Istirahat Sejenak

Salah satu cerpen di antologi Rimawarna: Sendawa di Antariksa

Dia sering merasa pintar tiap kali diberi kemudi wahana. Sebelum ini dia pernah mencoba hitung sendiri sudut yang diperlukan agar sistem laser bisa mendorong layar dengan benar. Sekarang dia sedang berusaha agar perkaitan wahana ke limbung berjalan sempurna.

“Lensanya kotor,” katanya.

“Makanya tadi dibilangin pakai komputer aja,” balas George. “Sok-sokan manual.”

Terdengar bunyi dari mesin seduh. Bahkan seduhan kopi lebih cepat selesai daripada perkaitan wahana, pikir George. Dia melayang ke arah buritan, memasang mulut pundi minum ke keran mesin. Pundi melembung terisi dalam sekali tekan tombol.

George kembali ke haluan sambil memasang sedotan. “Masih lama?” tanyanya sebelum minum seteguk.

“Bentar lagi. Eh tapi ini lensa mesti dibersihin, Jo.”

Hanya Joana yang memanggil George dengan sebutan Jo. Awalnya tidak apa-apa, namun pernah jadi masalah administrasi di Planet Marina Tersius karena Joana menulis Jors.

Jika ingin adil, George pun tidak yakin Joana merupakan nama asli. Dia tidak sengaja membuat gadis itu ‘ingat kembali’ ketika sering memanggil dengan sebutan Hijau, sesuai dengan warna kerudung. Ijo. Jo. Joana. Lalu gadis itu menyatakan bahwa nama aslinya memang Joana Verdance. Makin curiga George karena Verdance artinya hijau. Tapi ya sudahlah.

“Kamu yang bersihin ya Jo.”

“Bersihin sendiri lah kalau mau. Aku kan mending otomatis, enggak perlu lihat kamera.” George meneguk kopi. “Eh jangan ding, jangan kamu. Nanti kelamaan.”

Beberapa saat kemudian terdengar bunyi dari panel instrumen. Wahana orbital Ascalon pun berhasil terkait ke salah satu limbung Stasiun Nurtanio. Tampaknya Joana mengalami kemajuan. Sebelum ini, dia butuh setengah jam lebih.

“Apanya yang kelamaan?” tantang Joana. Dia menjauh dari kemudi, menggeser George dari lorong sambil menjulurkan lidah. “Aku mau mandi.”

George menggigit sedotan. “Lah dari tadi belum mandi.” Dia meraih sabak di dekat kemudi. Kedua tangannya sibuk menghitung biaya.

Untuk parkir saja, Stasiun mengukur biaya dari massa total dan lama waktu. Itu belum termasuk servis umum wahana dan pengisian bahan dorong. Limbah tidak bisa dibuang sembarangan seperti di angkasa jauh, sehingga ada biaya lagi. George menyedot pundi yang sudah hampa. Coba saja perjalanan kali ini dibiayai kantor, pikirnya. Pundi kosong dibiarkan melayang.

Dia melangsir saklar. Lipatan panel surya mulai mengembang… dan berhenti di tengah jalan. “Hidroliknya macet! Uang lagi buat bayar hidrolik…” Tanpa listrik pribadi, Ascalon mau tidak mau harus sewa listrik dari Stasiun.

George melayang ke buritan, mematikan alat-alat yang tidak diperlukan. Dia berpegangan di pintu kamar mandi. “Jangan pakai air panas,” sahutnya ke Joana. “Panel surya kita enggak mau kebuka.”

“Iya, Mama…”

Rasanya lebih baik George benar-benar jadi mama Joana. Mengurus anak itu susah, apalagi tanpa wewenang hukum. Periangan, pikir George, tentang nama bulan dari planet Wallacea Prime yang mungkin bisa mengurus pergantian akte lahir tanpa melihat jenis kelamin.

George kembali ke kemudi untuk memesan listrik. Stasiun menyanggupi. George menekan beberapa tombol agar listrik terhubung. Berhasil. Dia kembali menjumlahkan biaya.

Saat mematikan alat-alat tadi, dia juga mematikan kedua kriostasis. Data dari hibernasi mereka berdua sudah dipindahkan ke disk, siap dikirim lewat kantor pos Stasiun. Yayasan Sint Brigidia memang membayar untuk data hibernasi bagi awak wahana. Tidak seberapa, namun uang saku jenis apapun akan senang diterima George.

Berisik dari arah buritan pasti karena Joana selesai mandi. George berpaling. “Jo, handuk-handuk kotornya dibawa. Biar dicuciin di penatu.”

“Bantuin sini masukin tas.”

Selesai memasukkan, George mengikat pedang dan sarungnya di pinggang. Joana masih kesulitan memakai sepatu. Ketika George siap buka pintu palka, Joana baru menyematkan bros raksa di kerudung hijaunya. Keluar ke dermaga, Joana sibuk merapikan poni yang melayang-layang, menyesal lupa ambil jepit rambut. Sampai di gerbang Sektor 3 barulah Joana benar-benar siap.

“Jangan jauh-jauh ya,” awas George, “susah kalau hilang kayak pas kita di Sistan.”

Lift yang mereka tunggu pun datang. George dan Joana mulai turun, masuk ke Sektor 3 Stasiun Nurtanio. Agak pusing karena turun sambil berputar, dan gerakan tangan dan kaki lumayan terpengaruh gaya Coriolis. Tidak ada manusia yang akan terbiasa dengan itu. Untungnya pusing tersebut hanya berlangsung sebentar.

