Jatuh cinta pada lelaki Maya ? bagian : 1

Tertarik pada lawan jenis karena feednya instagramable ? wajar. Sosok apa yang kamu sukai ? Jika kamu lelaki, bagaimana dengan perempuan yang berfoto dengan tatapan sayu, kulit putih bersih bak porselen yang sering dilap, rambut melengkung disemat dibelakang telinga membentuk angka 9, leher yang jenjang, bibir tipis merah merekah, di foto Ia bergaya dengan andalannya kepala agak mendongak condong miring ke arah kanan kiri. voila jangan lupa bibir merah yang tidak mengatup sempurna dibuat sedikit menganga. Dan kaos “anti social social klub” andalan dipadankan dengan celana robek agar terkesan grunge. “Syeedep” desis kau didepan layar handphone menyala. Hatimu jadi dagdigdugser ingin rasanya menyapa sang dewi Maya yang entah ada dimana. Awalnya sekedar ingin tahu nama, tempat, berbicara basa-basi sampai mengajak obrolan lebih panjang di warung kopi. Dan tsaah mantra mantra mulai dikumandangkan “aku baru loh nemu cewek yang kayak kamu asyk gitu” “dari dulu seleraku emang yang kayak kamu begini sih” tambahmu agar rayuanmu terdengar paripurna ditelinganya.

yang kamu punya saat ini, semuanya tidak betul-betul orisinil, lahir begitu saja dikepalamu tanpa sebab. Kalau lalu kamu menolak hal itu lantas mengatakan tak ada sebabnya Selera itu dibangun

Tak ada yang spesial hari ini.

Stalking akun orang-orang dari yang terkarib sampai gak kenal banget dengan sang pemilik akun, bisa jadi hiburan. Kalau benar-benar gak ada yang sedang dicari atau sengaja buang-buang waktu.

Lama kelamaan aktivitas semacam ini jadi hambar. Ya gimana enggak ? Pola ini jadi santapan berulang. Menertawakan lelaki sok romantis, latah marx, sering menggambar kekaryaan yang vulgar katanya terimajinasi perempuan tapi mereka terjebak jaring-jaring polapikir mengobjektivikasi perempuan. Semua itu tidak lagi jadi hiburan buat saya.

Dan Cupid bermain-main dengan panahnya di layar smartphone. Syuuut panah itu menghujam dada saya, dengan halus dan seluruh permukaannya seperti bergetar. Sial legenda itu nyata ia masih hidup di zaman global begini.

Keyakinan apa yang tepat menggambarkan seseorang yang feed instagramnya menggetarkan frekuensi hatimu ? Menganggap ini semua Takdir dan senyummu merekah lantas tanpa instuksi sederet harapan serta kemungkinan terpetakan di dalam kepala ? Atau sebuah penyangkalan atas itu, aku cuma tersesat dan tak ada yang lebih meskipun eh …

Orang ini menarik juga ya …

Keyakinan saya yang kedua. Biarkan saya gambarkan mahkluk aneh ini … Tak ada gambaran jelas tubuhnya disitu (Syukurlah ia tidak narsis, sekaligus misterius). Apakah ia segemuk si penyantap babi dalam novel raden mandasia? Atau ia cukup kurus dan di dibawah hidungnya kumis membelukar seperti don Corleone ketika masih muda ? Masa bodoh masa bodoh peduli malaikat dengan bayangan itu

tulisan merah itu, lantang menentang backgroundnya foto seorang gelandangan kecil. Imaji itu tidak sekali, ada tiga berderet. Dan hey tiba-tiba jempolku agresif mengklik begitu saja catatan pribadi miliknya.

Sial, laki-laki macam inilah yang bahaya. Pintar meracik kata-kata. Seakan nikmat disantap. Tak ada cerita yang dibuat-buat agar menarik dibaca, apalagi plot-plot ganjil, semua cerita itu mengalir jujur, naif dan polos. Aku jadi teringat salah seorang penyair populis, ya aan mansyur. Roman-romannya aku mencecapi itu dalam tulisannya.

Tapi terlalu berlebihankah bila aku juga seakan-akan mencicipi pram disitu? Dihalamanmu ?

Kapan-kapan saya buatkan kamu sepiring makanan berkah semesta.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.