Sang Kekasih

Hanza B
Hanza B
Aug 22, 2017 · 2 min read

Para pecinta, selalu unik perangainya jika berhubungan dengan Sang Kekasih; ada yang menulis tentang (dan/atau) untuknya, ada yang merenung sepanjang hari demi memahaminya, ada juga yang rela mati dihukum meminum racun, demi mewariskan keindahan Sang Kekasih. Individu-individu pecinta ini berasal dari berbagai zaman dan status dan kepribadian; dari budak sampai raja, dari penyendiri, sampai si gila pesta.

Aku mau cerita tentang sebagian dari mereka. Mari kita mulai dari zaman kuna, waktu kuil Apollo masih berdiri tegak. Seorang tua buruk rupa berjalan-jalan di pasar-pasar Athena, mengajak para pemuda bicara. Ia mengklaim bahwa ia orang yang paling pantas jadi pendamping Sang Kekasih, karena ia tahu satu hal; yaitu bahwa ia tidak tahu apa-apa. Lama kelamaan penduduk merasa jengkel dengan omong kosongnya dan menuduhnya meracuni pikiran pemuda kota. Ia diberi dua pilihan; tinggalkan kota atau tinggalkan dunia. Dia memilih pilihan kedua. Murid-muridnya yang setia, termasuk juga seorang anak pejabat berdada bidang yang kelak banyak menulis tentangnya dan pikiran-pikirannya, bersikeras membela dalam pledoinya. Gagal. Si orang tua dengan satria meminum racun. Nyawanya meninggalkan dunia, dan meninggalkan sesuatu di dunia: Kekasih yang ia bela.

Si murid berdada bidang tadi, mengikuti jejak si guru dalam meniti cinta terhadap Sang Kekasih. Ia membangun Akademi; sebuah istana di mana orang-orang bisa bebas berkumpul untuk memupuk cinta terhadap pesona Sang Kekasih. Si murid berdada bidang punya murid lagi. Salah satu yang cemerlang, yang sedikit banyak tak setuju pada cara-caranya menginterpretasikan Sang Kekasih, memilih jalannya sendiri.

Di zaman yang berbeda, seorang mantan prajurit dengan selera tidur yang tidak biasa, seorang pemimpi, terbangun dari mimpinya yang paling heboh. Dia kemudian bersumpah akan jadi pangerannya Sang Kekasih. Bahwa ia akan mendirikan jalan cintanya sendiri. Maka atas usahanya, jadilah ia Sang Pangeran yang mampu meminang Sang Kekasih, selama beberapa (ratus) tahun.

Lalu datanglah para pecinta baru yang mengkritik Sang Pangeran. “Tidak! Bukan begitu caramu menemukan kesejatian Sang Kekasih. Ia nyata dan hadir hanya kalau matamu bisa menemukan matanya, hidungmu bisa mencium aromanya, dan telingamu bisa mendengar lembut suaranya. Tidak bisa Sang Kekasih kau jadikan permaisuri kalau sekedar menari-nari dalam pikiranmu”, begitulah bagaimana si Popper, Kuhn, Locke, Russel, dan dedengkotnya berkata. Sampai sekarang pun, hantu-hantu mereka tetap berdebat, merasuki para pengikutnya.

Dekat dengan masa kita, ada pecinta-pecinta yang teramat murung bosan dengan perdebatan ini. Sebenarnya tidak ada artinya memperebutkan Sang Kekasih, atau berdebat tentang bagaimana mendapat hatinya. “Hidup sendiri saja sudah tidak ada arti, jadi buat apa ngotot-ngototan soal itu”, nyinyir gengnya Nietzsche, Kierkegaard, Schopenhauer, dan Sartre sambil menghisap rokoknya dalam-dalam, atau merobek-robek kertas di dalam pondok di tengah hutan pinggir desa, sementara Camus tertawa-tawa saja di aula yang meriah.

Itu dulu. Akan terlalu banyak yang bisa aku ceritakan kalau membahas masing-masing pecinta yang memuja Sang Kekasih.

Akhirnya, coba lihat polanya. Sang Kekasih ini, ciri-ciri yang dijabarkan setiap pemujanya berbeda-beda. Mereka senantiasa berdebat tentang hakikat dirinya, ingin merengkuhnya, dan mengklaim sudah mendapatkan hatinya. Ia dipanggil dengan nama yang beragam, tapi semua bermuara ke satu nama:

Ah, aku rasa kamu sudah bisa menebak namanya.

Iya, dia dikenal dengan nama “Sophia”.

)

    Hanza B

    Written by

    Hanza B