok lama-kelamaan hal ini seolah-olah menjadi hal yang wajar? Dan sialnya, tak ada yang sadar, bukan?

Padahal, tak selamanya yang muda itu tak bisa apa-apa. Sejarah mencatat banyak sekali peristiwa dengan pemuda yang jadi tokoh utamanya. Itu artinya, kesetaraan tak memandang usia, tingkat, dan jabatan kan? Ambil satu contoh, Alexander Agung. Diumurnya yang masih 20 tahun, ia sudah diberi tanggung jawab untuk menjadi raja Macedonia, dan hasilnya sangat menakjubkan. Ia berhasil menaklukkan Persia, memperluas wilayah kekuasaan hingga mencapai hampir separuh dunia, dan membuat Macedonia menjadi kekuatan terbesar saat itu. Bahkan kisahnya pun tersohor kemana-mana dan jadi inspirasi beberapa tokoh dunia lainnya. Masih meragukan kemampuan bocah?

HEARING TPB
Pertama kali aku mendengar bahwa ada hearing untuk TPB, timbul rasa heran di benakku. Tumben mereka memperdulikan TPB? Ada motif apa dibalik ini semua? Kata rumor yang beredar sih, TPB itu di pemira hanya dianggap sebagai lumbung massa. Loh kenapa demikian? Alasannya yaitu karena stereotip mahasiswa TPB tidak tahu apa-apa. Sehingga dari ketidaktahuan TPB, mereka lebih mudah diarahkan dan dimobilisasi. Mana ada anak TPB yang berani melawan sistem ini? Namun ironisnya, besarnya tingkat partisipasi massa TPB di pemira tidak sebanding dengan feedback yang TPB dapatkan. Karena itulah, aku coba datang ke hearing K3M TPB yang dilaksanakan pada Kamis, 17 November 2016 pukul 19.30. Di hearing tersebut, aku harap semua kegelisahanku tentang posisi TPB terjawab, satu-persatu pertanyaan tentang TPB pun mulai dilontarkan. Setiap kata tentang TPB pun tak luput dari perhatianku dengan seksama.

Bagi Kak Adit, TPB itu adalah sebuah potensi yang perlu dikembangkan dan diarahkan. Potensi tersebut bisa berupa karya, minat, semangat, dll. Diarahkan yang seperti apa? Aku pun tak mengerti, banyak sekali ketidakjelasan dalam pernyataan ini bagiku. Sedangkan bagi Kak Ardhi, TPB baginya adalah seperti adik yang perlu diberi contoh, sehingga hubungan antara massa himpunan dan TPB seperti kakak-adik. Suasana hearing selanjutnya makin seru saja setelah ada tanggapan yang mempertanyakan kesetaraan TPB. Kata mereka berdua, TPB itu setara. Karena di konsepsi subyeknya adalah semua mahasiswa S1, dalam artian tidak mengenal perbedaan tingkat. Namun dalam pernyataan Kak Ardhi, bukannya dengan menganggap kakak-adik justru malah membuat hubungannya tidak setara?

MENTERI TPB
Sesi tanya jawab berlanjut ke termin kedua. Kupikir inilah saatnya melempar pertanyaan, namun kesempatan itu pun tak kunjung datang. Kekesalan itu terobati karena ternyata banyak massa TPB yang berani bersuara, itu artinya aku tak sendiri. Namun mulai muncul ketakutan, bagaimana bila akhirnya aku tak diberi kesempatan? Padahal aku datang kesini ingin mendapat sebuah jawaban. Akhirnya muncullah reflek spontan dengan mengacungkan tangan, seraya berharap moderator menunjukku. Sang moderator menyuruhku menurunkan tangan, namun aku tak mau hingga aku diberi kesempatan. Akhirnya setelah diizinkan, kukeluarkan semua kegelisahan dan umpatan yang mengganjal. Aku protes terhadap ketidaksetaraan, aku tidak suka TPB diperlakukan seperti ini, hanya dipekerjakan layaknya buruh berupah dibawah UMR. Aku mempertanyakan keseriusan mereka berdua dalam pernyataan mereka “TPB itu setara”. Akhirnya keluarlah pertanyaan tantangan, “Apakah kalian berani mengangkat menteri dari TPB? Paling tidak untuk kementerian TPB”. Karena bagiku, kesetaraan itu harus diwujudkan dalam aksi yang nyata. Jangan sampai hanya dilidah saja.

Aku pun terkejut saat mereka berdua menanggapi pertanyaanku dengan respon yang sama, yaitu bersedia asal kapabilitasnya ada. Wow! Aku terkejut, sekaligus khawatir. Apakah jawaban mereka hanya karena reaksi spontan dari pertanyaanku untuk menjaga image di depan massa TPB? Atau mereka benar-benar akan mempertimbangkannya? Semoga saja yang kedua. Karena bagiku, yang penting TPB diberi kesempatan masuk ke dalam sistem, siapapun orangnya aku tak peduli. Paling tidak TPB disejajarkan hak dan kewajibannya. Tak berhenti sampai disitu, malam itu diakhiri dengan kesepakatan tantangan jumlah massa yang disanggupi kedua calon dalam hearing sunken. Kak Adit menyanggupi satu unit satu perwakilan ditambah 30 massa TPB, sedangkan Kak Ardhi menyanggupi 100 massa. Kupegang janji kalian ya, Kak!

Malam itu jadi malam pembuktian bahwa TPB sebenarnya ada, dan berhak untuk bersuara. Bagi teman-teman TPB lainnya, jangan takut untuk mencoba. Hal yang salah harus dikatakan, hal yang benar harus tetap dikawal. Kalau kita ingin diakui ada, maka tunjukkanlah keberadaan kita. Gerbang kesetaraan sudah terbuka lebar, tinggal bagaimana kita sekarang mengisinya. Era kita baru saja dimulai, kawan.

Salam Pembebasan.
Hanafi Kusumayudha

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.