Rumi
.. Andai dapat kuarahkan cahaya bulan menuju rusuk mu,
Takkan kutanyakan pertentangan antar gelap dan terang.
Membayangkan semesta nadir di alam masa depan,
Percakapan diantara nafas yang menertawakan anggunnya mawar merah.
Seirama malam dan prasangka ,
Pun dapat kau enyahkan, sayang.
Ingin ku haturkan sesuatu tentang,
Rasa mu dan dia,
Bagai air yang jatuh dari awan.
Raga mu diterbangkan kenirwana,
Syahdan jatuh ke bumi melebur sehancur-hancurnya.
Kau terawang cahaya begitu dekatnya,
Nestapa yang membentang di hadapmu, sedih sungguh.
Jika bukan keberadaan yang dapat menggantikan,
Semesta kebahagiaan didalam dadamu,
Niscaya tetap kan ku gubah lembah mendalawangi..
Menjadi surga para nabi.
Hati hanya butuh waktu,
Dan hanya selalu butuh waktu.
Karena kita berada diantara kata,
Yang berperasaan namun tak berperasangka,
Menilisik argumentasi, hingga diri menjauhi hati.
-Filter dan Sjiva, 7 September