Dari dasar terlihat lantai yang melengkung ke atas, hilang tertutup atap. Ratusan, mungkin mendekati ribuan orang lalu-lalang di sini. Berbagai toko, kedai, fasilitas dipenuhi beragam jiwa.

“Radius mendekati 900 meter. Berputar penuh sekali semenit. Aku cinta gravitasi buatan,” kata Joana. Kini poninya sudah jinak.

“Sentrifugasi, bukan gravitasi. Hasil akhirnya sama sih.” George menurunkan tangan dari pinggang. “Ayo ke kantor pos dulu.”

Tiap tahun pelancong yang transit di stasiun ini berubah-ubah. Terakhir kali George ke sini, kira-kira 7 tahun lalu, banyak kaum biawak dari bangsa yang menutup mata. Sekarang di mana-mana ada kaum unggas berjambul putih. Manusia masih sama jumlahnya, hanya saja terlihat lebih sedikit bangsa Candrasa. Ada banyak gadis berkerudung kali ini.

George mendengar dua gadis berkerudung bicara saat mereka melewati air mancur. “Kamu ngerti bahasanya?” tanya George ke Joana.

“Oh jadi karena sama-sama pakai kerudung, kamu anggap semuanya berkebangsaan sama, gitu? Rasis ya.”

“Kok rasis sih. Kerudung kan busana. Harusnya… busanais? Fesyenis? Hm…”

Suara dua gadis itu sudah tertelan kesibukan sekitar. Joana membalas, “Kayaknya mereka pakai bahasa Sahul. Entah deh. Aku kan dari Yerusalam.”

“Iya, menurut akte yang kamu punya pas kita di Marina Tersius. Belum tentu benar. Kamu kan hilang ingatan, kayak pemeran utama cerita petualangan.”

Di samping taman batu George berhenti. “Loh, penatunya udah pindah ke sini. Jo, cuci dulu aja.”

Tidak terlalu ramai di dalam. Ada tiga ekor tripod berbaju angkasa, sekeluarga kaum nasika lengkap dengan masker, dan beberapa manusia.

Tagihan cucian berhasil masuk ke rekening George. Semua handuk kotor Joana masukkan ke mesin, kemudian dia beli sekaleng Comet-Cola. Salah seorang manusia Candrasa mengajak George bicara sementara Joana masih di luar. Manusia tersebut menggenggam sekaleng Pepstar.

Joana belum pernah meminum Pepstar. Selama perjalanannya bersama George, hanya di stasiun ini Joana bisa melihat minuman ringan Pepstar. Kabarnya seluruh galaksi terbagi dua: lengan yang didominasi Comet-Cola, dan lengan yang didominasi Pepstar. Semoga petualangan selanjutnya membawa Joana ke planet-planet pangsa pasar Pepstar.

Mereka kembali berjalan menuju kantor pos setelah semua handuk sudah kering. Kaleng Comet-Cola sudah Joana buang ke tempat sampah khusus Comet-Cola, tepat di seberang tempat sampah khusus Pepstar. Sambil membenarkan selempang tas, Joana bertanya, “Jadi beneran kamu itu orang Candrasa.”

“Aku kan ke mana-mana bawa pedang. Masak enggak bisa simpulin sendiri?”

“Ya kali aja ada budaya lain yang mirip.” Tangan Joana iseng menyentuh daun jeruk di pinggir jalan. “Berarti kamu asalnya dari… Singagraha?”

“Oh jauh. Aku dari Diospolis. Suriah III. Sistem Nergal.”

Kantor pos ramai sekali. Mereka berdua perlu mengantre hampir 15 menit sebelum akhirnya bisa dilayani. George langsung mengirim data ke Yayasan, lalu meminta akses surel. Joana ikut George ke bilik baca.

Selasar di antara bilik-bilik tersebut lebih ramai dari lobby kantor pos. Lebih dari 5 menit mereka baru dapat bilik kosong. Joana mengibas isi bilik yang penuh kabut, sudah pasti sebelumnya ditempati seorang nasika.

“Mau tebak apa reaksi keluargaku habis waktu itu kita balas surelnya di Situ Cemerlang?”

Joana menyengir. “Buat segelas es krim: mereka pasti suruh kita nikah.”

“Dua es krim: ditawarin calon yang lebih cantik dari kamu.”

“Oh jadi gitu? Oke. Cukup tahu.”

Surel yang masuk ada banyak. Sebagian besar ucapan ulang tahun yang diulang sampai tujuh kali. Beberapa dari keluarga sepertinya menandakan bahwa Joana menang taruhan. Namun ada satu yang menarik perhatian.

Surel dari Garda Diokletianus. Isinya tentang uji kenaikan pangkat yang merupakan sayembara dari Wali Planet Lasia. Planet yang merupakan pangsa pasar Pepstar. Sang Wali meminta kepada semua satria kelana dalam jarak 20 parsec untuk menuntaskan sumber wabah.

Joana ikut bingung. Tidak biasanya masalah wabah diserahkan ke satria. Kelanjutan surel tersebut menyebutkan bahwa wabah yang ada kemungkinan besar berasal dari naga.

George menatap Joana. Joana melirik George.

“Naga,” katanya.

“Naga,” angguk George.

Sang satria dan si kerudung hijau menghabiskan lima gelas es krim sebelum bersiap untuk petualangan selanjutnya.