Rumi

Haqi Nugroho
Sep 7, 2018 · 1 min read

.. Andai dapat kuarahkan cahaya bulan menuju rusuk mu,

Takkan kutanyakan pertentangan antar gelap dan terang.

Membayangkan semesta nadir di alam masa depan,

Percakapan diantara nafas yang menertawakan anggunnya mawar merah.

Seirama malam dan prasangka ,

Pun dapat kau enyahkan, sayang.

Ingin ku haturkan sesuatu tentang,

Rasa mu dan dia,

Bagai air yang jatuh dari awan.

Raga mu diterbangkan kenirwana,

Syahdan jatuh ke bumi melebur sehancur-hancurnya.

Kau terawang cahaya begitu dekatnya,

Nestapa yang membentang di hadapmu, sedih sungguh.

Jika bukan keberadaan yang dapat menggantikan,

Semesta kebahagiaan didalam dadamu,

Niscaya tetap kan ku gubah lembah mendalawangi..

Menjadi surga para nabi.

Hati hanya butuh waktu,

Dan hanya selalu butuh waktu.

Karena kita berada diantara kata,

Yang berperasaan namun tak berperasangka,

Menilisik argumentasi, hingga diri menjauhi hati.

-Filter dan Sjiva, 7 September

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade